SimpulRakyat.co.id, ESAI – Mereka yang hadir dalam seminar ini adalah ‘pemilik masa depan’ mahasiswa, calon sarjana dan yang baru saja menyelesaikan ujian skripsi untuk bisa menyandang gelar akademik Sarjana Ekonomi.

Sejumlah seniornya membentuk komunitas KOMA di Kampus Universitas Indonesia Timur (UIT), dan kini telah memasuki kepengurusan lanjutan, sebuah tradisi kehidupan kampus yang sehat dalam pandangan saya.

Pekan sebelumnya jajaran pengurus KOMA UIT, mengontak saya via WhatsApp (WA), mengabarkan kegiatan mereka. Saya dengan pasti menjawab “Insya Allah akan hadir”.

Bukan semata karena saya diminta mengantar pembicara yang luar biasa Heri Himawan seorang penekun kajian psikologi yang konsen pada ilmunya, tetapi juga saya menemukan ‘jiwa’ saya yang hilang sejak 27 tahun lalu, saat masih mahasiswa dulu. Budaya akademik ketika itu tumbuh pesat.

Ruang konsentrasi Kampus 1 UIT, Kamis 9 Desember 2021, kemarin, berisi wajah-wajah muda generasi millenial yang saya tangkap sorot mata mereka sedang ‘menerawang’ tentang masa depan.

Sesuatu yang tidak mudah untuk bisa digambarkan dengan sekadar hayalan optimisme semu. Mereka sedang ‘bertempur’ atau mengatur siasat dan kekuatan diri menghadapi kenyataan yang tentu tidak bisa dikatakan manis, di luar sana. Belantara dunia kerja adalah ‘hutan rimba’ yang menanti kedatangan mereka mengadu potensi, skill juga daya tahan, untuk sampai pada puncak keemasan karir.

Jadi ada apa dengan budaya akademik? jawabannya tidak matematis tentu. Budaya akademik bukanlah jalan pasti menuju karir cemerlang. Tetapi budaya akademik akan membuat mereka memiliki tak-tik dan strategi yang lebih mumpuni.

Budaya akademik akan mengasah ketajaman analisa, memberikan mereka bekal akan pengetahuan olah pikir, olah rasa dan olah kata.

Mereka yang tak pernah merasakan dinginnya keringat analisis, akan merasakan pahitnya cemoh kebodohan.

Mereka yang tak pernah belajar mengolah kata, akan seperti ‘tau-tau’ atau orangan sawah, yang hanya diam mematung atau berbunyi saat ditiup angin.

KOMA UIT adalah kampus yang sesungguhnya. Di sana mereka belajar tentang kearifan menjadi manusia, agar pintar menghadapi manusia.

Di KOMA mereka belajar tentang peradaban pada masanya, dan belajar tentang literasi kehidupan, bukan soal apakah harus hidup di era Industri 4.0 atau yang lebih manusiawi Era Industri 5.0. tetapi belajar tentang mengolah kompetensi diri, mengenal lingkungan dan mengenal siapa dirinya.

Mereka yang tak kenal dirinya selalu berprilaku ‘tau-tau‘ dan tak pernah sampai pada kemanusiaan yang sesungguhnya.

Usai penyerahan piagam, saya pamit. Pengantar saya sudah lebih dari cukup, saya bukan pemateri yang sesungguhnya. Ibarat film, saya hanya figuran, yang membuat sebuah skenario sempurna.

Dalam benak saya ketika meninggalkan ruang seminar itu, apakah masih tersimpan di semua kepala para calon sarjana bahwa kecerdasan itu adalah penempaan, bukan sekadar datang mencari ijazah.

Saya juga termenung, apakah kampus-kampus nanti tidak menjadi seperti kuburan umum, jika budaya akademik telah hilang. Selamat berjaya kawan-kawan cerdas KOMA UIT.

Penulis: Zulkarnain Hamson

(Ketua Kosmik Fisip Unhas 1991)

SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.