Sedot Anggaran Miliaran Rupiah, Objek Wisata Mangrove Babana Kini Minim Pengunjung

  • Whatsapp
Kondisi objek wisata Mangrove Babana sepi pengunjung, Bakri. (Foto: M Fatwa/SimpulRakyat.co.id).

SimpulRakyat.co.id, Luwu – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu, dibawah kepemimpinan Bupati Basmin Mattayang, menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu prioritas pembangunan dalam masa baktinya.

Kerja nyata dapat terlihat pada sebuah objek wisata Mangrove Babana yang terletak di Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan.

Baca Juga

Sejak 2018 lalu, tidak main-main pemerintah mengucurkan anggaran dengan nilai hingga milyaran rupiah.

Pemerintah pusat lewat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan bantuan sebesar Rp1,5 miliar untuk pembangunan sejumlah fasilitas, di antaranya pagar mangrove, jogging track, tanggul parkiran, rabat parkiran, rabat jalan sisi parkiran, dan pot taman sebanyak 10 unit.

Pemkab Luwu juga ikut membantu pembangunan di tahun yang sama, kemudian pada 2019 mengalokasikan anggaran Rp800 juta untuk pembangunan sejumlah fasilitas pendukung.

“Kami pun dari pemerintah desa mengalokasikan anggaran dana desa ke lokasi objek wisata pantai mangrove Babana, termasuk pembuatan jalan akses masuk ke lokasi,” ungkap Kepala Desa Temboe-Larompong Selatan, Abdi Thamrin, dilansir dari Palopopos oktober tahun lalu.

Penjaga loket masuk dan parkir objek wisata Mangrove Babana, Bakri. (Foto: M Fatwa/SimpulRakyat.co.id).

Sayangnya, objek wisata yang telah menelan milyaran anggaran negara tersebut, nampaknya saat ini kurang didatangi pengunjung.

Dalam sebulan terakhir, diperkirakan jumlah pengunjung hanya sekitar 10 motor. Hal tersebut diungkapkan seorang penjaga loket karcis masuk, Bakri.

“Kadang 10 kalau ada motor, harga karcis lima ribu, pak, kalau motor. Kalau mobil dua puluh ribu. Paling ramai hari Jumat, Sabtu sama Minggu,” ungkap Bakri kepada reporter SimpulRakyat.co.id, di lokasi objek wisata, Selasa (20/10/2020).

Di tempat yang sama, Nurasyiah pedagang minuman di lokasi objek wisata tersebut membenarkan kondisi objek wisata Babana yang terkesan sepi. Namun ia menduga kuat hal tersebut dikarenakan adanya bencana pandemi Covid-19.

Nurasyiah yang mengaku telah berjualan sejak awal terbukanya objek wisata itu, sebelumnya pengunjung cukup antusias. Bahkan banyak pengunjung datang dari daerah tetangga seperti Wajo dan Sidrap.

“Dulu sebelum diperbaiki ramai, setelah diperbaiki semakin ramai, tapi sekarang berkurang. Bukan mi’ lagi berkurang, tapi berkurang sekali. Kalau sebelum Corona, Jumat-Sabtu-Minggu ramai, kalau sekarang tidak menentu, bahkan hari Minggu dua hari lalu, tidak ada pengunjung,” ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, seorang pengunjung, Eric menyebutkan perlunya ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap objek wisata tersebut.

“Lokasinya menurut saya pribadi sangat bagus, tapi kita berharap pemerintah bisa lebih perhatian lagi, agar animo pengunjung kembali meningkat. Misalnya, perbaiki kayu dermaga yang mulai lapuk. Dan ditambah lagi penataan atau dekorasi agar lebih menarik perhatian,” tutupnya. | M Fatwa

Disarankan Untuk Anda :