SimpulRakyat.co.id – Indonesia mengenalnya dengan nama ‘Berita Palsu’ sebutan untuk berita yang tidak memiliki kebenaran fakta, dengan kata lain adalah informasi tak benar yang disajikan sebagai berita.

Pertanyaannya apakah ada berita palsu?. Jawaban pastinya; “Ada”. Tetapi itu hampir tidak ditemui di media arus utama, yang kredibilitasnya sangat terjaga. Jadi dimanakah berita palsu itu terpublikasi, jawabannya bisa dimana saja.

Stasiun televisi Amerika Serikat (AS), NBC, akhirnya memutuskan menskors pembawa acara Brian Williams, selama enam bulan setelah dia mengakui bahwa dirinya berbohong terkena tembakan musuh saat berada dalam liputan perang Irak.

Mengapa William berbohong?, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Tetapi sebagai mantan jurnalis, saya menduga yang ada dalam kepalanya bagaimana menciptakan heroisme sebagai penyampai informasi, dan itu kebablasan.

Pembawa acara yang populer di AS itu, beberapa kali menyebut dirinya berada di helikopter yang terkena tembakan. Namun akhirnya dia meminta maaf dalam siaran persnya. Williams mengaku bahwa ceritanya tidak benar dan menyalahkan “ingatannya yang kabur”. Kata lain dari ketidakjujurannya pada pemirsa tivi di AS. Namun apa mau dikata, ‘nasi telah menjadi bubur.’ Orang-orang telah menelan informasi yang dikirimnya.

Media-media besar seperti surat kabar ‘the New York Times’ juga tidak luput dari kebohongan cerita para wartawannya. Tidak tanggung-tanggung, satu dari dua wartawan the Times (sebutan bagi the New York Times) tersandung masalah fake news, yang memilukan lagi, pelakunya adalah peraih Pulitzer atau penghargaan tertinggi bagi wartawan cetak di AS, serta menjadi standar kualitas tertinggi bagi seorang wartawan dalam karir jurnalistiknya.

Kasus pertama menerpa surat kabar berbasis di Kota New York, Amerika Serikat, itu adalah pemenang Pulitzer pada 1932, Walter Duranty. Lelaki asal Kota Liverpool, Inggris, ini merupakan wartawan biro the Times di Ibu Kota Moskow, Uni Soviet (sekarang Rusia). Duranty bekerja bagi ‘The Times’ selama kurun 1922-1936. Tulisannya yang menang Pulitzer adalah soal kelaparan di Negara Bagian Ukraina, Uni Soviet. Namun dewan Pulitzer sembilan tahun lalu meninjau lagi penghargaan buat Duranty itu.

Dia dinilai sengaja mengabaikan fakta. Dewan kemudian meminta profesor sejarah dari Universitas Columbia, Amerika, Mark von Hagen, meneliti tulisan Duranty. “Tulisan Duranty sering dibuat dengan menggunakan bahasa propaganda dalam sumbernya. Itu menjadi hal serius dari ketidakseimbangan pada tulisannya,” ucapnya, seperti dilansir surat kabar USA Today, Oktober 2003. Berita bohong sangat mudah dideteksi, kenali dari caranya menyodorkan Empat fakta, yakni Empirik, Publik, Psikologis dan Opini. Jika itu semua bisa ditelusuri dan ditemukan tidak berdasar maka bisa dipastikan seorang wartawan telah berbohong, dan sasaran kebohongan itu tentulah publik.

Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalis Online Indonesia).