SimpulRakyat.co.id – Sharing Session II yang mempertemukan jurnalis, dan wakil organisasi wartawan berlangsung di Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dengan menghadirkan jurnalis senior Albert Kuhon. Pengalamannya dalam dunia liputan yang begitu ‘berwarna’ membuat peserta menerima banyak kisah tentang kehidupan wartawan pada era yang tentu saja berbeda. Bang Uho, panggilan akrab Albert Kuhon, memang bukan jurnalis biasa, petualangannya yang mendunia menjadi pencerah bagi kami semua yang hadir.
Saya diundang sebagai Observer (pengamat) sesi kedua bersama sejumlah wakil dari organisasi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tentu saja pers. Ini kali pertama saya ikut dihadirkan sebagai pengamat, duduk diam dan mendengarkan juga menyaksikan bagaimana Bang Uho, mengolah forum pelatihannya. Sangat kreatif, dan tentu saja ‘renyah’. Betapa tidak, mendengarkan petualangannya keluar masuk Gedung Putih, mewawancarai Presiden Amerika Serikat (AS), mewawancarai Perdana Menteri India, hingga meliput demonstrasi besar mahasiswa di Korea Selatan yang rusuh.
Di sesi penutupan saya diminta naik menerima buku karya Bang Uho, berjudul; “Jurnalisme Investigatif” adalah kehormatan. Menghargai sebuah karya yang ditulis oleh ‘pakar’ saya menyebutkan Bang Uho, pakar karena hal-hal yang tidak dapat kami lewati semasa menjadi wartawan hampir semua dilewatinya. Terpenting dari itu, Bang Uho, menunjukkan dedikasinya yang begitu kuat pada dunia media. Memimpin sesi sharing dari jam 10 pagi, hingga jam 5 sore tanpa duduk, di usia 60-an energi berdiskusi dan memimpin forum pelatihan sepertinya patut dicontoh. Tentu saja dengan trik menghidupkan forum dengan berbagai joke yang menghibur.
Pengalamannya semasa menjadi wartawan Koran Kompas, membuatnya sangat tajam dalam nalar investigasi. Pada pengantar buku yang saya terima, tertera kalimat “Buku ini menyumbangkan keahlian yang lebih bagi Ornop dan LSM, demikian tulis Greg Rooney, Pact Indonesia Country Representative. Bang Uho, bersama rekannya Satrio Arismunandar, Saur Hutabarat, dan Iskandar Siahaan, menyusun dan meyelesaikan penerbitan buku ini. Perjalanan bus malam sejauh 219 kilo dari Makassar, memang cukup melelahkan, tetapi bertemu komunitas wartawan dari JOIN, PWI, IWO, dan SMSI menjadi penghilang rasa lelah.
Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalis Online Indonesia).


Tinggalkan Balasan