SimpulRakyat.co.id, Makassar – Bantuan Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) kota Makassar berupa dermaga dan sejumlah kerambah untuk kelompok Keramba Tello Baru Jaya kelurahan Tello Baru, kecamatan Panakkukang berpotensi bersengketa.
Pasalnya, dermaga yang dikelola oleh ketua kelompok kerambah Tello Baru yang tak lain ketua RW setempat, telah disulap menjadi kafe dan resto diduga dimonopoli secara sepihak. Padahal semestinya bantuan dari pemerintah ini dikelola atas dasar azas manfaat untuk kalangan masyarakat sekitar lokasi tersebut.
Berdasarkan keterangan sejumlah warga sekitar mengakui bahwa mereka tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan kafe dan resto itu.
“Saya tidak dilibatkan dalam pengelolaan kafe itu, sepengetahuan saya pak RW yang biayai itu barang (Resto) mulai dari perbaikannya sampai jadi kafe seperti sekarang,” ucap warga yang tidak mau dipublikasikan identitasnya.

“Dulu memang ada beberapa warga yang masukkan produk olahan makanan tapi dihentikan sama pak RW, tidak tau apa alasannya. Saya dengar sekarang ambil dari luar. Padahal sepengetahuan saya program ini seharusnya memberdayakan masyarakat sekitar,” bebernya.
Dermaga apung milik Dinas Perikanan Makassar yang sebelumnya terbengkalai di Pantai Losari didatangkan ke bantaran sungai Tello melalui kesepakatan bersama antara DP2 Makssar dan Kelompok Sadar Wisata yang dijembatani Dinas Pariwisata Makassar bertujuan dikelola secara swadaya untuk pemberdayaan masyarakat setempat.
Dikonfirmasi terpisah, ketua Kerambah Tello Baru Jaya yang juga ketua kelompok Sadar wisata (Pokdarwis) Tello Baru, Ibrahim Aziz menerangkan bahwa bantuan dari DP2 Makassar berupa Dermaga apung yang sekarang sudah menjadi kafe & resto, hendak dikelola secara profesional.
“Saya mau mengelola usaha ini secara profesional, tidak perlu melibatkan banyak orang, lebih baik dampaknya (positif) saja. Banyak memang ibu ibu di sini yang bisa bikin kue tapi tidak sembarang juga bisa masuk, makanya saya batasi,” imbuhnya.
Ibrahim mengakui membayar karyawan tenaga ahli seperti koki dan barista dari Hotel agar usaha tersebut nampak dikelola secara profesional.
“Kafe ini baru beroperasi satu bulan. Nanti kalau usaha ini jalan pastinya akan ada dampak positif untuk masyarakat,” ujarnya.
Ibrahim juga mengakui telah mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan dermaga apung yang sempat terbengkalai di Pantai Losari. Biaya yang dianggarkan 200 juta untuk mendatangkan flooting market (dermafa apung) seluas 30 x 7 m² tersebut.
“Juli 2020, dermaga itu didatangkan ke sini, saya semua yang biayai sampai cantik seperti sekarang, total biayanya sekitar 200 juta,” tandasnya. (*)


Tinggalkan Balasan