SimpulRakyat.co.id, Kahazanah – Madinah sore itu seperti menahan napas. Langitnya lembut, namun kelabu. Udara membawa aroma debu seolah menyimpan duka yang belum selesai.

Di dalam rumah kecil yang sederhana, seorang perempuan berwajah pucat tengah duduk di sudut ruangan. Kedua tangannya menggenggam ujung selendang putih yang dulu pernah dijahitkan sendiri oleh ayahnya, manusia termulia di muka bumi.

Dialah Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah SAW. Ratu wanita surga yang kini memanggul rindu yang tak tertahankan.

Sejak hari ayahandanya kembali ke pangkuan Allah SWT, waktu seakan berhenti berjalan baginya. Ia tak lagi mengenal pagi dan malam, hanya keheningan yang menyesakkan di dada. Suara ayahnya, tawa lembut yang dulu menenangkan, kini hanya tinggal gema samar dalam ingatan.

“Wahai ayah… seolah rumah ini sunyi tanpa napasmu,” bisiknya suatu sore, sambil menatap tikar yang pernah dipakai Rasulullah untuk beristirahat.

Ali bin Abi Thalib — suami yang setia, sekaligus sepupu Rasulullah — memperhatikannya dari kejauhan. Ada sesak yang tak bisa ia ungkap.

Ia tahu, cintanya tak akan pernah menandingi cinta antara ayah dan putrinya itu. Karena sejak kecil, Fatimah tumbuh dalam bayangan kasih sayang Rasulullah. Ia adalah bayangan lembut beliau –kesabarannya, ucapannya, bahkan caranya berjalan, semua mengingatkan orang pada sosok Nabi.

“Fatimah, rindu itu bukan untuk dihapus, tapi untuk disabarkan,” ujar Ali suatu malam dengan suara yang nyaris patah.

Mendengar itu, Fatimah tersenyum tipis, matanya basah.

“Abul Hasan (ayah Hasan), aku telah mencoba sabar, tapi setiap kali aku mengingat wajah ayah, dadaku seperti retak. Bagaimana mungkin aku bisa hidup di dunia yang tak lagi menampung suaranya?” ” jawabnya pelan.

Ali menunduk. Tak ada jawaban yang cukup untuk duka sebesar itu.

Hari-hari berikutnya, tubuh Fatimah semakin lemah. Seolah rindu telah menjadi penyakit yang tak terobati. Tapi bahkan dalam sakitnya, ia masih memikirkan orang lain. Ia masih menyiapkan makanan untuk Hasan dan Husain, masih tersenyum ketika melihat Zainab kecil memeluk kakinya.

“Asma’,” panggilnya lembut kepada pelayan sekaligus sahabatnya, Asma’ binti Umais.

“Ya, Sayyidati?”

“Dapatkah engkau menutupi tubuhku nanti… dengan sesuatu yang tidak menampakkan bentuknya?” pinta Fatimah.

Asma’ tertegun. “Mengapa engkau berkata seperti itu, wahai putri Rasulullah?”

Fatimah menatapnya dengan mata yang bening, teduh, dan penuh ketenangan aneh.

“Aku melihat orang-orang Habasyah menutup jenazah wanita mereka dengan keranda. Aku ingin seperti itu… agar auratku tetap terjaga,” lanjutnya.

Asma’ menunduk. Air matanya menetes tanpa mampu ditahan. Ia tahu, permintaan itu bukan sekadar rencana. Itu adalah firasat perpisahan.

Sore itu, angin dari luar membawa aroma kurma yang masak di kebun. Fatimah meminta Asma’ menyiapkan air untuk mandi.

“Wahai Asma’, ambilkan air yang bersih. Aku ingin mandi.”

Asma’ menatapnya khawatir.

“Apakah engkau kuat, wahai putri Rasulullah?”

Fatimah hanya tersenyum. “Aku ingin berjumpa dengan ayahku dalam keadaan suci.”

Dengan perlahan, Fatimah berwudhu, lalu mandi sebagaimana orang yang bersiap menyambut hari raya. Ia mengganti pakaiannya dengan yang paling baru, pakaian yang dulu pernah dijahit oleh tangannya sendiri dengan benang sederhana.

Kemudian ia berkata lirih, “Wahai Asma’, ambilkanlah wewangian. Aku ingin memakainya hari ini.”

Asma’ menatapnya lekat-lekat, mencoba menahan isak.

Fatimah tersenyum tenang. “Aku sudah merasakannya… panggilan itu, Asma’. Aku akan segera dipanggil.”

Fatimah lalu berbaring dengan wajah menghadap kiblat. Tangannya menggenggam ujung selimut, sementara bibirnya tak berhenti berzikir.

