SimpulRakyat.co.id, ESAI – Pelatihan bagi setiap instruktur, memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Bagi saya, kesulitan yang paling utama, bukanlah menyampaikan materi, melainkan menghidupkan suasana, agar peserta yang berjumlah puluhan orang, apatahlagi dengan berbagai latar belakang profesi yang berbeda, bisa tetap bersemangat, fokus dan mampu memahami pesan yang saya sampaikan, terutama saat usai makan siang dan kopi penghilang kantuk belum juga tersedia.

Hal itu menyebabkan setiap instruktur wajib lulus (bersertifikat) untuk metodologi, atau metode pelatihan yang diterbitkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan wajib diperbarui sesuai masa berlaku sertifikat.

Sejak tahun 2018 Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Nasional, telah menggelar 32 angkatan pelatihan, dengan jumlah lulusan mencapai 1.472 orang dari kurang lebih 2000 pendaftar. Sayangnya pendiri Pusdiklat almarhum Rifai Managkasi, tak lagi dapat menyaksikannya.

Tahun 2018-2019 tercatat 12 angkatan, 2020 terlaksana 6 angkatan, dan, 14 angkatan pada 2021. Tradisi pelantikan pengurus JOIN yang sudah berlangsung di 15 kabupaten/kota di Sulsel, dirangkaikan dengan pelatihan yang menjadi ajang uji keterampilan teknis dasar kewartawanan.

Adapun pelatihan jurnalistik yang bersifat umum, sebagai kebutuhan mitra, di antaranya jajaran pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, instansi vertikal, TNI dan Polri, guru, mahasiswa, dilaksanakan sebagai bagian dari kemitraan yang menunjang kerja anggota JOIN.

Ini periode pertama Pusdiklat JOIN Nasional yang diamanahkan kepada saya, masih banyak tugas yang belum dapat terlaksana dengan baik. Terutama sejak pertengahan periode, yakni awal 2020 ancaman pandemi Covid-19 menyebabkan hampir semua jadwal pelatihan mengalami penundaan.

Memasuki tahun 2021 Pusdiklat kembali melaksanakan pelatihan baik internal wartawan maupun kemitraan dengan institusi non media. Untuk membangun pemahaman kerja jurnalistik yang menempatkan mitra sejajar dengan media dan wartawan.

Hari saya kembali menyaksikan wajah-wajah gembira peserta pelatihan angkatan ke-32 yang mempertemukan banyak peserta dari berbagai bidang profesi, aparat TNI dan Polri, staf Desa, Humas perusahaan, dan wartawan. Mereka menyatu tanpa batas, membangun kekompakan tim dalam kemasan metode pelatihan yang segar.

Materi untuk pelatihan ini dikemas sesuai kebutuhan dasar umum, bukan menjadikan mereka wartawan. Tentu tidak mudah karena setiap peserta memiliki latar yang berbeda juga sedikit yang saling mengenal.

Media yang baik adalah yang menjalankan fungsinya bagi masyarakat, yakni mencerdaskan. Media yang ideal adalah yang bisa hidup bersama masyarakat dalam iklim geografis Indonesia yang penuh bencana, media yang dinanti masyarakat adalah yang mampu menjelaskan hasil riset ilmiah di perguruan tinggi.

Media yang ideal adalah yang bisa menjadi penentu arah bagi pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsi negara. Untuk itulah kebersamaan penting artinya, bukan perasaan nisbi akan kehebatan semu, pada diri dan lembaga, sehingga peran yang lain menjadi tidak dihargai.

Pelatihan angkatan ke-32 menjadi penutup di tahun 2021. Tugas kita belum selesai, “Hanya orang sombong yang berkeyakinan kepintarannya bisa mendominasi segala.”

Hanya lembaga yang tak punya kekuatan untuk melayani masyarakat, yang senantiasa merasa puas akan apa yang telah dicapainya.

Untuk menjawab itu semua kita harus terus berbuat dan berbagi, dengannya Pusdiklat JOIN Nasional, membuka seluas mungkin kerja kebersamaan kita semua di tahun 2022. Salam Indonesia Raya.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat JOIN Nasional)