SimpulRakyat.co.id – Secara keilmuan dunia akademik menyumbang banyak bagi jurnalisme dan media. Satu diantaranya ‘Sosiologi Pers’ dimulai tahun 1910, saat Max Weber, dalam pertemuan ‘Komunitas Sosiologi’ di Jerman, memicu istilah itu. Pemikir Ferdinan Tonnies, juga menjadi intelektual yang tercatat sebagai yang pertama memperkenalkan kajian opini publik, yang punya relevansi dengan sosiologi pers. Sejarah awal ilmu ini banyak di dominasi oleh kajian tentang pers, yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Publisistik.’ Selanjutnya perkembangan membawanya menjadi ilmu komunikasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata publisistik adalah ilmu tentang kewartawanan dan media massa. Menurut Lesly (1992) Publisitas adalah penyebaran pesan yang direncanakan dan dilakukan untuk mencapai tujuan lewat media tertentu untuk kepentingan tertentu dari organisasi dan perorangan tanpa pembayaran tertentu pada media. Sedangkan David F. Rahmacitti (1990), Publisitas adalah berita yang ditulis oleh media massa yang mencakup pemberitahuan tentang suatu produk, layanan-layanan, acara-acara, posisi, pekerja, kontribusi, sejarah, atau tujuan dari suatu bisnis, agensi atau kelompok.

Dalam tradisi Eropa kontinental, atau mazhab keilmuan Eropa, publisistik tidak terbatasi hanya pada wartawan dan media semata, melainkan mencakup pemahaman komunikasi massa yang lebih luas. Penamaannya kemudian bertumbuh dan berganti menjadi ‘Communication’ oleh para penganut mazhab Amerika, setelah sentuhan teknologi informasi mulai ikut mewarnai. Menurut Raymond Ross; “Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu penerima pesan membangkitkan respon/makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator. Gerald R. Miller; “Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk mempengaruhi perilaku mereka.”

Coba kita lihat definisi Jurnalistik menurut F. Fraser Bond, ‘An Introduction to Journalism’. “Journalism embraces all the forms in which and trough which the news and moment on the news reach the public”. Katanya Jurnalis adalah segala bentuk yang membuat berita atau ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati. Roland E. Wolseley, dalam ‘Understanding Magazines’ “Jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat, pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran.”

Sampailah rentetan kajian komunikasi yang terus bertumbuh dengan lebih dari 200 teori dan 40 model, mengadopsi banyak disiplin kajian lain bahkan sampai ke bidang teknik dan kedokteran, ilmu komunikasi telah menyumbang begitu banyak ‘perkawinan’ ilmu-ilmu lain yang bukan saja dari pohon ilmu sosial. Salah satu yang kini kita saksikan dan jalani adalah teknologi komunikasi dan informasi setelah ilmuan Amerika Serikat menemukan piranti internet, dan dimulailah abad baru bernama online, dan dengan itu sekarang anda dan saya sedang berkomunikasi melalui dinding media sosial Facebook.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalis Online Indonesia).