SimpulRakyat.co.id, Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) menerima 20 mahasiswa baru penyandang disabilitas pada 2026. Mereka tersebar di 12 program studi dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Penerimaan tersebut menjadi bagian dari komitmen Unhas membangun lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif dan memberikan kesempatan setara bagi mahasiswa disabilitas.
“Kita membuka akses pendidikan bagi mahasiswa disabilitas, kemudian memastikan proses belajar mereka berlangsung dengan dukungan yang sesuai untuk Unhas sebagai kampus inklusif,” ujar Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa dalam keterangannya di Makassar, Rabu (12/8/2026).
Jamaluddin mengatakan, komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penerimaan mahasiswa disabilitas, tetapi juga dengan membenahi aksesibilitas fisik, sistem pembelajaran, dan layanan akademik.
Sejumlah fasilitas kampus telah dilengkapi ramp, toilet aksesibel, area parkir khusus, serta penanda aksesibilitas. Unhas juga mengembangkan jalur akses horizontal dan vertikal, termasuk penyediaan lift pada bangunan bertingkat untuk mendukung mobilitas mahasiswa disabilitas fisik.
Di bidang pembelajaran, sejumlah dosen menggunakan keterangan teks secara langsung (real-time caption) melalui Zoom dan Google Teams untuk membantu mahasiswa tuli mengikuti perkuliahan. Penyesuaian jam belajar juga dilakukan sesuai kebutuhan mahasiswa.
Pusat Disabilitas Unhas turut menginisiasi pembelajaran bahasa isyarat untuk memperluas kemampuan komunikasi di lingkungan kampus. Saat ini, Unhas memiliki tiga juru bahasa isyarat dan 10 relawan isyarat.
“Langkah ini mencerminkan upaya Unhas membangun lingkungan akademik yang aksesibel dan setara bagi seluruh mahasiswa,” kata Jamaluddin.
Untuk memperkuat penerapan pembelajaran inklusif, Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP) Unhas sedang menyusun pedoman pembelajaran inklusif yang nantinya menjadi acuan bagi dosen.
Unhas juga terus mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif, termasuk bagi mahasiswa dengan disabilitas intelektual. Penguatan akses fisik antarruang akademik dilakukan secara bertahap agar mobilitas mahasiswa semakin mudah.
Menurut Jamaluddin, pembangunan kampus inklusif mencakup kebijakan, fasilitas, pembelajaran, riset, hingga budaya akademik.
“Inklusivitas ini kami bangun melalui kebijakan, fasilitas, pembelajaran, riset, dan budaya akademik, bahkan kami ada TRG (Disability Research Group). Dengan pendekatan tersebut, kami ingin mahasiswa disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi di Unhas,” ujarnya.
Penerimaan mahasiswa disabilitas di Unhas telah dilakukan secara sistemik sejak 2023. Penerimaan pada 2026 menjadi kali keempat kampus tersebut membuka ruang bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Sejak Pusat Disabilitas Unhas berdiri pada 2023, tercatat 70 mahasiswa disabilitas telah diterima di berbagai fakultas dan program studi, termasuk pada jenjang magister.
Jumlah tersebut menunjukkan konsistensi Unhas dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas sekaligus membangun lingkungan akademik yang lebih inklusif. (**)


Tinggalkan Balasan