SimpulRakyat.co.id – Tulisan ini sebenarnya sebuah ucapan selamat berpuasa yang agak terlambat, untuk sahabat Kambrin. Juga untuk Adi Saputra, Zulfikar, Suaib dan beberapa sahabat aktivis Islam di wilayah Utara bumi Congkasae (Manggarai Raya). Yang jelas, tulisan ini bukan sebuah kultum, khutbah apalagi tazkirah.
Ini hanya berbagi cerita sebagai dukungan dari seorang sahabat Nasrani. Cukup diingat sebelum iktikaf. Jika berkenan, anggaplah cerita ini sebagai sejenak tażkīratun-nafsi biar puasa kian jadi berkah.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2024 atau 1445 Hijriah, umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Puasa menjadi jalan “perjuangan” dan pemurnian diri menuju Hari Kemenangan. Singkatnya, usaha mengekang nafsu dan membenteng tubuh.
Itulah Ramadhan. Puasa dan doa (shalat) menjadi ibadah wajib untuk mengetuk pintu langit. Secara biologis, puasa membebaskan tubuh dari toksik; secara sosiologis, puasa membuat seseorang tidak melupakan sesama manusia yang miskin; secara ekonomis, puasa melahirkan tindakan untuk berbagi dengan cara memberikan sumbangan, zakat dan sedekah. Sementara doa merupakan cara untuk merendahkan diri di hadapan Allah yang Maha Kuasa.
Semua itu untuk meraih berkah. Ya, Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan bulan maghfirah (ampunan) bagi umat Muslim. Saief Alemda (2013), persis menulis, pada bulan ini untuk pertama kali terjadinya “full-contact” antara bumi dan langit. Cahaya untuk pertama kalinya mendarat di bumi.
Di bumi Congkasae, bulan Ramadhan menjadi bulan penuh tantangan bagi sahabat Muslim. Mereka berpuasa di tengah mayoritas umat Katolik. Tetapi dalam pluralitas umat itu, tantangan itu membawa hikmah besar.
Memang hari raya Idul Fitri 1445 Hijriah nyaris bertepatan dengan hari raya Paskah 2024. Saat pra-Paskah, umat Katolik juga menjalankan puasa dan pantang. Hanya saja, puasa dan pantang itu tidak seketat ibadah puasa pada umat Muslim.
Umat Muslim Manggarai tentu sudah terbiasa menjalankan ibadah puasa di tengah mayoritas Katolik. Ada sikap toleransi yang sudah terbina sejak lama. Toleransi itu sikap mayoritas untuk menerima dan menghargai agama dan kayakinan orang lain. Sikap itu mirip (mengutip Agus Maftuh Abegebriel) universalisme Islam dalam literatur hukum agama al-kutub al-fiqqiyyah kuno, yang diantaranya berbunyi “keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-din) (Aburrahman Wahib, 2007).
Negara juga menjamin hak beragama sebagai non-derrogable rights dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Itulah freedom of religion yang dirayakan dengan sikap toleransi.
Di masa penjajahan dan kolonial, tentu belum ada freedom of religion. Agama manjadi bagian misi dan diplomasi kekuasaan. Sedikit hegemoni, banyak koersi. Penjajah Eropa datang ke Nusantara dengan trias-misi: gold, glory and gospel. Portugis memulainya pada tahun 1511 di Malaka. Lalu singkat cerita, sampailah misi gospel itu ke tanah Congkasae dan berkembang sejak tahun 1912. Umat Katolik di Manggarai pertama dibaptis di Reo, pada 17 Mei 1912 oleh Pater Hendrikus Looijmans, SJ (katolikindonesia.org).
Islam menyebar di bumi Conggkasae melaui Kesultanan Bima dan Makasar. Sejarahnya, tanah Manggarai merupakan wilayah jajahan dalam seteru kuasa antara Bima dan Makasar (Gowa-Tallo).
Islam di Bima dan Gowa-Tallo disebarkan kepada para raja dan pertama-tama disebarkan oleh tokoh mubalig Sumatera yang sama yakni Datuk Dibandang (Dato ri Bandang) atau Abdullah Ma’mur Khatib Tunggal asal Minangkabau dan Datuk Ditiro (Daro ri Tiro) atau Khatib Bungsu asal Aceh pada abad ke-17 (bdk. Tawalinuddin Haris, dkk, 1997; Abdul Rasjid dan Restu Gunawan, 2000).
Sejak saat itu, di Bima, gelar Sangaji pada Raja diganti menjadi Sultan dan menggunakan nama-nama khas Arab. Catatan-catatan Kerajaan (Bo) pun ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Penyebaran agama Islam pun dimulai hingga ke wilayah jajahan, termasuk Manggarai.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdullah (1854-1868), Kesultanan Bima semakin gencar menyebarkan agama Islam. Saat itu, wilayah yang dianggap perkembangan Islam kurang maju saat itu adalah Manggarai, Sumba, Larantuka dan Sawu (bdk. Tawalinuddin Haris, dkk, 1997).
