SimpulRakyat.co.id, Makassar – Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan, menyebut salah satu objek wisata di Bulukumba, Tevana House Reef memiliki icon mirip dengan lambang mata satu.
The Eye of Providence memantik teori konspirasi. Simbol itu dikaitkan dengan Illuminati, organisasi rahasia yang menurut teori konspirasi bertanggung jawab atas kekacauan dunia.
Sebenarnya simbol mata satu semacam itu telah ada sejak era Mesir Kuno, yakni simbol Dewa Horus. Simbol Mata Horus menjadi jimat, disebut Wadjet, melawan mata jahat (evil eye).
Dilansir BBC, masyarakat Mesir kuno percaya orang sukses akan mengundang iri hati orang di sekitar. Mata jahat adalah simbol mata orang yang iri hati, mata yang mengutuk.

Di Amerika Serikat, berkaitan dengan mata satu, 28% masyarakatnya percaya ada elite berkuasa rahasia dengan agenda global tengah berkonspirasi menciptakan Tatanan Dunia Baru yang otoriter (New World Order). Ini dipotret oleh survei Public Policy Polling, lembaga yang dekat dengan kaum Demokrat, pada 2013.
Filsuf dari Inggris, Julian Bagini, menulis di The Guardian, jika benar Illuminati itu ada, itu akan menjadi organisasi rahasia yang paling tidak rahasia di dunia. Soalnya, informasinya sudah banyak tersedia lewat Google.
Teori konspirasi tentang Illuminati selalu mengandaikan adanya kelompok elite rahasia yang berkuasa, beroperasi demi kepentingan sendiri.
Bagini menilai wajar saja bila orang percaya dengan teori konspirasi semacam itu. Soalnya, sifat dasar manusia memang selalu mencari pola dasar dari setiap kejadian.
Manusia juga sering meyakini bahwa setiap kejadian pastilah didasari maksud tertentu dan ada polanya, meski pada kenyataannya tidak selalu demikian.
Teori konspirasi hanyalah upaya alamiah manusia untuk menemukan pola dari realitas yang acak-acakan. Upaya pencarian pola ini sebenarnya sah-sah saja meski belum tentu benar, namanya juga usaha.
“Dunia ini membingungkan dan rumit. Hampir semua dari kita mencoba untuk merapikan semua itu, itulah mengapa ada banyak disiplin seperti ilmu sosial, ekonomika, dan hubungan internasional,”
“Semua membutuhkan waktu, inteligensi, atau pendidikan yang kebanyakan dari kita kurang mendapatkannya. Tak heran jika kita sering mengambil jalan pintas, cara kotor untuk membuat dunia bisa dipahami,” tulis Bagini.
Namun bila kecenderungan alamiah ini menjadi berlebihan, masyarakat akan melihatnya sebagai gangguan pareidolia, yakni kecenderungan akut mengidentifikasi objek apa pun dengan objek lain yang lebih berkesan.
Misalnya, menemukan pola wujud Semar pada wedus gembel, menemukan pola gambaran ibu memangku bayi di rembulan, atau membayangkan pola segitiga Illuminati pada celana dalam.
Di Indonesia pernah heboh di jagat internet terkait Ilumination ini, gara-garanya, ada kegaduhan di media sosial tentang simbol mata satu dalam segitiga. Simbol itu secara imajinatif ditafsirkan tercermin pada arsitektur Masjid Al- Safar karya Gubernur Jawa Barat Ridwan kamil.

Kembali ke soal icon Tevana House Reef di Bulukumba, simbol tersebut secara imajinatif dianggap oleh BMI menyerupai lambang zionisme dan mata satu yang kerap dikaitkan dengan teori konspirasi Dajjal. Hal tersebut tergambar dalam sebuah foto terlihat dari udara.
“Kami kurang tahu apa yang melatar belakangi sehingga pemilik memuat design seperti itu, tetapi jika kita memperhatikan baik-baik, maka design tersebut mirip sekali simbol mata satu yang identik dengan simbol dajjal dan zionis, kita berharap pemilik bisa merubah design mengingat Indonesia ini adalah negara muslim,” ungkap ketua BMI, Muhammad Zulkifli, Senin (24/08/20) saat di hubungi via WhatsApp.
Diketahui, Kabupaten Bulukumba sendiri saat ini terkenal dengan adat-istiadat serta masih kental dalam norma-norma agama, sehingga disebutnya akan sangat rentan jika terdapat simbol atau icon iluminaty yang mencolok pada daerah tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, pemilik Tevana House Reef mengungkapkan jika pihaknya tidak pernah bermaksud untuk menyematkan lambang zionis atau lambang illuminaty pada arsitektur bangunannya tersebut, hanya saja ia ingin memaksimalkan dalam memanfaatkan lahan yang ada.
“Ini energy deck kita, arsitekturnya ini kita buat agar bisa mengumpulkan air hujan, kebetulan saja tampaknya mirip mata satu. Idenya ini lambang matahari sebagai lambang kekuatan energi. Di sini kita biasa untuk yoga. Kebanyakan dari tamu juga memanfaatkan deck kita ini untuk santai dan melihat Sunset,” ungkapnya saat dikonfirmasi SimpulRakyat.co.id.
Meski tidak bermaksud mencederai nilai sosial dengan icon tersebut, pihak Tevana House meminta maaf jika kiranya ada unsur-unsur yang tersinggung atau tidak senang dengan lambang tersebut.
“Kami tidak bermaksud begitu, Ok Pak. Saya (minta) maaf kalau menyinggungkan sesiapa, tetapi itu memang bukan niat kita,” kunci pengusaha dari Negri Jiran itu. (M Fatwa)


Tinggalkan Balasan