SimpulRakyat.co.id, Bulukumba – Terkait persoalan Cafe di Pantai Bira, sepanjang jalan menuju pantai Bara, Bulukumba yang menuai banyak kritikan dari tamu pantai, mendapatkan respon dari kepala dinas Pariwisata Kota Bulukumba, Ali Saleng, pada Senin (31/8/2020) sore.
Keluhan terkait suara keras musik yang disebut mengganggu tamu penginapan sudah menjadi perbincangan umum, dan terjadi sejak lama, namun hingga saat ini belum mendapatkan solusi.
“Sebenarnya kita selalu imbau kepada para pemilik usaha di dalam selaku pariwisata, kita ada grub dengan PHRI, semua keluhan muncul di situ. Karena itu, apa yang kita sampaikan ke mereka secara tertulis itu menjadi acuan untuk mereka tindak lanjuti,”
“Hanya memang setelah kita dapat keluhan lalu kita klarifikasi ke yang punya tamu disitulah muncul masalah karena mereka merasa tidak nyaman ketika tamunya ditegur,”
“Sekalipun di saat sebelum dia masuk itu sudah disampaikan, tabe ini bacaki pengumumannya pariwisata bahwa aktifitas musik itu hanya sampai jam 12 malam, setelah itu harus berhenti karena kita tidak ingin mengganggu pengunjung lain,” ungkap Ali Saleng
Dalam perbincangan sebuah grub WhatsApp, yang menghimpun pengusaha hotel dan restoran di kawasan tersebut, membenarkan jika kerap terjadi perselisihan dan saling mengganggu antara tamu.
“Didalam Grub ini (PHRI) memang dinamikanya sangat besar karena, mereka saling mengkomplen, tabe tamuta itu tegurki, jadi sudah muncul solidaritas untuk saling mengkomplen. Karena walau bagaimanapun juga tentu ketidaknyamanan ini akan disampaikan ke pemilik lalu disampaikan ke yang punya tamu,”
“Hanya biasanya, alasannya ini pemilik yang punya tamu, dia katakan susah saya tegur karena mereka itu pejabat, mereka itu aparat, kita mau tegur malah dia balek marahi kita. Itu memang sangat mengganggu itu bahkan setiap minggu menjadi pembahasan didalam grub itu,” kata Ali Saleng.
Saat ditanyai terkait kontribusi Cafe tersebut terhadap Pariwisata Bulukumba Ali Saleng menyebut tidak ada kontribusi langsung berupa retribusi.
“Kalau kita berbicara kontribusi, dalam bentuk pembayaran pajak retribusi, itu sama sekali tidak ada kecuali mungkin pajak ya, tapi itu bukan di kami itu di bapenda, cuman kita tidak tau bagaimana model penarikannya itu,” katanya.
Ali Saleng kemudian berharap seluruh pihak terkait dapat lebih bekerja sama untuk menjaga situasa kundusif di wilayah tersebut
“Saya kira memang butuh pelibatan dari semua stakeholder khususnya yang memiliki tupoksi dalam menjaga khamtibmas mungkin dari pihak satpol kah, atau kepolisian . Itu selama ini dilakukan, tapi intensitasnya harus lebih ditingkatkan,” kuncinya.
Kedepannya, oprasi rutin dengan jadwal yang berubah-ubah kedepannya diyakini dapat meminimalisir gangguan khambtibmas di tempat tersebut. (M Fatwa)


Tinggalkan Balasan