SimpulRakyat.co.id – Menghabiskan sisa hidupnya di rumah kontrakannya di Bekasi, Jawa Barat. Surastri Karma Trimurti (Soerastri Karma Trimoerti) dikenal dan dikenang dengan nama populer S.K. Trimurti, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 11 Mei 1912.

Perempuan pejuang dan pejuang perempuan ini akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 20 Mei 2008, adalah wartawan, penulis dan guru Indonesia, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia menghadapi keganasan balantentara penjajah Belanda, juga Jepang. Ia seorang wartawan sejati, pahlawan bagi Bangsa Indonesia.

Tahun 1938 menikah dengan Muhammad Ibnu Sayuti, akrab disapa Sayuti Melik, tokoh ini juga dikenang sejarah karena perannya sebagai pengetik naskah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia, yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945.

Kisah asmara keduanya hingga ke pelaminan tidak banyak ditemukan, selain bahwa keduanya adalah wartawan pejuang. Catatan pribadi menyebutkan keduanya akhirnya berpisah karena perbedaan ideologi juga haluan politik, selepas Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Trimurti mengikuti Sekolah Guru Putri. Menempuh pendidikan di Normaal School dan AMS di Surakarta, Solo. Kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia (UI) meraih gelar Doktoranda dari Universitas Indonesia (UI), disamping aktif sebagai guru, ia juga aktif di bidang jurnalistik baik sebagai wartawan juga pemikir. Pada pembentukan kabinet pertama Presiden Sukarno, Trimurti diangkat sebagai Menteri Perburuhan. Tugasnya mengurus tenaga kerja dan buruh.

Trimurti memulai kariernya sebagai guru sekolah dasar setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School.

Ia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an.

Ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 karena aktivitasnya menyebarkan selebaran anti pemerintah Belanda, dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Bulu di Semarang.

Namun napas perjuangannya melalui profesi wartawan tidak terbendung. Dia terus menyuarakan ketidakadilan melalui tulisan-tulisan di media.

Menghindari tekanan penguasa, Trimurti beralih karier dari mengajar jurnalistik setelah dibebaskan dari penjara. Ia segera menjadi terkenal di kalangan wartawan karena sikap anti-kolonial sebagai, namanya dikelompokkan dalam wartawan kritis. Dalam banyak tulisan “Trimurti” sering digunakan berbeda, biasa digunakan sebagai nama samaran, seperti “Trimurti” atau “Karma”, dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah kolonial Belanda. Selama karier wartawannya, Trimurti bekerja di sejumlah surat kabar yang terbit di Indonesia diantaranya Pesat, Genderang, Bedung, dan Pikiran Rakyat. Ia menerbitkan Pesat bersama suaminya Sayuti Melik.

Saat pendudukan Jepang, Koran Pesat dilarang terbit oleh pemerintah militer Jepang. Ia bahkan ditangkap dan disiksa. Seperti mutiara kata dalam kehidupan media, ‘Wartawan adalah pejuang’ sekilas kehidupan pahit getir dan manis dari SK Trimurti telah memberi warna bagi generasi sesudahnya bahwa “wartawan dan medianya memperjuangkan kebenaran” sekalipun dalam perspektif berbeda mungkin dianggap pemberontak. “Selamat memperingati Hari Pers Nasional perjuangan belum selesai.”

Penulis: Zulkarnain Hamson (Pengajar Jurnalistik).