SimpulRakyat.co.id – Menjelajahi naskah ilmiah populer, saat ini seperti halnya mendatangi ‘pasar malam’ melimpah ruah, bermandi ‘cahaya’ semua terpajang dengan seronok.
Pagi ini sembari duduk mengamati prakiraan cuaca, saya bertandang ke buletin Quora.
Sudah tahun kedua saya rajin mampir di ‘arena’ itu, dan seperti biasa selalu ada kejutan.
Pagi ini kudapati pertanyaan, “Mengapa media Timur sangat akurat dalam memberitakan perang Rusia-Ukraina, tidak seperti media-media Barat yang berbohong?. Wooww…
Penulisnya berkata, “Saya berasumsi, Timur maksudnya media-media Rusia, RRC, atau pro Rusia lain, sementara Barat maksudnya media-media dari AS, negara-negara Eropa (yang pastinya pro Ukraina), atau negara-negara lain yang pro Ukraina”.
Menelisik pengamat pro Rusia semua berita dari Rusia dinilai “akurat” sedangkan yang anti Rusia dinilai “berbohong”.
Satu hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah seberapa tinggi tingkat kebebasan pers di negara itu.
Kalau di negara itu kontrol pemerintah atas media sangat ketat, itu berarti media-media itu lebih tinggi kecenderungan untuk menyiarkan propaganda pemerintah.
Sementara negara-negara dengan kebebasan pers tinggi pemerintah tidak punya kendali atas media, artinya media bisa memberitakan apa pun yang mereka mau, termasuk yang tidak sejalan atau kritis terhadap kebijakan pemerintahnya.
Ranking negara-negara dari yang persnya paling bebas sampai yang paling ketat kontrol pemerintahnya, ada di Press Freedom Index (silahkan lihat Wikipedia).
Harus diakui, negara-negara Barat memenuhi ranking-ranking tinggi. Apakah ini berarti yang pers bebas gak menyebarkan propaganda? Apakah mereka bisa dipastikan jujur? Tentu tidak. Afiliasi politik dari pemilik media bisa jadi menentukan arah politik dari media tersebut.
Mengambil contoh nyata media di AS, Donald Trump dipuja-puja oleh Fox News dan dikecam terus oleh CNN. Walaupun beritanya sama, tapi cara memberitakannya sangat bertentangan.
Apakah itu berarti pers yang punya kendali pemerintah lebih kuat seperti Rusia dan China, selalu memberitakan dusta dan propaganda? Tidak selalu juga.
Namun pers yang selalu harus distempel pemerintah sebelum menyiarkan berita lebih sulit untuk dilakukan pengecekan silang. Bisa yakin dari mana kita bahwa pemerintah tidak membohongi rakyatnya? Kita akan sulit diyakinkan kalau wartawan yang menulis artikel kritis terhadap pemerintah dibunuh, diintimidasi, ditangkap, dan medianya dibredel.
Jurnalis sedang berada dalam ujian berat. Media dan pemilik media (pemodal) tentu juga sedang diuji. Mengeluarkan modal untuk membentuk opini publik, bukan cerita kosong. Mempekerjakan jurnalis partisan (berpihak) juga bukan cerita tak berdasar.
Ujian pentingnya melalui pertanyaan, “Kepada siapa jurnalis mesti berpihak?.” Dalam ‘Sembilan Elemen Jurnalisme’ Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menegaskan ‘kepada publik’ atau kepada masyarakat. Jurnalis yang tidak berpihak pada masyarakat derajatnya menjadi ‘tukang tulis.’ Wallahu A’lam.
Antang, 16 Februari 2023
Zulkarnain Hamson


Tinggalkan Balasan