SimpulRakyat.co.id, Medan – Tidak banyak yang menyadari bahwa cara masyarakat Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap sesama sedang mengalami perubahan. Pergeseran itu tidak terjadi secara tiba-tiba dan tidak pula diumumkan secara resmi. Ia berlangsung perlahan, mengikuti ritme perkembangan zaman yang bergerak semakin cepat dari tahun ke tahun. Jika dahulu semangat gotong royong identik dengan warga yang berkumpul di satu tempat, bekerja bersama membersihkan lingkungan, memperbaiki fasilitas umum, atau membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan, kini bentuk-bentuk kepedulian tersebut mulai menemukan ruang baru di dunia digital.

Perubahan itu dapat dirasakan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Ketika terjadi bencana alam di suatu daerah, bantuan tidak lagi harus dikumpulkan melalui penggalangan dana dari rumah ke rumah. Saat ada warga yang membutuhkan biaya pengobatan, informasi dapat tersebar luas melalui media sosial dan memperoleh respons dari masyarakat hanya dalam hitungan jam. Melalui telepon genggam yang hampir selalu berada di tangan, seseorang kini dapat membantu orang lain tanpa harus mengenalnya secara langsung ataupun berada di lokasi yang sama. Teknologi membuat batas ruang dan jarak seolah semakin memudar, sementara kepedulian sosial menemukan cara baru untuk terus tumbuh.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan budaya gotong royong yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selama puluhan tahun, gotong royong tidak hanya dipahami sebagai kegiatan kerja bersama, melainkan juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Dari kegiatan membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, membantu tetangga yang memiliki hajatan, hingga memberikan bantuan saat terjadi musibah, gotong royong telah menjadi bagian dari identitas kolektif bangsa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mencoba melihat lebih jauh bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi praktik gotong royong masyarakat saat ini. Melalui mini riset bertajuk Transformasi Nilai Gotong Royong dalam Perspektif Pancasila: Dari Partisipasi Fisik ke Donasi Online, mereka berupaya memahami apakah kemajuan teknologi telah menggeser budaya gotong royong atau justru menghadirkan bentuk baru dari semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Kajian tersebut disusun oleh Dhea Allyskha Tasdick dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Kesya Tritania Berutu dan Syafa Aulia Nazwa dari Program Studi Ilmu Hukum, Reja Christian Sembiring dari Program Studi Peternakan, Silvy Tiara Saputri dari Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Teresia Magdalena Situmeang dari Program Studi Sarjana Farmasi, serta Wilson Marjuang Pasaribu dari Program Studi Antropologi Sosial. Berasal dari latar belakang akademik yang berbeda, para mahasiswa tersebut memadukan berbagai perspektif untuk membaca perubahan sosial yang saat ini tengah berlangsung di masyarakat.

Saat melakukan pengumpulan data dan berdialog dengan warga di Kota Medan, para peneliti menemukan bahwa perubahan yang terjadi tidak sesederhana berkurangnya kegiatan gotong royong fisik. Di balik fenomena tersebut terdapat dinamika sosial yang jauh lebih kompleks. Banyak masyarakat yang mengaku tetap memiliki keinginan kuat untuk membantu sesama, tetapi menghadapi keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari yang semakin padat. Bagi sebagian masyarakat, perkembangan teknologi justru menjadi solusi yang memungkinkan mereka tetap terlibat dalam berbagai aksi sosial meskipun tidak dapat hadir secara langsung. Donasi digital menjadi salah satu bentuk partisipasi yang paling banyak dipilih karena dianggap praktis, cepat, dan mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Hal itu diungkapkan Dini, salah seorang warga yang menjadi responden dalam penelitian tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk tetap menunjukkan kepedulian sosial tanpa harus terkendala oleh jarak maupun waktu. “Kalau niat membantu itu tetap ada. Saya masih sering ikut berdonasi kalau ada informasi orang sakit, korban kebakaran, atau bencana alam. Bedanya sekarang tidak harus datang langsung. Kadang sedang bekerja atau ada kegiatan lain, cukup membuka aplikasi lalu berdonasi. Dalam beberapa menit bantuan sudah bisa tersalurkan,” ujarnya.

Menurut Dini, kehadiran berbagai platform digital membuat masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk membantu sesama. Informasi mengenai penggalangan dana kini dapat diakses dengan mudah dan menjangkau lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya. “Kadang ada informasi bantuan dari luar daerah yang mungkin tidak akan saya ketahui kalau tidak lewat media sosial. Sekarang kita bisa membantu siapa saja tanpa harus memikirkan jarak. Menurut saya itu salah satu manfaat besar dari teknologi,” tambahnya.

