SimpulRakyat.co.id, OPINI – Seorang pasien perempuan, Baeti (39), warga Pulau Satanger, Desa Satanger, Kecamatan Liukang Tangaya, terpaksa dirujuk ke Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggunakan perahu nelayan, lantaran Rumah Sakit (RS) Pratama Sailus tidak beroperasi.

Seorang pasien perempuan, Baeti (39), dirujuk ke Rumah Sakit yang berada di Nusa Tenggara Barat menggunakan perahu kecil. (Foto: Ist).

Tentu, berita tersebut menyayat hati masyarakat Pangkep, khusunya bagi warga yang berada di wilayah  kepulauan terluar kabupaten tiga dimensi ini.

Bagaimana tidak, RS Pratama Sailus yang telah diresmikan Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau pada Mei lalu, tak kunjung dimanfaatkan warga.

Padahal, pembangunan rumah sakit itu menelan anggaran negara yang nilainya tidak sedikit, yakni mencapai Rp60 miliar, terdiri dari Rp40 M pembangunan fisik dan sisanya untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes).

Perihal peristiwa itu, satu di antara 10 Dasa Cita Pangkep Hebat yang diusung Bupati dan Wakil Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau-Syahban Sammana (MYL-SS), yakni Dasa Cita Pangkep Sehat, patut dinilai hanya sebatas ‘agenda belaka’ untuk wilayah kepulauan terluar.

Dilansir dari laman Pangkep.go.id, Dasa Cita Pangkep Sehat adalah program penyehatan masyarakat untuk semua tingkatan dengan konsep “Jemput, Sehat, Pulang”, serta pembangunan apotik pulau dan apotik kecamatan untuk mempermudah layanan kesehatan masyarakat,

Selain itu, Dasa Cita Pangkep Sehat juga menjanjikan pemanfaatan kartu KIS yang terintegrasi melalui jaringan online, program satu desa satu dokter, rekam medic Masyarakat, serta pengadaan kotak Korona (KOKO).

Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau meresmikan RS Pratama Sailus, Senin (15/5/2023). (Foto: Ist).

Namun faktanya, janji politik MYL-SS itu hingga saat ini tampak sebatas iming-iming bagi warga Pangkep yang berada di wilayah kepulauan.

Demikian menimpa Baeti, pasien yang tak mendapat pelayanan medis di  RS Pratama Sailus, sehingga dia terpaksa dirujuk ke provinsi lain, NTB, menggunakan perahu sederhana yang terbuat dari kayu dengan ukuran terbilang kecil.

Tentu, kejadian ini kontras dengan prestasi yang ditorehkan MYL-SS di bidang kesehatan. Sehari sebelum peristiwa itu, Pemerintah Kabupaten Pangkep menerima penghargaan sebagai Kabupaten Sehat dari Kementerian Kesehatan RI.

Perihal peristiwa ini, kita semua tentu berharap, Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau mengambil sikap tegas, memerintahkan Dinas Kesehatan untuk segera merealisasikan “Dasa Cita Pangkep Sehat” di wilayah kepulauan, agar hal serupa tidak berulang.

Cukuplah Pangkep pernah dinobatkan jadi ‘Kabupaten Termiskin’ oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel pada Desember 2022 lalu. Jangan sampai Pangkep masa mendatang mendapat predikat baru, yakni daerah  yang memiliki pelayanan kesehatan terburuk di Sulsel. Naudzubillah min dzalik.

Akhir kata, memang tak ada pemimpin yang sempurna, tetapi ada cara hebat yang bisa MYL terapkan agar menjadi leader yang baik bagi masyarakat Pangkep, yakni fokus pada masa depan daerah dengan perencanaan yang terarah, melakukan evaluasi, mandiri, serta mampu mengukur pencapaian kepemimpinan di periode ini.

Penulis: Ahmad (Wartawan Muda Dewan Pers)