SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Madinah sore itu riuh. Jalanan pasar penuh debu. Pedagang kurma berteriak menawarkan dagangan, dan anak-anak kecil berlarian sambil tertawa.
Di sudut pasar yang teduh, duduk seorang lelaki tua dengan mata buta. Tangannya gemetar, menengadah meminta sedekah.
Namun bukan kebutaannya yang membuat orang menjauh. Suaranya keras, penuh amarah, menusuk siapa pun yang lewat.
“Jangan dekati Muhammad!” serunya.
“Dia penyihir! Pembohong! Pemecah belah masyarakat!” ujar dia dengan penuh kebencian, meludahkan kata-kata hinaan kepada kekasih Allah.
Orang-orang hanya menunduk, langkah mereka tergesa seakan ingin menjauh dari kata-kata yang menusuk telinga. Ada yang mengepalkan tangan di balik jubah, ada yang menggigit bibir menahan amarah.
Namun, bayangan teladan Rasulullah segera menenangkan hati mereka: jangan balas kebencian dengan kebencian. Maka mereka memilih pergi, membawa diam yang lebih lantang daripada seribu jawaban.
Tak banyak yang menyadari, tiap pagi menjelang siang, seorang lelaki sederhana selalu datang. Ia duduk tenang di samping pengemis buta itu, seolah dunia di pasar mendadak mengecil hanya pada mereka berdua.
Dari tangannya yang lembut, sepotong roti ia remas perlahan hingga halus, lalu disuapkannya ke mulut si buta dengan sabar tak terbandingkan. Dan ketika hinaan kembali meluncur, menampar udara di sekitarnya, lelaki itu hanya diam. Diam yang teduh, diam yang lebih keras daripada balasan apa pun.
Hari berganti, rutinitas itu tak pernah putus.
Pagi itu terasa janggal. Lelaki yang saban hari menyuapinya tidak kunjung datang. Hanya ada kesunyian yang asing di sela riuh pasar.
Lalu, seorang lain menghampiri–Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat setia Rasulullah. Dengan langkah berat ia duduk di samping si buta, tangannya pelan menghaluskan roti, mencoba meniru kelembutan yang selama ini dirasakan lelaki itu.
Namun baru suapan pertama, tiba-tiba tangan si pengemis menepis kasar, hampir membuat roti itu terjatuh.
“Siapa kau?!” suaranya meledak, menusuk udara pasar.
Ia menggeleng keras, wajah tuanya berkerut. “Bukan… bukan kau! Lelaki yang selalu menyuapiku tangannya halus, penuh kasih. Setiap kali ia datang, aku bisa merasakan kedamaiannya. Kau bukan dia!”
Abu Bakar terdiam lama. Matanya terasa panas, seakan ada gunung yang dipanggulnya. Air mata jatuh, mendahului kata-kata yang tersangkut di tenggorokannya.
“Orang yang setiap hari menyuapimu itu… telah tiada,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
“Dia adalah Muhammad. Lelaki yang saban hari kau caci dengan lidahmu, namun tetap menyuapimu dengan kasih,” lanjutnya.
Pengemis itu terdiam. Dunia seakan membeku bersamanya. Hanya angin yang lewat, membawa sunyi menekan dada. Lidahnya kelu–tak sanggup menolak, tak kuasa membantah. Lalu tangisnya pecah. Ia tersedu, meremas tanah dengan jari-jari rapuh.
“Muhammad… orang itu? Dia yang selama ini…?” Suaranya patah, hancur bersama penyesalan yang tiba-tiba menghantam.
“Ya Allah… betapa hinanya aku. Dialah yang paling mulia, sementara aku hanya tahu menghina…”
Pasar yang tadi bising mendadak hening. Orang-orang berhenti, menatap. Dan di tengah keramaian itu, seorang pengemis Yahudi buta menangis sesenggukan. Dengan suara pecah, ia akhirnya bersyahadat.
Kisah ini memang disebutkan oleh Ibn Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Benar, para ulama menilai sanadnya dhaif. Namun makna yang terkandung di dalamnya sejalan dengan gambaran akhlak Rasulullah yang selalu penuh kasih sayang, kelembutan, dan rahmat, bahkan kepada mereka yang memusuhinya.
Bukankah beliau sendiri pernah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad)
Dan di kesempatan lain, beliau menegaskan: “Orang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan lawannya, tetapi yang mampu menahan amarahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah teladan yang membuat hati yang paling keras pun luluh. Karena kasih tidak pernah kalah oleh benci, dan kelembutan selalu menemukan jalannya.
Hari ini, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, betapa mudah kita marah hanya karena hinaan kecil di media sosial. Betapa cepat kita membalas dengan caci, padahal Rasulullah SAW yang dicaci terang-terangan justru membalas dengan kasih.
Maulid Nabi bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah undangan untuk meneladani akhlak beliau, berupa cara memperlakukan orang tua, anak-anak, tetangga yang berbeda keyakinan, bahkan mereka yang menyakiti kita.
Sebab akhlak Nabi bukan sejarah yang membeku. Ia pelita. Ia hidup, terus menyala, dari Madinah hingga ke hati kita hari ini.
Catatan Penulis:
Riwayat tentang pengemis Yahudi buta ini disebutkan oleh al-Imam Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah. Namun sanadnya dhaif. Meski begitu, makna kisah ini sesuai dengan semangat akhlak Rasulullah yang penuh rahmat bagi semesta.


Tinggalkan Balasan