SimpulRakyat.co.id – Jurnalisme bertutur adalah istilah lain untuk menyebutkan feature news kerap terdengar disebut ‘ficer’. Jenis berita ini mengandalkan kekuatan seorang jurnalis dalam bertutur, atau mengungkap realitas, keadaan atau fenomena secara utuh.
Tempo media menuliskan; Dalam menulis berita jenis feature, yang utama adalah pengungkapan fakta. Tapi, dalam penulisan dapat memakai teknik “mengisahkan sebuah cerita”. Itulah perbedaan pokok antara berita “keras” (hardnews) dan tulisan feature.
Dalam tradisi kerja media, jajaran pimpinan redaksi tidak membatasi penulisan jenis berita feature, akan tetapi tidak semua jurnalis memiliki kemampuan dalam mengerjakannya.
Masih dari Tempo; Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah-seorang yang bertutur. Itu pula sebabnya, untuk feature, sering digunakan istilah “jurnalisme bertutur”.
Seorang penulis feature bagaikan “empu” yang melukis dengan kata-kata. Ia menghidupkan imajinasi pembaca; menarik pembaca masuk ke dalam cerita tentu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.
Karena ‘kekuatan’ pada membangun narasi, kemampuan memadukan fakta, meramu diksi, menentukan sudut pandang, maka terkadang tugas menulis feature, diserahkan kepada jurnalis yang lebih senior.
Senior dalam arti yang lebih luas, terutama pada masa tugas, pengalaman lapangan atau ‘jam terbang.’ Jurnalis yang ‘kenyang’ pengalaman lapangan dipastikan memiliki daya ‘angkat’ sebuah peristiwa biasa menjadi istimewa.
Saya kerap mengistilahkan kemampuan menjadikan peristiwa kecil menjadi luar biasa, dengan ‘magnitude’ (daya getar) yang ditimbulkan bagi pembaca.
Dulu semasa kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi (kini Departemen), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Hasanuddin (Unhas), kami memiliki seorang dosen jurnalistik yang sangat inspiratif, Sinansari ecip.
Teringat perkataan beliau; Tulisan Feature (ficer) adalah satu dari jenis tulisan jurnalistik isinya perpaduan berita dan opini, dengan gaya bercerita (story telling) mengandung unsur menyentuh rasa (human interest) dan bahasa sastra yang indah. Kini secara substansi struktur ficer tidak berubah, semua tergantung ‘kualitas’ penulisnya.
Pada umumnya tulisan ficer ‘diangkat’ dari peristiwa kecil dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki ‘cita rasa’ dalam prediksi penulisnya.
Bagi sebagian orang itu mungkin bukan hal penting, tetapi di tangan jurnalis hebat, cerita kecil yang dibuang sayang itu akhirnya menjadi bernilai. Kisah gagalnya kekuatan pawang hujan di Mandalika, atau seorang bocah miskin yang ternyata jawara kelas, dan kisah-kisah inspiratif yang mampu menitipkan pelajaran moralitas bagi pembaca, sangat mumpuni dijadikan bahan ficer. Sekali lagi tentu berpulang kepada siapa penulisnya. Selamat berakhir pekan.
Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusdiklat JOIN Nasional)


Tinggalkan Balasan