SimpulRakyat.co.id, OPINI – Pangkep memiliki PT Semen Tonasa, industri raksasa yang menyumbang 45,96 persen PDRB daerah. Ekonomi tumbuh 5 persen, kemiskinan turun. Namun pertanyaan paling tajam justru muncul: seberapa besar produksi bernilai triliunan itu benar-benar mengalir masuk ke kantong warga sekitar dan usaha lokal?
Teori ekonomi mengajarkan bahwa industri besar seharusnya memicu efek berantai. Gaji pekerja dibelanjakan di pasar lokal, pemasok lokal mendapat pesanan, usaha kecil tumbuh, lapangan kerja terbuka. Uang berputar, bukan lewat begitu saja.
Tetapi di lapangan, realitas sering kali berbeda. BPS mencatat 54,38 persen pekerja di Pangkep masih bertahan di sektor informal, pendapatan tidak pasti, perlindungan tidak ada. Ini tanda tanya besar: ke mana sebenarnya pertumbuhan itu mengalir?
Selama ini ukuran kontribusi perusahaan sering kali hanya berhenti pada angka CSR atau TJSL. Rp4,49 miliar ke wilayah Ring 1 memang patut diapresiasi. Namun bantuan alat, pelatihan, atau bazar adalah pemberian, bukan kemandirian.
Yang jauh lebih krusial adalah berapa persen belanja operasional dan pengadaan perusahaan masuk kepada pemasok lokal? Berapa UMKM Ring 1 yang menjadi pemasok rutin? Berapa nilai transaksinya? Jika mayoritas kebutuhan katering, transportasi, percetakan, pemeliharaan, bahan penunjang, dan jasa lainnya tetap didatangkan dari luar daerah, maka terjadi apa yang disebut kebocoran ekonomi. Produksi besar, tetapi uangnya bocor keluar. UMKM lokal hanya menjadi penonton di kampung sendiri.
Ring 1 adalah wilayah yang paling menanggung dampak industri, debu, lalu lintas, perubahan lingkungan, serta pemanfaatan sumber daya. Secara keadilan ekonomi, wilayah inilah yang paling berhak mendapat prioritas peluang.
Bukan berarti semua orang harus bekerja di pabrik. Yang dibutuhkan adalah akses masuk ke rantai pasok. Katering dari warga sekitar, transportasi dikerjasamakan dengan pengusaha lokal, seragam dan perlengkapan dibeli dari konveksi setempat, serta jasa pemeliharaan melibatkan bengkel warga. Satu kontrak berkelanjutan nilainya jauh melampaui seratus kali pembagian bantuan yang habis dalam sehari.
Di sinilah peran pemerintah daerah sangat ditunggu. Pemda tidak boleh sekadar hadir saat penyerahan bantuan. Perlu langkah konkret, yaitu membangun basis data UMKM Ring 1 yang akurat dan diperbarui. Data tentang siapa pelaku usahanya, apa produknya, berapa kapasitasnya, legalitas usahanya, serta kualitas barang dan jasanya.
Kemudian duduk bersama perusahaan, perbankan, perguruan tinggi, dan pelaku usaha menyusun skema pengembangan pemasok lokal. Ada yang membutuhkan permodalan, ada yang butuh sertifikasi, ada yang perlu peningkatan kualitas, dan ada yang sebenarnya sudah siap langsung masuk pengadaan perusahaan. Tidak boleh satu resep untuk semua kondisi.
Perlu juga transparansi data pengadaan lokal. Berapa persen belanja perusahaan yang terserap di Pangkep? Berapa persen yang berasal dari Ring 1? Berapa tenaga kerja lokal yang terserap dari transaksi pengadaan tersebut? Angka-angka ini akan berbicara jauh lebih jujur dibanding sekadar laporan kegiatan dan seremonial.
PT Semen Tonasa tetap menjadi aset terbesar ekonomi Pangkep. Potensinya menggerakkan ekonomi rakyat sangat besar. Namun potensi baru menjadi manfaat nyata jika ada niat bersama untuk membuka pintu pengadaan bagi UMKM lokal, bukan sekadar membagikan bantuan.
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya terlihat mengagumkan di atas kertas PDRB. Pertumbuhan itu harus punya alamat. Dan alamat pertamanya mestinya adalah rumah-rumah warga yang tinggal paling dekat dengan sumber pertumbuhan tersebut. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah industri tidak diukur dari seberapa besar produksinya, melainkan dari seberapa banyak ekonomi rakyat di sekitarnya ikut tumbuh bersama perusahaan tersebut.
Oleh: Muh. Sapril Ahmad, S.E., M.M.
Mahasiswa Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin.


Tinggalkan Balasan