SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Malam di Kufah turun perlahan. Udara terasa berat, seolah langit menyimpan rahasia yang enggan diungkapkan. Di dalam rumah sederhana itu, nyala lampu minyak menari lembut, menebar cahaya kekuningan di dinding tanah liat, menyentuh wajah seorang lelaki yang tak biasa. Wajah yang pernah menatap langsung ke mata Rasulullah SAW, yang pernah menggenggam bendera kebenaran di setiap medan pertempuran.
Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah az-Zahra, ayah dari Hasan dan Husain, saat itu duduk dalam diam. Matanya memandang jauh, lebih jauh dari dinding rumahnya, seolah sedang menatap ke balik tirai waktu, ke masa di mana segalanya masih terang oleh cahaya kenabian.
Ia memejamkan mata, dan yang terlintas adalah wajah Rasulullah. Senyum lembutnya. Suaranya yang menenangkan.
“Engkau dariku, wahai Ali, dan aku darimu.”
Kalimat itu selalu menjadi penguat, bahkan saat dunia terasa remuk oleh kebencian manusia yang kehilangan arah.
Namun malam itu, dadanya terasa berat. Ada firasat yang sulit dijelaskan. Ia telah merasakan bisikan halus di relung jiwanya sejak beberapa hari terakhir, bisikan yang hadir setiap kali adzan Subuh berkumandang, seolah waktu perlahan menuntunnya menuju perjumpaan dengan Kekasih sejatinya, Allah SWT.
Di luar rumah, angin berembus membawa aroma lembap tanah Kufah. Kota itu gelisah. Setelah wafatnya Utsman bin Affan, darah tumpah di mana-mana. Fitnah menjalar bagai api di musim kering. Nama-nama besar menjadi bayangan dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, yaitu kekuasaan.
Dan di tengah badai itu, Ali memilih berdiri di sisi kebenaran, menjaga agar umat tidak binasa oleh kebencian mereka sendiri. Namun sebagian orang tak mengerti. Mereka menyebutnya lemah karena ingin berdamai, menuduhnya mundur hanya karena menolak menuntut balas dengan darah.
Dari situlah lahir kaum Khawarij, mereka yang menganggap diri paling suci, berani mengkafirkan siapa pun yang tak sependapat. Di antara mereka berdiri seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam.
Dulu ia hanyalah seorang yang tekun beribadah, dikenal cerdas dan wara’. Di masa awal kekhalifahan Ali, ia memuji keadilan dan kesalehan sang pemimpin. Tapi hati manusia bisa berbalik secepat arah angin.
Perang Shiffin menjadi titik patah yang memisahkan saudara dari saudara. Di tengah debu dan denting pedang, keputusan Ali menerima tahkim — perundingan damai — menjadi luka yang tak tertutup bagi sebagian orang.
“Engkau menyerahkan urusan Allah kepada manusia! Engkau menodai kehendak Ilahi!” suara Ibnu Muljam menggema, mengarah kepada menantu Rasulullah yang berdiri dengan wajah teduh di hadapannya.
Ali mendengarnya, tapi tak membalas. Ia tahu, kebenaran kadang hanya bisa dijawab dengan kesabaran. Tapi kesabaran tak selalu dimengerti oleh mereka yang haus akan darah dan kepastian.
Ibnu Muljam meninggalkan barisan Ali dan bergabung dengan Khawarij. Di lingkaran sempit yang dibangun atas nama kesucian itu, lahir tekad yang mengerikan, yaitu membunuh tiga tokoh besar sekaligus — Ali di Kufah, Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Ash di Mesir — dengan keyakinan bahwa dunia akan “dibersihkan” dari kesalahan.
Malam itu, Ibnu Muljam mengasah pedangnya. Besinya dingin, tapi matanya lebih dingin. Ia menatap bilahnya seperti seorang pecinta menatap kekasihnya. Racun telah dioleskan di tepi pedang itu, racun yang mematikan hanya dengan satu goresan kecil.
“Demi Allah, ini bukan pembunuhan. Ini jalan menuju surga,” bisiknya.
Betapa kelam ketika manusia memelintir nama Tuhan untuk membenarkan kebencian mereka sendiri.
Sementara itu, di rumahnya, Ali memanggil kedua putranya. Hasan dan Husain datang dengan langkah tergesa, wajah mereka memantulkan kegelisahan yang sama.
“Ayah, engkau tampak berbeda malam ini,” kata Hasan pelan.
Ali tersenyum. Senyum yang menenangkan, meski di baliknya tersimpan kepasrahan yang dalam.
“Anakku, setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Aku hanya ingin kalian tahu, tak ada yang kusesali, tidak perang, tidak keputusan, tidak pula kebisuan yang membuat orang salah paham. Semua kulakukan agar darah kaum muslimin tak lagi menodai bumi.”
