SimpulRakyat.co.id – Di era digital yang serba canggih, ancaman kejahatan siber semakin nyata dan beragam. Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia bersama otoritas terkait telah mengambil langkah proaktif dengan memberikan edukasi digital kepada masyarakat yang diharapkan menjadi benteng pertahanan dalam melindungi diri dari serangan siber.
Dunia maya dihebohkan oleh peretasan situs berbagai Kementerian di Republik ini. Tak hanya diretas, sejumlah data dalam website tersebut pun dijual. Insiden ini menambah daftar panjang kasus kejahatan siber di Indonesia. Data dari Patroli Siber menunjukkan bahwa hingga Desember 2022, terdapat setidaknya 3.711 pengaduan terkait kejahatan siber, dengan 28 persen di antaranya adalah penipuan online. Total kerugian mencapai angka fantastis, yakni 75,01 miliar rupiah.
Lebih mengejutkan lagi, penelitian dari YouGov mengungkap bahwa 89 persen warga Indonesia menggunakan kata sandi yang lemah dan mudah ditebak. Akibatnya, 67 persen masyarakat Indonesia pernah mengalami kebocoran data pribadi, menjadikan mereka korban serangan hacker. Kebiasaan menggunakan nama dan tanggal lahir sebagai kata sandi demi kemudahan mengingat justru berujung pada risiko besar.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri, kejadian serupa juga sering menimpa, bahkan terhadap tokoh penting seperti CEO Facebook, Instagram, dan WhatsApp, Mark Zuckerberg. Akun Twitter Zuckerberg pernah diretas, terungkap bahwa ia menggunakan kata sandi “dadada” yang terlalu sederhana dan sama untuk beberapa akun media sosialnya. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, termasuk bagi seorang ahli teknologi sekalipun.
Kebocoran data bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Dampak negatifnya mencakup pencurian identitas untuk mengakses data pribadi, penyalahgunaan data untuk pinjaman online, dan kerugian finansial akibat rekening bank yang dibobol. Dalam skala makro, dampak tersebut bisa memicu krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia, dimana ketidakpercayaan masyarakat terhadap perbankan memicu penarikan massal uang secara bersamaan, bahkan mengguncang stabilitas sistem keuangan.
Rendahnya literasi keuangan di Indonesia menjadi salah satu penyebab utama masalah ini. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya 49,68 persen, sementara inklusi keuangan mencapai 85,10 persen. Gap ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Untuk itu, langkah holistik diperlukan. Tidak hanya pemerintah, semua lapisan masyarakat harus berperan aktif dalam pencegahan kejahatan siber. Bank Indonesia, sebagai bank sentral, memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat. Program edukasi seperti kebanksentralan, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), dan Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah dijalankan secara masif untuk meningkatkan literasi digital dan keuangan.
Setidaknya ada beberapa langkah preventif yang dapat diambil. Pertama, Menggunakan kata sandi yang kuat dan tidak mudah ditebak, serta berbeda untuk setiap akun. Kombinasi angka, huruf, dan simbol adalah pilihan terbaik. Kedua, mengaktifkan verifikasi dua Langkah. Fitur ini mengirimkan kode rahasia melalui pesan pribadi, memperkuat keamanan akun dari serangan hacker. Ketiga, waspada terhadap modus kejahatan digital. Menghindari klik tautan mencurigakan dari pesan WhatsApp, SMS, atau telepon dari nomor tak dikenal. Keempat, bijak bertransaksi digital. Menghindari penggunaan jaringan Wi-Fi publik saat melakukan transaksi digital, terutama untuk mobile banking dan pembayaran via QRIS. Menggunakan jaringan pribadi dapat meminimalisir risiko pencurian data.
Bank Indonesia telah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat menghadapi risiko serangan siber. Namun, tanggung jawab untuk menjaga privasi data juga berada di tangan individu. Edukasi digital yang telah diberikan harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah preventif ini, diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih siap dan terlindungi dari serangan siber. Edukasi dan kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan data pribadi menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan terpercaya.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra, Pegawai Bank Indonesia


Tinggalkan Balasan