SimpulRakyat.co.id – Pentingkah seorang jurnalis belajar tentang teori?. Jawabnya: YA. Seorang jurnalis hebat, atau yang ingin menapak karir menuju puncak profesinya mutlak memahami banyak ilmu dasar dimana teori bersandar.

Untuk itu, seorang jurnalis tak perlu menjadi akademisi, cukup menjadi pembelajar yang baik. Literasi teori akan membuat jurnalis bisa menapaki tangga profesinya dengan hati-hati. Era dimana kekuasaan dan masyarakat takut pada media telah berakhir. Kini era jurnalis menjadi pembeda bagi ‘tsunami informasi’.

Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgi dicetuskan oleh Erving Goffman pada tahun 1959 yang termuat dalam karyanya berjudul “Presentation of Self in Everyday Life”. Erving Goffman, lahir 11 Juni 1922, Mannville, Kanada. Menghembuskan nafas terakhir pada 19 November 1982, di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika. Apa pentingnya Goffman dan teorinya yang mendunia itu bagi wartawan?.

Pentingnya wartawan memahami Dramaturgi, karena fokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka melakukannya. Berdasarkan pandangan Kenneth Burke bahwa pemahaman yang layak atas perilaku manusia harus bersandar pada tindakan, dramaturgi menekankan dimensi ekspresif atau impresif aktivitas manusia. Burke melihat tindakan sebagai konsep dasar dalam dramatisme. Artinya orang-orang yang diliput berita adalah ‘pemain drama’.

Jauh sebelum Goffman, pada 17 Agustus 1864, lahir Charles Horton Cooley adalah seorang sosiolog yang berasal dari Amerika Serikat. Cooley dalam mengemukakan teorinya terpengaruh oleh aliran romantik yang mengidamkan kehidupan bersama, rukun dan damai. Hasil-hasil karyanya, antara lain: Social Process Social Organization Human nature and social order. Cooley membuka jalan bagi Goffman menganalisis prilaku manusia, mereka inilah yang kemudian diliput media sebagai bahan berita.

Dunia ini ‘panggung sandiwara’ saya dan anda akan bertemu banyak pemain drama, di panggung sosial, ekonomi, terlebih politik. Dengan memahami Dramaturgi kita akan bisa dengan leluasa menjelajahi setiap ‘aktor’ yang berperan aktif maupun pasif pada setiap peristiwa. Mereka inilah yang mewarnai hidup dan kehidupan. Wartawan perlu memahami dan mengenal aktor dalam realitas keseharian. Tentu saja wartawan jangan ikut menjadi aktor agar beritanya tetap mencerahkan. Tidak terkontaminasi dan tentu saja independen. Selamat berakhir pekan.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalis Online Indonesia).