SimpulRakyat.co.id, Bulukumba – Kegelisahan akan rendahnya tingkat literasi di desa menjadi titik tolak Riswandi, seorang pemuda agraris asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, mendirikan Pojok Baca Pangngissengang. Ruang sederhana ini ia sulap menjadi pusat kegiatan membaca, menulis, dan berkreasi bagi warga di pelosok desa.

“Pojok Baca Pangngissengang bukan hanya tempat membaca, tetapi juga wadah gerakan literasi semua kalangan,” kata Riswandi kepada Simpul Rakyat, Senin (30/6/2025).

Terletak di kawasan pedesaan, pojok baca ini hadir dengan semangat membangun budaya literasi dari bawah. Tidak hanya membuka akses buku, ruang ini juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, remaja, dan warga untuk belajar bersama, berdiskusi, bahkan mengembangkan keterampilan.

Sebagai pusat baca masyarakat, Pojok Baca Pangngissengang kerap menjalin koordinasi dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten Bulukumba. Dari sinilah, bantuan dari Perpustakaan Nasional RI mengalir dalam bentuk koleksi buku dan rak baca.

“Kami berharap pemerintah tetap konsisten mendorong kebijakan pro-literasi,” ujar Riswandi.

Dia juga mengajak dunia usaha untuk berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan menyediakan fasilitas baca, pelatihan, hingga dukungan literasi digital.

Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Pojok Baca Pangngissengang bersinergi dengan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Pallawa Tani, sebuah lembaga yang didirikan dan dikelola langsung oleh para petani.

Di bawah binaan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Kementerian Pertanian, P4S aktif meningkatkan kapasitas petani melalui pelatihan, pengenalan teknologi, dan pengembangan usaha tani berkelanjutan.

“P4S berperan penting dalam pembangunan pertanian, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani,” ujar pengelola P4S Pallawa Tani.

Ia meyakini, pendidikan dan pertanian harus berjalan seiring di desa. “Inilah jalan untuk memajukan desa dari sisi ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjaga desa tetap aktif dan produktif,” katanya.

Melalui gerakan literasi akar rumput dan kemitraan dengan dunia pertanian, Riswandi dan warga desa menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari pojok kecil yang penuh harapan. (*)