Husain menatap ayahnya lama. “Apakah ini firasat, Ayah?”
Ali tak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit rumah, seolah melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
“Wahai langit, saksikanlah. Aku telah berusaha menjaga persaudaraan di bumi.”
Fajar menyingsing. Suara adzan Subuh menggema dari menara Masjid Kufah. Angin pagi membawa aroma basah dari tanah dan dedaunan kurma.
Ali keluar dari rumah dengan langkah tenang. Bayangan tubuhnya memanjang di jalan yang sunyi. Setiap langkah terasa berat, namun matanya tetap memancarkan cahaya keyakinan yang lembut.
Di langit, bintang terakhir perlahan lenyap.
Ibnu Muljam berdiri di sudut gelap pintu masjid. Pedangnya bergetar di tangan yang dingin. Ia menunggu dalam diam yang rapuh, sementara dadanya bergemuruh oleh keyakinan yang telah kehilangan cahaya. Dari kejauhan, Ali datang tanpa pengawal, tanpa tameng, hanya dengan jubah lusuh dan wajah yang tenang, seolah hendak menyambut takdir dengan senyum seorang hamba.
“Ya Allah, aku lakukan ini demi-Mu,” bisiknya.
Saat Ali menunduk hendak sujud, pedang itu terayun cepat membelah udara, menghantam kepala sang khalifah. Cahaya darah memercik di antara seruan takbir.
“Hukum hanyalah milik Allah, bukan milikmu, wahai Ali!” pekik Ibnu Muljam.
Suara itu menggema, mencabik keheningan masjid. Para sahabat berlari, tapi sudah terlambat. Ali terjatuh. Wajahnya berlumuran darah, namun matanya masih memandang lembut tanpa amarah, tanpa benci, hanya kesedihan mendalam seolah berkata: “Betapa mudahnya manusia dibutakan oleh keyakinan tanpa kasih.”
Ali dibawa pulang. Hasan dan Husain menangis di sisinya, menggenggam tangan yang dulu mengguncang pintu Khaibar, tangan yang dulu menegakkan keadilan di Madinah, kini gemetar, melemah.
“Wahai anak-anakku,” suaranya lirih.
“Jangan balas dengan darah siapa pun. Biarkan aku pergi dengan tenang. Sampaikan salamku kepada umat, bahwa Ali telah berusaha sebaik yang ia bisa.”
Air mata Hasan jatuh di tangan ayahnya. Husain berbisik, “Semoga Allah meridhai perjuanganmu, Ayah.”
Ali tersenyum sekali lagi. Lalu menatap langit yang perlahan memutih.
“Fuztu wa rabbil Ka‘bah (Demi Tuhan Ka‘bah, aku telah beruntung).”
Dan dengan itu, ia menutup mata untuk selamanya.
Berita itu menyebar cepat di Kufah. Orang-orang menangis di jalanan, sebagian tak percaya, sebagian menyesali keangkuhan yang telah memecah umat. Di masjid tempat darah itu tumpah, udara seolah membeku.
Seorang lelaki tua berbisik, “Sejak hari ini, dunia kehilangan cahaya kebijaksanaan.”
Ibnu Muljam ditangkap. Di hadapan orang banyak, ia tak menyesal.
“Aku melakukannya demi Allah,” katanya datar.
Namun tak ada cahaya di wajahnya, tak ada ketenangan dalam suaranya. Yang tersisa hanyalah kehampaan, seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia telah menikam bukan musuh, melainkan wali.
Bertahun-tahun kemudian hingga saat ini, nama Ali tetap hidup. Dalam setiap mimbar, dalam setiap hati yang mencintai keadilan, ia hadir sebagai cahaya yang tak lekang.
“Ali dibunuh, tapi tak pernah mati. Karena cahaya tak bisa dibunuh oleh gelap.”
Kisah Subuh di Kufah itu pun menjadi pengingat bahwa kekuasaan bisa merebut tahta, tapi tak bisa memadamkan cinta. Bahwa iman sejati tak tumbuh dari pedang, melainkan dari kasih.
Dan bahwa setiap langkah menuju Allah, sejauh apa pun jalannya, harus dimulai dari hati yang bersih.
Ada orang yang pergi dengan darah, tapi meninggalkan cahaya. Ada pula yang hidup dengan pedang, tapi hanya meninggalkan luka. Wallahu a‘lam.
Catatan Redaksi:
Kisah ini disarikan dari beberapa sumber, antara lain Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah karya Prof Dr Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif, Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein, dan 150 Kisah Ali bin Abi Thalib karya Ahmad Abdul ‘Al Al-Thahthawi.


Tinggalkan Balasan