SimpulRakyat.co.id, ESAI – Membaca kembali tulisan Bung Tomi Lebang yang akrab disapa ‘Tole’ saya berucap Alhamdulillah.
Tulisan itu seakan membawa saya bertualang dan kembali dari perjalanan waktu panjang, bertemu tukang catat sejarah keluarga Romawi dan Mesir kuno, membayangkan Cleopatra melintas di depanku, dalam kereta kudanya.
Dia memang terbayang manis, seperti dalam detail tulisan Bung Tole, membaca ceritanya membuat saya merasakan hidupnya lebih manis dari sisa kopi Toraja, pemberian Bonnie Freedom Pangandaran, yang kuhirup pagi ini.
Cleopatra, tulisan yang dibuat Bung Tole, 19 Desember 2014 silam, pada dinding facebooknya.
Uraiannya begitu detail, semisal investigasi seorang wartawan senior pada sisi gelap kehidupan sumber yang diintainya.
Kata wartawan senior Kompas, Pepih Nugraha (Kang Pepih), tulisan hanya mungkin terbangun jika seseorang memiliki kemauan dan kekuatan untuk menyelesaikannya, pada kedua wartawan atau mantan wartawan yang energik itu, pelajaran tentang pentingnya ‘kemauan’ menulis patut dipelajari, dan Zainal Siko adalah contohnya lain kekuatan ide.
Inspirasi menulis memang bisa dipelajari, ditiru dan dicontoh. Gurunya bisa siapa saja, hanya kerapkali kita mendapati dalam diri tersimpan ketidakpedulian, kemalasan dan ketidakseriusan untuk memulainya, juga menuntaskannya.
Dinding Facebook yang sebentar lagi konon akan berganti nama menjadi Meta, adalah ‘diary’ dan trik paling baik dalam menyimpan arsip tulisan adalah dinding Facebook.
Kebaikan hati manajemen media sosial ini, bisa kita lihat dari cara mereka mengajari kita semua tentang etika, mana yang pantas dan mana yang mesti disortir.
Menulis dan mengarsipkan tulisan membuat saya bisa melahirkan dua buku, yang terakhir sedang saya siapkan adalah “Jurnalis Facebook” buku yang sedang dalam proses edit, sebentar lagi akan terbit, saya memilih Januari 2022 sebagai waktu peluncuran buku itu. Kembali ke tradisi menulis, hampir semua forum pelatihan yang saya hadiri sebagai pemateri kekuatan energi menulis terus saya tiupkan.
“Belajarlah pada mereka yang rajin menulis dan jangan pernah belajar pada mereka yang kerap mencemooh tulisan orang lain.”
Jangan cemas dengan kritik orang akan tulisan kita yang dinilai dangkal. Karena dinding medsos bukan ruang kuliah doktor.
Jangan takut pada sorotan orang bahwa tulisan kita tak berbobot, karena sudut pandang kita pada kata bobot tentu berbeda.
Jangan sedih karena isunya dinilai tak menarik, karena isu di kepala setiap orang pasti berbeda.
Sebagaimana tulisan sering dimaknai sebagai ‘hidangan’ selera pembaca akan menyeleksi dengan alamiah apa yang ingin dimakannya. Kita hanya perlu menghidangkan.
Cleopatra adalah simbol kecantikan dunia, dari Bung Tole kita bisa meraba dan menghayalkan masa lalu perempuan yang penuh innerbeauty itu. Dari tulisan Wan Puthe kita bisa belajar tentang menelisik sisi dalam manusia.
Dari tulisan Kang Pepih, kita bisa menangkap satire, dari uraian Idris Mohammad kita bisa belajar makna perilaku, dan dari tulisan Suwardi Thahir kita bisa belajar tentang merawat spirit profesi, serta dari Supa Athana kita belajar tentang spirit religi dan budaya. Tetapi dari Facebook kita bisa belajar tentang ‘menghargai pikiran’ orang lain. Selamat berakhir pekan.
Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat JOIN)
SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.


Tinggalkan Balasan