“Asyhadu an laa ilaaha illallah… wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah…”

Air mata menetes dari sudut matanya, namun senyumnya tak pudar. Dalam detik-detik terakhirnya, ia memejamkan mata dengan tenang, seolah tidur panjang yang indah setelah perjalanan yang melelahkan.

Asma’ berlari keluar rumah, memanggil Ali dengan suara yang pecah di antara isaknya.

“Wahai Abul Hasan… putri Rasulullah telah kembali kepada Tuhannya.”

Ali bergegas masuk, namun langkahnya seolah kehilangan tenaga. Ia menatap wajah Fatimah yang kini terdiam — tenang, seindah doa yang baru saja sampai ke langit.

“Wahai Fatimah, mengapa engkau begitu cepat meninggalkan dunia ini?” bisiknya dengan suara serak.

Tangannya menyentuh ubun-ubun istrinya yang dingin. Ia tahu, Fatimah kini telah bertemu kembali dengan ayahandanya yang dirindukan, di tempat yang jauh lebih indah daripada dunia yang penuh air mata ini.

Malam itu, Madinah kembali berduka. Berita tentang wafatnya Fatimah menyebar cepat, membuat setiap rumah diselimuti kesedihan. Para sahabat berbondong ke Masjid Nabawi. Tak ada suara tangis yang keras, hanya bisikan doa dan lirih tasbih yang menggema.

Ali memimpin salat jenazah istrinya dengan tangan gemetar. Hasan dan Husain berdiri di sampingnya, mata mereka merah, pipi basah oleh air mata. Setelah itu, pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, memimpin gelombang kedua salat jenazah.

Ketika jenazah Fatimah dibawa menuju pemakaman Baqi’, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Bulan separuh tampak menggantung rendah, seolah turut berduka.

Ali berjalan paling depan, langkahnya berat. Ia menunduk setiap kali derap langkah terdengar di belakangnya, menahan sesuatu yang nyaris pecah di dadanya. Ia tahu, setiap langkah itu adalah langkah menuju perpisahan terakhir.

Di pemakaman Baqi’, Fatimah dimakamkan bersebelahan dengan saudari-saudarinya, yaitu Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum. Tak ada tanda di pusaranya, sesuai wasiatnya: “Aku tak ingin orang-orang menangis di atas kuburku.”

Beberapa malam setelah pemakaman, Ali duduk sendirian di halaman rumah. Angin Madinah berembus lembut, membawa wangi debu dan kenangan. Ia menatap langit, mencari bintang yang dulu sering ditunjukkan Fatimah setiap malam.

“Lihat, Abul Hasan,” kata Fatimah suatu malam dahulu.

“Bintang itu selalu menemaniku saat menenun selimut untuk ayah. Aku suka membayangkan, kelak ketika ayah pergi, aku akan menatap bintang itu agar rinduku punya tempat pulang.”

Ali mengangkat wajahnya, menatap bintang yang sama.

“Wahai Fatimah, rindumu telah pulang… tapi rinduku baru saja dimulai,” ” ucapnya pelan.

Sejak malam itu, ia tak pernah melewatkan waktu untuk berziarah ke Baqi’. Ia datang diam-diam, hanya membawa tasbih dan air mata. Di pusara yang tak bertanda itu, ia berbisik, “Aku masih menyimpan senyum terakhirmu di dalam hatiku.”

Fatimah Az Zahra wafat enam bulan setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, di bulan Ramadan tahun ke-11 Hijriah.

Usianya baru dua puluh tujuh tahun. Tapi dalam usia yang singkat itu, ia telah menorehkan teladan tentang cinta, kesabaran, dan keteguhan iman yang tak lekang waktu.

Dunia mungkin mengenangnya sebagai putri Nabi. Namun bagi surga, ia adalah mahkota cahaya, ratu dari segala wanita beriman.

Dan bagi Ali, ia tetap Fatimah, wanita yang menyalakan api cinta dan menenun kesabaran di antara kehilangan.

“Barangsiapa menyakitinya, berarti telah menyakitiku,” sabda Rasulullah.

Maka barangsiapa mencintainya, sungguh telah mencintai Rasulullah dan mencintai Allah.

Di antara debu Madinah dan hembusan angin Baqi’, nama Fatimah tak pernah hilang.
Ia tetap hidup, dalam doa setiap hati yang mencintai dengan tulus, dalam rindu yang tak pernah reda. Wallahu a’lam.

Catatan Redaksi:
Kisah ini disarikan dari beberapa sumber, antara lain 99 Kisah Menakjubkan Sahabat Nabi karya Tethy Ezokanzo; Fatimah Az-Zahra: Penghulu Wanita Surga karya Abdus Sattar Asy-Syaikh; Taman-Taman Cinta Sang Nabi: Kisah-Kisah Kekasih Hati Nabi Muhammad SAW yang Penuh Hikmah dan Kesejukan karya Prof Dr Abdurrahman Umairah; serta hadis riwayat Muslim.