SimpulRakyat.co.id, ESAI – Setidaknya ada dua pertanyaan pokok yang akan kita hadapi selama kita membaca serangkaian pemikiran filsuf-filsuf besar tentang manusia ini.
Pertama; apakah hidup kita masih bermakna? dan Kedua; jika masih bermakna, makna yang bagaimana?. Dua pertanyaan itu timbul dari kegelisahan eksistensial masa kini ketika kita dikejar-kejar oleh bayang-bayang hari esok. Begitu catatan dibalik buku ini.
Dr PA van der Weij, menuliskan manusia pemikir bernama Plato di bagian 3 dengan judul: “Ajaran Plato Tentang Ide.” Selanjutnya mengurai 21 pemikir filsafat yang dikenang dunia, Aristoteles hingga Teilhard de Chardin, dan hari ini kita masih juga terus memakainya dalam tradisi akademik di sekolah dan kampus-kampus. K Bertens, menerjemahkan tulisan Van der Weij, dengan penuh ketelitian, sehingga memudahkan pembaca ‘hanyut’ disetiap lekuk-lekukan pemikirannya yang panjang dan mengalir.
Diterbitkan pertama kali dalam edisi Indonesia, saat saya masih agak plontos karena baru saja menjadi mahasiswa di era 1988. Karena laku keras, tahun 1991 kembali dicetak. Laris manis, buku ini hilang dari pasaran, sampai penerbit Kanisius Yogyakarta, berinisiatif mencetak kembali secara maraton pada 2001, 2002 dan 2003.
Saya percaya kenapa begitu cepat hilang dari pasaran, karena buku ini penting bagi mereka yang punya minat pada ilmu, keilmuan dan kedalamnya yang tak terukur. Bahkan oleh penulisnya disebutkan dirinya “berhenti di ambang pintu wahyu, keimanan dan teologi.”
Banyak filsuf dan sastrawan modern, zaman kita sekarang ini ditandai oleh keadaan terancam, terasing, jenuh dan tanpa arti. Banyak tulisan modern sarat dengan absurditas, kebosanan, kemuakan dan ketidakartian. Bagaimana timbulnya semua perasaan muram ini?
Jelas bagi kita karena dua kali perang dunia yang disertai kekerasan, kebencian, ketidakmanusiawian, yang menyebabkan berjuta korban jatuh, manusia kehilangan nyawa, pengungsi dan orang kehilangan tempat tinggal. Belum lama usia dunia kembali mencekam oleh perang dingin, yang memicu perlombaan senjata, efeknya membuat frustrasi hingga saat ini.
Kembali pada makna hidup, bagaimana seseorang memberi nilai pada semua yang dialaminya, jawabannya sebagian manusia kembali kepada apa kata ajaran agamanya, orang yang beragama dan berpendidikan akan meminta pandangan pada pengetahuan dan filsafat.
Sementara orang yang tak beragama akan mencari jawaban hanya dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Tidak semua orang berani menghadapi pertanyaan itu secara bersungguh-sungguh, tetapi resikonya ia juga tak akan sampai pada hidup manusiawi yang otentik. Membiarkan diri ‘hanyut’ oleh ihwal kehidupan, ikut dalam arus kebiasaan dan cara berfikir juga bertindak yang lazim di masyarakat.
Buku ini membuat saya seperti membaca novel, menggoda, sesekali mengejutkan, dan membuat saya sulit berhenti. Sekalipun sorak-sorai penonton bola Indonesia vs Thailand, di rumah tetangga terdengar sesekali membuyarkan pikiran.
Buku ini kutemukan beberapa hari lalu, dalam tas rajutan milik istriku Misnah Hattas, tidak dibawanya saat akan ke Jakarta. Mungkin memang ditinggalkan agar saya memiliki ‘mainan baru’ saat hujan deras mengguyur akhir tahun 2021 ini, dan channel animal word di tivi tidak menyuguhkan serial baru. Kita memang harus terus berharap bertemu hari baru, tahun baru dan optimisme baru di hari esok di 2022.
Penulis: Zulkarnain Hamson


Tinggalkan Balasan