Thomas Jehaman: Kalau saya hanya anak yang tamatan sekolah dasar setidaknya anak saya bisa lebih dari saya
SimpulRakyat.co.id – Dibawa rumah kecil yang berukuran 6 x7 luasnya terdengar ungkapan hati dari seorang bapak yang dengan semangat menceritakan kisah hidupnya dengan suasana makan siang sekitar pukul 12:30 wita, Kamis (7/04/2023).
Setiap cerita yang didengar sudah pasti mengandung bawang karena sudah bisa diraskan sekali penderitaan masa lalu untuk bisa melangkah maju untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan pantas.
Thomas adalah seorang anak piatu, dia lahir di Desa Pingggang, 18 Juli 1964. Ibunya sudah meninggal waktu dia masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, semenjak itulah Thomas ini tidak bisa melanjutkan pendidikannya dan memberanikan diri untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab membiayai sekolah dari adik-adiknya yang masih kecil.
Dengan kehening dan diselimut oleh cuaca panasnya Reok, Thomas menceritakannya secara detail apa yang menjadi titik terberat dari kehidupannya saat itu, di situ kita bisa merasakan sekali pahitnya hidup yang dialami saat beliau masih muda,dari berjualan daging babi keliling kota ruteng hingga memberanikan diri untuk bisa keluar dari zona nyaman dan pergi mencari pengalama baru di Reok kecamatan kecil paling utara dari Ruteng.
Thomas ini adalah salah satu dari sebagian orang tua yang berjuang untuk menafkahi keluarganya dengan bekerja sebagai kuli banguan yang tak perna mengeluh meskipun raganya tak muda lagi.
Topi hitam dengan baju merah oblong, celana panjang yang menutupi kakinya dari teriknya matahari yang menyengat memberi tanda semangat yang berkobar yang dimiliki oleh beliau dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya itu.
Meskipun demikian,beliau tak perna putus asa dalam pekerjaan itu walupun banyaknya saingan dalam pekerjaanya itu, karena beliau percaya bahwa rejeki sudah diatur oleh sang kuasa.
“Sesampainya di Reo, bapak juga pernah kerja jadi Satpam di kantor pengadilan tapi tidak bertahan lama mungkin karna bukan jalan dari Tuhan,” ujar dia saat membela diri dari pertanyan. “Kenapa’” dari anak-anaknya itu. Dan pada akhirnya jalan hidup yang dipilih yaitu menjadi kulih bangungan yang harus melawan teriknya matahari dan berpanas panasan dengan pendapatan yang kecil dan meninggalkan pekerjan yang tedu dalam ruangan tertutup.
Walaupuan dengan penghasilan yang sedikit dengan pekerjaan yang jarang orang panggil untuk bekerja membangun rumah atau semacam itu.
Saat melihat ketabaahan dalam menyekolahkan kelima anaknya itu, bukan soal keberuntungan yang dimiliki oleh dia dalam membiayai sekolah tapi bagaimana sosok seorang ayah yang bertanggung jawab untuk masa depan dan kebahagiaan dari anak-anaknya.
Anak pertamanya telah menyelesaikan studi D3 keperawatan dan sekarang bekerja di Puskesmas Reok.
Anak kedua sudah juga menyelesaikan studi S1 keguruan matematika dan sekarang mengajar di Kabupaten Manggari Timur.
Anak ketiga sudah juga menyelesaikan studi S1 keguruan matematika dan mengajar di SMK Reok.
Sementara anak keempat sedang menyusun skripsi dan mengambil jurusan teknik sipil di kupang,sedangkan anak kelima sedang semester 2 dan tengah bergelut untuk mempertahankan beasiswanya di Unika Ruteng.
“Kalau bapal hanya tamat SD, setidaknya kamu sedikit yang bisa lebih dari bapak,” ujar dia dengan suara yang sedikit pelan dengan tatapan yang begitu tajam mengharapkan anak-anaknya bisa sekolah dengan baik.
Saat proses perjuangan, Tuhan dengan baiknya memberikan seorang istri yang selalu mendukung dan mau berjuang bersama-sama. Tidak romantis tapi setiap waktu yang dijalani bersama itu sudah bisa menjadikan cerita yang romantis tanpa drama meninggalkan satu terhadap yang lain.
Di umur yang tak muda lagi beliau ini sudah berhasil mendidik anak-anak itu dan membesarkan nya dengan tangannya sendiri.
Belajar untuk menjadi seorang yang sederhana dan bersyukur disetiap proses kehidupan, karena semuanya itu bisa dilakukan dengan ketabahan hati.
Oleh: Amelia Viilani Jehaman
Mahasiswa PBSI 2022 B FKIP Universitas Katholik santo Paulus Ruteng


Tinggalkan Balasan