SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Langit Madinah petang itu berselimut warna emas yang lembut. Angin berhembus pelan di pelataran Masjid Nabawi. Seolah ikut menjaga kesunyian yang penuh makna.
Di salah satu sudut masjid, seorang lelaki mulia duduk menyendiri. Jubahnya sederhana. Tubuhnya tampak kurus, bahkan terlalu kurus untuk ukuran seorang pemimpin.
Itulah dia. Rasulullah Muhammad SAW. Manusia paling mulia, yang cintanya pada umat tak pernah terputus bahkan setelah wafat.
Wajahnya pucat. Namun matanya tetap jernih. Tangan kekasih Allah itu bergetar lembut saat mengelus dada sendiri, seakan sedang menenangkan sakit yang tak diucapkan.
Tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Tak ada keluh pada manusia, karena pada Allah-lah dia menggantungkan segalanya.
Sudah tiga hari. Tak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Langkah tergesa-gesa terdengar dari arah pintu masjid. Umar bin Khattab datang dengan napas tak beraturan. Hatinya cemas. Ia baru saja mendengar kabar dari salah seorang sahabat bahwa Rasulullah terlihat sangat lemah.
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tampak pucat begini?!” seru Umar ketika melihat sosok itu duduk terdiam.
Rasulullah mengangkat kepala perlahan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, meski tubuhnya jelas menjerit.
“Aku lapar, wahai Umar,” lirihnya.
“Sudah tiga hari… tidak ada makanan yang masuk ke perutku,” lanjut Nabi Muhammad.
Umar membeku. Matanya membulat. “Mengapa engkau tidak mengatakan sesuatu, ya Rasulullah? Kami… kami semua akan memberikan segalanya untukmu!”
Rasulullah SAW hanya diam. Senyumnya tidak pudar. Sebaliknya, tangan dia bergerak pelan… mengangkat jubahnya sedikit. Umar menahan napas.
Di perut Rasulullah… Terikat bukan satu… Bukan dua… Tapi tiga batu.
Tiga batu yang ditalikan dengan sehelai kain usang, untuk menahan rasa lapar. Batu-batu keras yang seharusnya ada di tanah… kini justru menempel di tubuh manusia termulia.
Umar menutup mulutnya. Matanya basah. Tubuhnya limbung. Dia nyaris jatuh bersimpuh.
“Ya Rasulullah… Apa yang aku lihat ini… bagaimana engkau bisa menanggung semua ini sendirian…?” bisiknya tercekik.
Rasulullah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, namun tetap penuh kelembutan.
“Aku menahan lapar ini, wahai Umar… bukan karena tak ada yang peduli. Tapi karena aku tak ingin umatku kelaparan di akhirat,”
Umar terisak. Tangannya gemetar ketika menggenggam tangan Nabi.
“Engkau… engkau menanggung semua ini demi kami… demi umatmu…”
Rasulullah SAW mengangguk pelan.
“Umatku akan diuji dengan dunia… kekayaan… kelapangan… Maka biarlah aku yang lapar di dunia… agar mereka kenyang dengan iman.”
Malam datang dengan lembut. Di mihrab Masjid Nabawi, Rasulullah berdiri. Tubuhnya lemah, tapi jiwanya kokoh. Shalat malam menjadi pelabuhan kesedihan dan cinta yang tak pernah henti. Di sujud panjang itu, tubuh mulia Rasulullah bergetar.
Air mata jatuh. Bukan satu-dua tetes, tapi mengalir seolah menampung seluruh cinta untuk umatnya.
Dari sujud yang dalam, terdengarlah suara yang amat lirih…
“Ya Allah… ummatii… ummatii… (Duhai Allah… umatku… umatku…)”
Doa itu tidak sekali. Tidak dua kali. Tapi berulang, seperti denting kasih yang tak pernah habis. Seorang Nabi menangis… bukan untuk dirinya. Bukan untuk lapar atau sakitnya. Tapi untuk umatnya yang kadang lalai, kadang lupa, kadang menjauh.
Dari langit, cahaya turun. Malikat Jibril mendekat, membawa kabar dari Tuhan semesta alam. Dia menyaksikan cinta luar biasa itu. Lalu ia naik kembali membawa pengaduan Rasulullah.
Dan Allah, dengan kasih-Nya yang tanpa batas, berfirman:
“Wahai Jibril… sampaikan pada Muhammad… Aku akan ridha pada umatnya… selama mereka mencintainya.”
Madinah, Berabad Kemudian
Di pelataran Masjid Nabawi yang kini megah dan berkarpet merah empuk, seorang pemuda bernama Andi duduk terdiam.
Ia menatap mihrab tempat Rasulullah pernah bersujud. Jauh di dalam dadanya, ada gemuruh yang sulit dijelaskan.
Dia bukan siapa-siapa. Hanya mahasiswa asing yang datang menuntut ilmu. Tapi hari itu, Andi merasa seperti debu. Tak pantas. Terlalu kotor untuk sekadar duduk di tempat ini.
“Ya Rasulullah… Bagaimana bisa… engkau mencintaiku sedalam itu… padahal aku belum mencintaimu dengan benar…,” bisiknya lirih.
Air matanya jatuh. Ia menunduk. Sujud. Lama.
Andi teringat bagaimana shalatnya sering terlambat, Qur’annya sering berdebu, waktunya banyak tersia-sia. Ia malu. Sangat malu.
Namun di pelataran suci itu…
Ia merasa ada yang mendekapnya.
Seolah ada suara lembut yang membisikkan:
“Selama engkau mencintaiku… Allah akan ridha padamu…”
Andi menangis. Tangis yang melegakan. Dia tahu, cinta Rasulullah bukanlah dongeng. Bukan hanya sejarah. Tapi nyata, hidup, dan masih menyentuh relung umatnya hingga kini.
Untukmu yang Membaca Ini
Pernahkah kau merasa sendiri?
Pernahkah kau merasa tidak cukup baik di hadapan Allah?
Ingatlah, ada seorang Nabi yang dulu mengikat tiga batu di perutnya… agar kelaparan tak sampai padamu.
Ada seorang Rasul yang sujud semalaman… bukan memohon surga untuk dirinya… tapi memohon ampun untukmu.
“Ummatii… ummatii…”
Suara itu masih menggema.
Di langit. Di Masjid Nabawi. Di dadamu.
Maka jangan biarkan cinta itu sia-sia.
Balaslah… dengan cinta yang nyata.
Dengan amal. Dengan shalawat. Dengan air mata rindu.
Karena Allah… telah berjanji:
Selama kita mencintai Rasulullah, Allah akan ridha kepada kita.
Riwayat kisah ini berasal dari Musnad Ahmad.
Sumber referensi tambahan meliputi Asy-Syifa’ karya Qadhi Iyadh, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (khususnya tentang seruan “ummatii, ummatii”), serta Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Al-Bidāyah wa an-Nihāyah karya Ibnu Katsir.


Tinggalkan Balasan