SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Komisariat Politani Cabang Pangkep, gelar dialog keperempuanan dengan tema “Terpenjaranya peran perempuan dalam dogma sosial”. Kegiatan ini berlangsung di Caffe Redblack, Jumat (12/11) kemarin.

Kegiatan dialog tersebut dihadiri oleh dua narasumber, yakni Rini Ajeng Dyah Pertiwi selaku Sekertaris Umum Kohati Cabang Makasaar dan Asrah selaku Sekertaris Umum HMI-MPO Cabang Barru, dimoderatori Mila Salsabila selaku anggota Bidang Keperempuanan HMI MPO Komisariat Politani Cabang Pangkep.

Rini Ajeng Dyah Pertiwi, dalam materinya bahwa peran perempuan dalam menghadapi dogma sosial, tentu semua pihak harus memahami posisi perempuan itu tidak ada bedanya dengan laki-laki.

“Kita semua setara, jadi bukan berarti misalnya perempuan harus memenjarakan dirinya sekadar di rumah atau di dapur, melainkan perempuan juga harus ikut andil dari segi kepemimpinan, contohnya di pemerintahan, pada intinya tidak ada batasan perempuan untuk berkarir,” kata Rini.

Sedangkan paparan Asrah, dalam materinya bahwa perempuan selalu dikonotasikan sebagai pekerja domestik, padahal sebenarnya pekerjaan domestik juga bisa dilakukan oleh laki-laki, dan diranah publik juga dapat dilakukan oleh perempuan.

“Belakangan ini, perempuan telah memperlihatkan eksistensinya, bisa kita lihat di bidang ekonomi dan sosial, perempuanlah yang lebih banyak berperan di bidang tersebut walaupun dalam bidang politik masih sangat minim,” imbuh dia.

Sementara itu, Saharia selaku Kordinator Bidang Keperempuanan HMI Komisariat Politani mengatakan peran perempuan tak bisa dibatasi dengan dogma sosial yang ada saat ini.

“Tentu tujuan kami gelar laksanakan dialog prempuan karena melihat kondisi hari ini bahwa bisa dikata sebagian besar perempuan membatasi diri atau terpenjaranya peran prempuan itu sendiri karena dogma sosial,” pungkas Saharia.

Laporan: Awi
Editor: Sukma Paramita