SimpulRakyat.co.id – Kabar duka datang pagi ini, Sabtu, 26 Februari 2022. Prof Dadang Ahmad Suryamiharja, guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas), yang juga Ketua Senat Akademik Unhas meninggal dunia. Prof. Dadang, begitu beliau akrab disapa. Pesan di jaringan WhatsApp saya menuliskan kalimat inspiratif tentang almarhum, yang pada intinya almarhum seorang penolong bagi mahasiswa di Unhas. Perjuangannya menyelamatkan mahasiswa dari pemutusan masa studi atau ‘Drop Out’ (DO) memiliki cerita tersendiri.

Prof. Dadang, tidak saya kenal secara mendalam, pertemuan saya dengan almarhum lebih banyak karena berpapasan atau tidak disengaja. Berkawan sangat akrab dengan Bang Haji Mamat, senior saya semasa kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unhas. Dari Bang Mamat, cerita tentang kebaikan hati almarhum saya dengarkan. Mereka konon berkawan sejak dari Kampus Unhas Baraya, saat Bang Mamat masih di Fakultas Non Gelas Ilmu Sosial (Fanogis).

Saya menduga almarhum menjadi sangat peduli pada nasib mahasiswa karena cerita mereka sejak bermain di lembaga kemahasiswaan yang tentu saja punya cerita suka duka, sebagai anak-anak kuliah yang jauh dari keluarga dan orangtua. Rasa kepedulian pada nasib mahasiswa membuatnya kerap berjuang mempertahankan agar mahasiswa Unhas tidak sampai DO. Cerita rasa kemanusiaan yang pada era kekinian dianggap barang langka, tetapi kolega almarhum sesama profesor di Unhas, mengakuinya sebagai ‘Kemuliaan hati seorang guru.’

Saya bertahun tak pernah lagi berjumpa, bahkan saat beliau menjadi pejabat di Rektorat Unhas. Tetapi saya disergap rasa sedih, entah karena manusia-manusia berhati mulia seperti almarhum kian langka, ataukah memang kebaikan hatinya yang menyentuh rasa kemanusiaan itu sontak mencuat saat waktunya Maha Pencipta ‘memanggil’. Profesor Dadang, sang penolong mahasiswa itu telah pergi untuk selama-lamanya. Kebaikan hatinya pada mahasiswa akan terus dikenang, “Ia tak pernah mati di hati orang-orang yang pernah ditolongnya.”

Kita kembali kehilangan guru kehidupan, pengajar kemanusiaan, penolong yang ikhlas, sepekan sebelumnya H.T. Amrullah, dosen senior di Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Unhas, juga berpulang. Kedua guru ini adalah sosok yang bersahaja, berbudi baik, sederhana, rendah hati, dan menjadi tempat mahasiswa bisa bicara. Semoga Allah SWT menerangi alam kubur keduanya, dari kiriman doa anak-anak yang pernah ditolongnya tanpa pamrih.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat JOIN Nasional)