Namun, tidak semua warga memandang perubahan tersebut dengan cara yang sama. Bagi sebagian masyarakat, kemudahan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi belum mampu menggantikan nilai kebersamaan yang selama ini tumbuh melalui interaksi langsung. Pandangan tersebut disampaikan Juwita yang juga menjadi responden dalam penelitian ini. Ia mengaku masih merindukan suasana kebersamaan yang dahulu sering hadir dalam kegiatan gotong royong di lingkungan tempat tinggalnya.

Mahasiswa USU

Menurutnya, kegiatan kerja bakti bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan tertentu, tetapi juga menjadi ruang pertemuan yang mempererat hubungan antarwarga. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat saling mengenal, berbincang, bertukar cerita, hingga membangun rasa kekeluargaan yang sulit ditemukan dalam interaksi digital. “Dulu kalau ada kerja bakti semua keluar rumah. Ada yang membersihkan parit, ada yang menyapu jalan, ada yang menyiapkan makanan. Setelah selesai biasanya warga duduk bersama, ngobrol, bercanda, bahkan membahas berbagai persoalan lingkungan. Sekarang momen seperti itu sudah semakin jarang,” tuturnya.

Juwita tidak menolak kehadiran donasi online. Ia mengakui bahwa teknologi telah membantu banyak orang dan mempercepat penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, menurutnya, ada nilai-nilai tertentu yang tidak dapat sepenuhnya dipindahkan ke ruang digital. “Kalau donasi online memang membantu. Tapi perasaan saat bekerja bersama, berkumpul bersama, dan bertemu langsung dengan warga itu berbeda. Ada rasa kebersamaan yang menurut saya sulit digantikan oleh teknologi,” katanya.

Pengalaman yang disampaikan para responden tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat saat ini sedang berada pada titik pertemuan antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai kemudahan yang membuat bantuan dapat diberikan secara lebih cepat dan lebih luas. Di sisi lain, masyarakat masih menempatkan interaksi langsung sebagai bagian penting dari kehidupan sosial yang tidak boleh hilang begitu saja. Temuan itulah yang kemudian menjadi benang merah dari penelitian mahasiswa USU tersebut. Mereka melihat bahwa fenomena yang terjadi bukanlah hilangnya nilai gotong royong, melainkan terjadinya transformasi dalam cara masyarakat mengekspresikan kepedulian sosial. Semangat membantu sesama tetap hidup, bahkan dalam banyak hal mampu menjangkau lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya. Namun, bentuk partisipasi yang digunakan mulai berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern.

Dhea Allyskha Tasdick selaku perwakilan tim peneliti menjelaskan bahwa hasil kajian menunjukkan adanya pergeseran medium dalam praktik gotong royong. Menurutnya, masyarakat tetap menunjukkan kepedulian terhadap sesama, hanya saja cara untuk menyalurkannya kini semakin beragam. “Kami melihat bahwa masyarakat masih memiliki semangat membantu yang tinggi. Banyak orang tetap ingin berkontribusi ketika ada yang membutuhkan bantuan. Yang berubah bukan nilai kepeduliannya, tetapi cara mereka menyalurkan kepedulian tersebut. Teknologi menjadi salah satu sarana yang memudahkan masyarakat untuk tetap terlibat dalam berbagai kegiatan sosial,” jelasnya. Menurut Dhea, perkembangan teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi budaya gotong royong. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat yang memperluas jangkauan solidaritas sosial selama nilai-nilai kebersamaan yang menjadi inti dari gotong royong tetap dipertahankan.

Mahasiswa USU

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sedang memasuki babak baru dalam memaknai kebersamaan. Jika dahulu gotong royong lebih banyak diwujudkan melalui kehadiran fisik dan kerja bersama di lapangan, kini semangat yang sama juga dapat hadir melalui ruang-ruang digital yang menghubungkan masyarakat dari berbagai daerah. Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, satu hal yang tampaknya tetap bertahan adalah keinginan untuk membantu sesama. Teknologi boleh mengubah cara bantuan disalurkan, tetapi nilai kepedulian yang menjadi ruh dari gotong royong masih terus hidup dalam masyarakat. Tantangan terbesar ke depan bukanlah memilih antara gotong royong fisik atau donasi digital, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan sehingga kemajuan teknologi tidak menghilangkan ruang-ruang kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan utama kehidupan sosial bangsa Indonesia.