SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 PT Semen Tonasa, Corporate Social Responsibility (CSR) Tonasa melakukan penanaman 10 ribu mangrove di dua kecamatan kepulauan, yakni Liukang Tupabbiring dan Liukang Tupabbiring Utara.

Penanaman mangrove ini berlangsung selama dua hari, sejak Rabu (28/10) di Pulau Podang-podang, Desa Mattiro Dolangeng, bertepatan pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda, hingga Kamis (29/10/2020) di Pulau Polewali, Desa Mattiro Labbangeng.

Siswa SMP yang turut menanam mangrove sebagai edukasi peduli lingkungan.

Pendamping CSR Semen Tonasa, Haniah mengatakan, dalam penanaman mangrove kali ini pihaknya menggandeng Cabang Dinas Kelautan (CDK) Pangkep, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Solidaritas Masyarakat Perikanan Tangkap (Sampanta).

“Melalui CSR, PT Semen Tonasa terus mewujudkan kepedulian dan komitmen untuk berkontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan, khususnya kelestarian ekosistem laut di wilayah Liukang Tupabbiring dan Liukang Tupabbiring Utara,” terang Haniah.

Warga Pulau Polewali bersama rombongan CSR Tonasa menanam bibit mangrove.

Lanjut dikatakan, mangrove merupakan ekosistem yang memberikan banyak manfaat bagi keseimbangan lingkungan, pencegah abrasi dan memperbaiki kawasan pesisir yang rusak agar hijau kembali.

“Kami ingin memberikan yang terbaik buat masyarakat. Salah satunya dengan menanam pohon mangrove ini, mudah-mudahan keberadaannya bisa menyelamatkan pulau dari kerusakan lingkungan, terutama abrasi,” kata aktivis perempuan ini.

Kepala Desa Mattiro Dolangeng, Kaharuddin yang turut serta menanam mangrove.

Sementara itu, Kepala Desa Mattiro Dolangeng, Kaharuddin yang turut serta menanam pohon mangrove itu mengatakan, ia bersama warganya mengapresiasi PT Semen Tonasa dan CSR atas kepedulian terhadap ekosistem laut dan lingkungan di pulaunya.

“Kami selaku pemerintah setempat bersama masyarakat Desa Mattiro Dolangeng menyampaikan, terima kasih kepada PT Semen Tonasa atas kesediaannya menunjuk pulau kami untuk ditanami mangrove,” pungkas Kaharuddin. | Red