Sementara saat itu, Kesultanan Bima dijepit oleh kedigdayaan VOC Belanda karena beberapa perjanjian derivatif Perjanjian Bongaya (Bongaya Tractat) pada tahun 1667 (:Belanda memutuskan relasi kuasa Bima dan Gowa, tetapi Bima mengikuti perjanjian paksa demi “keamanan” perdangan antara VOC dan Bima) (bdk. Leonard Y. Andaya, 1981).
Sultan Abdullah melalui pendampingnya Ruma Bicara Muhammad Ya’cub, membuat “perhitungan” dengan Belanda. Ia ambil tindakan yang cukup berani. Salah satunya, para pejuang Makasar dan Bugis dilindungi, bahkan diberi kebebasan untuk mendiami daerah Manggarai disamping [sic] melakukan perlawanan terhadap Belanda, juga harus melakukan dakwah (bdk. Tawalinuddin Haris, dkk, 1997).
Karena menjadi daerah tujuan dakwah, beberapa wilayah pesisir Manggarai yang bersentuhan langsung dengan Kesultanan Bima (dan Bugis-Makasar) menjadi kantong mayoritas muslim di wilayah pesisir. Sebuat saja, Labuan Bajo, Reo, Dampek, Pota, Nanga Lili, Pulau Ramut dan Borong. Selain itu, saudara Muslim juga tersebar ke wilayah pegunungan, misalnya di Biting (Elar), Ranakulan (Elar) dan Compang Lawi (Congkar), Kabupaten Manggarai Timur (Matim).
Kini semua telah menjadi saudara dan hidup rukun. Kerukunan hidup beragama di tanah Congkasae menjadi salah satu predikat baik untuk status “nusa toleransi” bagi Provinsi NTT. Kerukunan itu senantiasa diisi oleh dialog kesalingpahamanan dan saling dukung dalam setiap hari besar keagamaan.
Kalau setiap dukungan itu adalah doa, maka ujudnya adalah agar sesama saudara yang Muslim teguh dalam mengamalkan ajaran agama dan keyakinannya. Amar ma’ruf nahi mungkar. Bersungguh-sungguhlah dalam ber-ijtihad seraya menajuhi yang kufur. Nah, di bulan Ramadhan, berpuasalah dengan sungguh.
Dulu, di masa kecil, para sahabat Muslim di sekitar Pasar Borong (Kampung Nggeok dan Golput), Kecamatan Borong, Matim, selalu sungguh-sungguh dalam berpuasa, juga tetap asik bermain di bulan Ramadhan. Permainan meriam bambu dan lempar mercon (bubuk anak korek diisi dalam lubang busi bekas, lalu dilempar ke atas, sehingga saat jatuh pada benda keras, lantai semen, menimbulkan bunyi ledakan).
Berpuasa, tetapi tetap bersahabat
Para sahabat muda dan aktivis Islam di wilayah utara Congkasae (Matim) juga demikian, bersungguh-sungguh dalam ibadah puasa. Itu luar biasa. Belum ada cerita batal puasa. Tidak ada ihshar dalam berpuasa. Tak hanya tidur saat siang, mereka tetap bekerja, berdagang, Bertani. Bukan cuma itu, mereka khatam baca Al Qur’an. Ilmu adabi tilawatil Qur’an para sahabat muda itu tentu saja tak diragukan.
Dengan ihsan seperti itu, ada radius yang tak terhingga antara tubuh dan dosa: makanan, minuman dan jima. Soal yang terakhir ini (jima), pasti jaraknya paling tak terhingga, sebab teman-teman muda itu belum menikah.
Tentu saja, bagi sesama saudara yang muslim, berpuasa berarti meninggikan derajat hidupnya di hadapan Sang Maha Pencipta. Karenanya, di bulan Ramadhan, usaha fastabiqulkhairat pasti semakin meningkat. Usaha itu pun diharapkan berbuah pada keadaban dan peradaban manusia yang lebih baik.
Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah (10/11 April 2024) sudah dekat. Semoga puasa yang lama membawa kemenangan. Semoga amal dan ibadah di bulan Ramadhan mewujudkan insan yang fitri: lahir baru dan bersih dari dosa.
Insan yang fitri adalah dambaan berjamaah umat manusia. Neraka adalah bayangan ketakutan hakiki yang lekat di benak insan beragama. Harapannya, Ramadhan menjadi semacam “parfum spiritual” yang semerbak, biar harumnya bisa bawa berkah bagi the other (:sesama manusia yang lain): dijauhkan kejahatan dan kelaliman.
Kalau Ramadhan itu “parfum”, biarlah harumnya kian mengikat tali kerukunan dan persahabatan di antara kita. Kata sufi Syekh Abdul Qadir al-Jaillani, “sahabat sejati adalah orang yang selalu mengingatkanmu untuk peduli terhadap urusan akhiratmu”.
Jadi, tak perlu tunggu uang seratus agar silaturahmi kita tetap terjaga (seperti Pileg 2024). Cukuplah dengan saling menyapa dan mengingatkan biar senantiasa damai beribadah menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Kelak, kita semua menuju hidup yang husnul-khātimah.
Akhirnya, selamat berpuasa, sahabat. Bersiaplah menuju Idul Fitri 1445 Hijriah. Salam damai!
Penulis: Alfred Tuname (Esais tinggal di Manggarai Timur).


Tinggalkan Balasan