SimpulRakyat.co.id, Merauke – Peristiwa yang sangat menyita perhatian segenap bangsa Indonesia, dimana kebhinekaan bangsa ini kembali diuji, saat dikabarkan mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang mengalami sebuah diskriminasi.

Peristiwa ini tentunya sangat menyinggung rasa kemanusiaan dan kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.

Peristiwa ini mendapat perhatian dan menimbulkan luka terdalam sebagai saudara di tanah air tercinta ini, sehingga timbul perlawanan berupa sejumlah demo di hampir seluruh daratan tanah Papua.

Berikut yang disampaikan oleh Pastor Cayetanus Tarong, MSC selaku Pastor Paroki Salib Suci Gudang Arang sekaligus mewakili Tokoh Gereja dan Umat Papua di kantornya, Rabu (21/08/19).

“Pertama-tama kita hidup butuh kedamaian, namun saat damai itu hilang, orang akan sulit mendapatkannya kembali. Apa lagi, yang terjadi dimana kita hidup sebagai saudara, namun kenyataannya kita disamakan dengan hewan. Ini tentu sangat menikam, hingga masuk ke dalam hati yang terdalam,” katanya disela-sela kesibukannya.

Ditambahkan pula, kita dapat berdamai tapi mungkin secara tutur ataupun secara administrasinya saja, tetapi sebagai manusia membutuhkan beberapa waktu untuk pemulihannya.

“Sebagai sebuah negara yang berketuhanan dan negara dengan kebhinekaan mungkin saja dapat kita selesaikan. Secara administrasi iya, karena kita adalah negara kesatuan, namun sebagai manusia kita terluka. Luka terdalam. Ini harus dipahami dengan bijak, dimana reaksi-reaksi yang terjadi disini merupakan ungkapan luapan kemarahan dan menurut saya itu harus terjadi,” ungkap dia.

Lanjut dia, Sudah 74 tahun Indonesia merdeka, namun sayang masih ada orang-orang yang masih melecehkan sesamanya. Peristiwa ini harus dimaknai dan dibijaki dengan baik agar keutuhan negara ini dapat terjaga dengan baik.

Penulis: S Atbat