SimpulRakyat.co.id, Luwu – Menjadikan Kabupaten Luwu yang maju, sejahtera dan mandiri dalam nuansa religius adalah visi Bupati Luwu, Basmin Mattayang.
Untuk itu, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) bersinergi dalam mewujudkan harapan tersebut.
Dinas pertanian kemudian mendapatkan tugas lebih mengerucut pada misi dapat mewujudkan ketahanan pangan dan perekonomian daerah yang tangguh berbasis agribisnis.
Dalam mewujudkan misi tersebut, dinas pertanian kabupaten Luwu memiliki 208 penyuluh, 107 di antaranya adalah PNS, 35 PPPK, 2 THL-TBPP Kementan, dan 64 THL-TBPP Kabupaten, serta 215 Gapoktan, 2.714 Kelompok Tani, 276 Kelompok Wanita Tani, dan 68.789 Petani yang tersebar di 22 kecamatan, 227 desa.
Salah satu potensi yang besar pada sektor pertanian di Luwu adalah lahan sawah yang cukup luas, yakni 33.925,3 Ha. 29.477,7 Ha. telah mendapatkan aliran irigasi, 4.200 Ha. Tadah hujan, dan seluas 246,7 Ha merupakan rawa pasang surut.
Dengan upaya yang dilakukannya, berdasarkan data dari kepala dinas pertanian kabupaten Luwu, A Albaruddin mengungkapkan mayoritas produksi pertanin di tahun 2020 semakin meningkat.
Meski demikian, sejumlah persoalan klasik masih terdapat di dalamnya. Misalnya pada sektor tanaman pangan, dalam meningkatkan produksinya masih terkendala dengan benih padi yang dalam pengusulannya tidak sesuai dengan jumlah yang diharapkan, benih datang tidak sesuai dengan waktu yang ditargetkan, shingga dalam pengedarannya bantuan benih padi hampir kadaluarsa.
Selain itu, juga terkendala pada ketersediaan alat panen padi (combine harvester) dan penggilingan padi yang di Luwu terbilang kecil, berproduksi dibawah 3 ton/jam.
Sejumlah kendala juga menghambat peningkatan produksi pertanian di bidang Komoditi Hortikultura. Lemahnya kapasitas kelembagaan petani, terbatasnya daya dukung lahan dan infrastruktur usaha, lokasi tanam yang berpencar, sulitnya mendapatkan bibit bermutu, serta belum berkembangnya sistem produksi yang utuh dan terintegrasi menjadi alasan ketergantungan konsumen terhadap pasokan dari luar daerah beberapa komuditas.
Sedangkan pada perkebunan, rendahnya daya tawar petani, sulitnya akses ke pasar untuk menjual hasil pertanian, tingginya biaya produksi menjadi alasan terbatasnya peningkatan produksi.
Meski demikian, Keberhasilan pemerintah kabupaten Luwu dipimpin Bupati Basmin Mattayang, melalui dinas pertanian kabupaten Luwu, dalam meningkatkan produksi pertanian tidak dapat terbantahkan.
Di atas kertas, berdasarkan data, persentase keberhasilan itu dapat terlihat jelas. Sayangnya, indikator kesejahteraan petani bukan hanya menitik pada jumlah produksi saja, namun faktor harga komuditas juga menjadi hal penting.
Itu diungkapkan petani “legendaris” yang dikenal dengan sebutan La Baratang. La Baratang pemilik 1500 pohon durian, dan mengahsilkan hingga 30 ton cengkeh per tahun, pernah menjadi subjek perbincangan Televisi Nasional pada era kepemimpinan presiden Megawati, setelah aktif dalam memberikan kritikan terhadap pemerintah pusat.
Tinggal di pedalaman dusun Buntusawa, desa Binturu, kecamatan Larompong, tidak membuatnya gagap informasi. Dengan aktifnya mengorek informasi melalui media, serta ditunjang dengan relasi yang ada, La Baratang bahkan lantang berbicara tentang perkembangan kondisi pertanian pada skala global.
“Kalau kita bicara masalah cegkeh, Saya dari Afrika, harganya satu juta per satu kilo, saya dari india, harganya sekitar dua ratus ribu, tapi kita di sini sepertinya diatur harga semaunya, karena kita pribadi tidak bisa melakukan ekspor ke luar negri, jadi kita tidak bisa berkutik. Ini kan soal kebijakan saja. dulu bahkan antar kabupaten tidak bisa kita keluar menjual, tapi karena pemerintahnya berganti, sekarang kita bisa jual keluar kabupaten, bisa bawa ke Soppeng. Kalau mau bagus ya harusya kebijakan dirubah, biar kita juga bisa ekspor keluar, supaya harga tidak dimonopoli,” ceritanya.
“Kalau menurut saya pemerintah tidak perlu terlalu pusing memikirkan cara untuk meningkatkan produksi pertanian, pikirkan saja bagaimana cara supaya harga jual itu bisa naik, dengan sendirinya petani akan berlomba-lomba untuk meningkatkan produksinya. Kalau harga mahal, biar kita sakit, pasti tetap semangat ke kebun, tapi kalau begini, banyak sekali buah tapi tinggal saja dipohonnya, karena tidak ada orang yang mau petik, karena justru lebih banyak biaya produksinya. Belumpi harga tangga, gaji pa petik, penjemur, ongkos mobil lagi keluar, kita petani kalau mau dikerja justru minuski, jadi lebih baik kita tidak petik saja,” sambungnya.
“Dulu karena harga bagus, PNS, Polisi, Tentara mereka semua turun untuk ikut bertani, tapi kita lihat sekarang, petani saja malas bertani, apalagi dengan banyaknya bantuan-bantuan, semakin malas orang, lebih baik tinggal di rumah tunggu bantuan. Biasanya saya kalau panen biasa sampi 30 ton, tapi ini panen kemarin mungkin cuman sekitar 10 ton yang saya petik, karena pertama sudah susah tukang petik, sama banyak sekali biayanya lebih banyak gajinya tukang petik daripada kita petani, jadi untuk apa dipetik, biarkan saja buah tinggal di pohonnya,” tambah pemilik lahan puluhan hektar itu.
Jeritan petani juga terdengar di wilayah kota belopa, Kepala Kelompok Tani Padang Sagena, Desa Libani, Darwis mengungkapkan jika saat ini pemerintah perlu melakukan penelitian lebih dalam kemudian mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kehidupan para petani.
Disebutnya, petani saat ini terdesak dengan harga komuditas yang anjlok, harga racun yang meroket, sehingga keuntungan dalam bertani sangat tipis. Belum lagi, harga bahan pokok untuk kehidupan sehari-hari di tengah guncangan pandemi semakin menjauhkan petani dari harapan hidup layak.
“Dulu pak, kalau orang sudah punya sawah satu Hektar, itu sudah bisa dibilang orang kaya, tapi kalau sekarang biar sampai 2 hektar dia punya sawah masih susah hidupi keluarga, karena kita ini petani sawah sekarang tipis sekali hasilnya kasin. Kondisi saat ini, susah pupuk subsidi, kalau pupuk normal kita tidak bisa beli. Belum lagi kalau ada hama yang menyerang, harga racunnya berapa memang mi, jadi kita ini kerja sawa, tapi hasilnya tidak jauh beda ji dengan kuli bangunan, yang kita dapat kasian setelah keluar semua harga pupuk sama harga racun, itu betulji uang keringat yang kita dapat,” ungkapnya saat ditemui di sawahnya.
Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan