SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Perayaan HUT ke-55 PT Semen Tonasa mencoreng nama perusahaan semen terbesar di Indonesia Timur tersebut.
Pasalnya, sejumlah pedagang kecil (UMKM) yang ikut berpartisipasi pada acara gerak jalan santai serangkaian ulang tahun perusahaaan itu, Sabtu (28/10/2023) lalu, diduga panitia memungut bayaran.
Pungutaan itu bervariasi mulai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu setiap pedagang, tergantung ukuran yang ditempati pedagang.
Total pedagang dari warga sekitar pabrik yang ikut berpartisipasi mencapai 120 tenant.
Ironisnya, pedagang mengaku tidak mendapat fasilitas apa pun dari panitia. Mereka hanya menempati areal parkir yang selama ini digunakan karyawan.
Mereka hanya berdagang efektif tiga jam selama kegiatan berlangsung. Keuntungan juga diakui pedagang sangat tipis.
“Itu pun kalau ada bisa untung. Kalau hanya jualan minuman dan makanan, sangat sulit sekali,” ungkap seorang pedagang, Sinar.
Sinar adalah salah seorang dari seratusan pedagang kecil yang bermukim di ring satu PT Semen Tonasa.
Seharusnya, mereka ikut berpartisipasi untuk meluapkan kegembiraan pada ulang tahun Semen Tonasa. Namun, bukan luapan kegembiraan yang ditemukan, justru keluhan yang lebih dominan karena adanya beban pungutan yang selama ini tidak pernah dilakukan perusahaan semen berkantor di Biringere tersebut.
Sinar harus membayar Rp200 ribu kepada pengelola kegiatan Kerukunan Istri Karyawan Semen Tonasa (KIKST). Selain cash, sebagian harus mentransfer pembayaran kepada oknum ibu PS.
“Suami saya langsung transfer, pak. Karena saya tidak bisa menjual sebelum membayar,” papar Sinar.
Sinar yang mencoba menjual makanan coto mengaku rugi ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut.
“Saya hanya capek, dapat omzet Rp200 ribu, belum lagi harus bayar dan bawa tenda sendiri,” keluhnya.
Sedangkan, tempat yang strategis dan beratap ditempati pedagang dadakan dari istri karyawan.
“Jadi mereka lebih enak dan apakah mereka ikut membayar? Entah,” ketusnya.
Buntung yang sama juga didapat Mersi. Staf Kelurahan Bontoa ini mencoba mencari rezeki dengan berjualan kapurung – makanan tradisional asal Luwu– di acara jalan santai Semen Tonasa justru hanya mendapat capek.
“Bagaimana tidak, modal saya Rp800 ribu, untung Rp200 ribu, eh hanya untuk membayar administrasi Rp200 ribu. Apa yang bisa saya dapat,” keluhnya.
Sementara, warga lainnya Mustafa harus mengurungkan niatnya untuk berjualan di ulang tahun ke-55 PT Semen Tonasa.
Selain pembayaran yang mahal, menjual minuman dalam waktu sekejap itu juga tak mungkin bisa untung. Apalagi, banyak penjual dari internal keluarga karyawan Semen Tonasa.
“Saya batalkan jualan Pak, padahal rumah saya berdampingan dengan pabrik, tempat para pengusaha memarkir mobil truk menunggu antrean untuk angkutan. Saya hanya menikmati kebisingan dan debu saja setiap hari. Mestinya perusahaan sebesar Tonasa harus mengerti dengan kondisi warga sekitar,” pungkas dia.
Terkait hal itu, pihak Semen Tonasa akhirnya memberikan klarifikasi perihal pungutan terhadap pelaku UMKM pada pelaksanaan jalan santai.
Berikut klarifikasi PT Semen Tonasa yang diterima redaksi media ini:
Dua kategori tenant dalam acara Fun Walk Semen Tonasa. Aktivitas UMKM di luar area panggung utama, seluruhnya tidak berbayar (free), namun tidak disediakan fasilitas apapun dan lokasi ditentukan karena dikhawatirkan akan mengganggu lalu lintas.
Aktivitas UMKM di dalam area panggung utama, terbagi dua, yaitu disediakan tenda untuk UMKM Ring 1 sebanyak 11 tenant, ditambah 2 tenant untuk BUMDes seluruhnya gratis (free). UMKM atau pedagang umum dengan menggunakan tenant berbayar sesuai kesepakatan dan sudah diumumkan dalam flyer.
Dalam kegiatan social fest yang dilaksanakan selama 5 hari berturut-turut terdapat 175 tenant UMKM dan diberikan fasilitas secara gratis (tidak berbayar), plus pedagang asongan yang diakomodir dalam lokasi social fest. (**)


Tinggalkan Balasan