SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Lembaga Badik Celebes (LBC) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) bersama Komando Distrik Militer (Kodim) 1421/Pangkep gelar pameran pusaka dan pencucian pusaka (Mattompang), dalam rangka peringatan hari lahir Pancasila, di Baruga Bela Negara Kodim 1421/Pangkep, dekat monumen Bambu Runcing, Sabtu malam (4/6/2022).
Kegiatan ini dihadiri Komandan Distrik Militer 1421/Pangkep Letkol Inf Hengky Vantriardo, Ketua Badik Celebes Kabupaten Pangkep Ir Djajang Andi Abbas, Kapolres Pangkep AKBP Try Handako Wijaya Putra, Danramil 1421-02/Mimasatene Kapten Inf M Nawir, Ketua DPC Badik Celebes Maros Ahmad Hatta, Ketua DPC Badik Celebes Pangkep Muarif Aso dan ratusan orang dari Komunitas LBC Makassar, Parepare, Maros, Gowa, Barru, serta Pangkep.
Dandim 1421/Pangkep Letkol Inf Hengky Vantriardo mendapat kehormatan untuk ikut pada ritual Mattompang yang dipimpin langsung Ketua Badik Celebes Ir Djajang Andi Abbas.
“Ritual Mattompang diawali dengan ekstra hati-hati dengan cara meneteskan air jeruk dan membasahi permukaan bilah pusaka, kemudian mengusapkan secara berulang kali hingga bersih. Jeruk yang digunakan dalam proses Mattompang adalah jeruk nipis,” terang Djajang Andi Abbas.
Sementara itu, salah satu pendiri Lembaga Badik Celebes, Muh Risal Dg Malanre menyampaikan, jika ritual Mattompang selain membersihkan karat pusaka, juga mensucikan hati sipencuci dan bentuk penghargaan terhadap leluhur sang penempah.
“Ritual mattompang atau pencucian pusaka, selain membersihkan karat itu juga mensucikan hati sipencuci serta bentuk penghargaan terhadap leluhur sang penempah yang istilahnya ‘Matte’du Arajang’, ini dilakukan sebelum ritual Mattompang, Mattompang juga sebagai silaturrahmi sesama pecinta dan pemerhati budaya,” ujarnya.
Lanjut dikatakan, manfaat Mattompang adalah bilah pusaka lebih terawat dan tahan lama, memunculkan nilai estetika dan sebagai media silaturrahmi dalam komunitas. Penggunaan dupa juga dihadirkan pada proses Mattompang yang merupakan bagian dari proses pemanasan (I Rellang) agar permukaan bilah benar-benar kering, sehingga tidak cepat berkarat setelah ditompang.
“Tradisi Mattompang dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur, sekaligus sebagai perekat dalam rumpun keluarga pemilik pusaka yang ditompang,” pungkasnya.
Reporter: Faried
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan