SimpulRakyat.co.id – Penggambaran secara utuh sebuah realitas dalam liputan dan diterbitkan oleh jurnalis di medianya dikategorikan sebagai ‘jurnalisme etnografi’ pemaparan seluruh proses di lapangan dengan mengadopsi berbagai prospek sumber yang mereka peroleh kepada pembaca. Selanjutnya pada tingkatan gaya bahasa, akan dibahas prosa yang serta komposisi yang menghibur. Dengan demikian tujuan akhir dari praktik etno jurnalisme, adalah produk jurnalistik mencerahkan yang dihasilkan, seorang jurnalis.

Untuk mengetahui lebih jauh, dalam dunia pengetahuan kalangan akademisi menjelaskan Etnografi merupakan jenis metode penelitian terapan yang digunakan untuk penemuan relevansi sosiokultural. Pada umumnya akan lebih dikembangkan atau dieksplorasi dengan menggunakan berbagai model berkaitan dengan kehidupan sehari hari dan juga interaksi kelompok sosial budaya tersebut dalam jangka waktu dan ruang tertentu. Secara bahasa, etnografi berarti potret suatu masyarakat, demikian menurut Marvin Harris and Orna Johnson, dengan penegasan penelitian etnografi adalah gambaran tertulis tentang suatu budaya, adat, kepercayaan, dan perilaku berdasarkan pengamatan langsung.

Secara bahasa, kata etnografi berasal dari bahasa Yunani; ‘ethos’ yang artinya deskripsi atau penggambaran mengenai orang, suku, bangsa yang diuraikan dengan tulisan. Kemudian, secara harfiah bisa disebut bahwa etnografi adalah budaya dalam perspektif keilmuan. Istilah etnografi diambil dari sub cabang Ilmu Antropologi, yang artinya; lahir dan merupakan embrio dari keilmuan Antropologi. Mengapa jurnalisme etnografi menarik dan terpelihara hingga kini, karena kemampuannya mendeskripsi secara lebih utuh rangkaian fakta-fakta yang ditemukan, dengannya pembaca memperoleh fenomena yang ada.

Michael H. Agar (1986), memberikan tawaran baru tentang penelitian etnografi dengan dilandasi pemikiran fenomenologi, mengutip pendapat Giddens (1976), adalah inti dari proses mediasi kerangka pemikiran. “Hakikat dari suatu mediasi tertentu akan bergantung dari hakikat tradisi dimana terjadi kontak penelitian lapangan.” Selanjutnya bagaimana jurnalis dapat memakai pendekatan teori etnografi, dalam kerja jurnalistik di lapangan, jawabannya menurut saya ada pada fenomenologi. Kemauan untuk ‘membaca dan memahami fenomena’ adalah kunci mengisi bobot karya jurnalistik.

Beruntunglah jurnalis yang hidup di Indonesia, negeri dengan beragam etnik, budaya, bahasa, suku, agama dan keyakinan. Sebuah peristiwa akan membuka ketajaman ‘mata hati’ pendengaran dan menempatkannya dalam uji kredibilitas, kompetensi, kemampuan, seorang wartawan saat meliput dan menyusun liputannya. Pemahaman akan teori dalam tradisi ilmiah, tidak ada salahnya bagi jurnalis yang memiliki visi dan orientasi kualitas. Pemimpin media yang sadar akan tantangan masa depan, akan dengan senang hati menjadi fasilitator menuju kualitas media, dengannya pasar terpelihara.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat JOIN Nasional)