SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Tahukah Anda bahwa masyarakat Bugis memiliki tradisi unik bernama Pappaseng? Tradisi ini adalah warisan sastra lisan yang kaya dengan nasihat kehidupan.
Salah satu elemennya yang menarik perhatian adalah Doang atau Paddoangngang, yang sering kali dianggap memiliki kekuatan magis, di antaranya mantra cenning rara — dipercaya bisa memikat hati seseorang.
Namun, di balik daya tarik budaya ini, tersembunyi risiko besar dalam pandangan agama Islam.
Apa Itu Cenning Rara?
Secara harfiah, Cenning berarti “wajah yang manis”, sementara Rara artinya bercahaya. Namun, istilah ini juga merujuk pada mantra yang digunakan untuk memengaruhi perasaan seseorang, terutama dalam konteks asmara.
Dalam jurnal Cenning Rara: Mantra dan Doa Masyarakat Bugis oleh Hasnutasari, disebutkan bahwa cenning rara sering menjadi jalan terakhir bagi sebagian orang untuk menarik perhatian pasangan idaman.
Bagaimana mantra ini bekerja?
Sebelum melafalkan, seseorang biasanya harus memenuhi persyaratan spiritual tertentu — termasuk menjaga kebersihan lahir dan batin.
Berikut adalah contoh teks mantra Cenning Rara menurut Hasnutasari:
- Eru mata siduppa mata. Iya’pa naewa siduppa mata (nama sasaran) namanyameng attinna.
- Anging lao anging rewe matuppu sepe-sepepalettukengnga uddanikko lao ri (nama sasaran) narekko mattinroi teddurekka, narekko motoi obbirengnganarekko ciyai lao, iya pa lao.
Sayangnya, penulis tidak mampu menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mantra berbahasa Bugis di atas.
Meski begitu, tujuan dari mantra ini sederhana, yakni mendekatkan hati seseorang agar perasaan cinta berbalas. Namun, praktik ini membawa persoalan serius ketika dilihat dari perspektif Islam.
Mengapa Cenning Rara Berbahaya?
Dalam Islam, menggantungkan harapan pada mantra seperti cenning rara dapat dianggap syirik (mempersekutukan Allah), termasuk dosa besar yang merusak akidah.
Syirik terjadi ketika seseorang meyakini bahwa ada kekuatan selain Allah SWT yang dapat mengubah takdir atau perasaan orang lain.
Mari kita renungkan sejenak. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 102, Allah SWT berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”
Ayat ini menegaskan larangan terhadap praktik sihir, termasuk penggunaan mantra yang berusaha mengubah kehendak atau hati seseorang.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah takdir dari Allah. Menggunakan cenning rara berarti mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan ajaran tauhid.
Apakah Hubungan yang Dibangun dengan Mantra Bisa Bertahan?
Pikirkan ini, apakah hubungan yang dimulai dengan manipulasi bisa benar-benar tulus? Ketika seseorang menggunakan mantra seperti cenning rara, hubungan yang terbentuk tidak lagi didasarkan pada kejujuran atau kebebasan memilih.
Sebaliknya, itu menjadi hubungan yang rapuh, penuh ketergantungan pada kekuatan luar yang tidak alami.
Islam mengajarkan bahwa hubungan yang sehat harus berlandaskan rasa hormat, komunikasi jujur, dan ketulusan.
Dalam percintaan, misalnya, pedoman Islam sangat jelas, yakni jalani hubungan dengan cara yang halal, seperti pernikahan yang sah. Dengan cara ini, cinta yang terjalin akan diberkahi oleh Allah SWT.
Lalu, Bagaimana dengan Tradisi Budaya?
Tidak dapat disangkal bahwa cenning rara adalah bagian dari tradisi kaya masyarakat Bugis. Namun, penting untuk melihatnya dengan bijak.
Menghargai budaya tidak berarti harus mempraktikkan segala aspeknya, terutama jika bertentangan dengan keyakinan agama.
Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk memohon langsung kepada Allah dalam segala hal, termasuk urusan hati. Berdoa, bertawakal, dan bersabar adalah jalan terbaik. Mengandalkan mantra seperti cenning rara hanya akan membawa kita ke dalam jerat dosa yang tidak perlu.
Pertanyaan untuk Anda!
Apakah Anda ingin hubungan yang dibangun atas dasar cinta sejati atau manipulasi? Bagaimana kita dapat mempertahankan budaya tanpa melanggar ajaran agama?
Pertanyaan-pertanyaan ini layak direnungkan, terutama ketika kita dihadapkan pada dilema antara tradisi dan iman.
Cenning rara mungkin memikat dalam keunikan budaya, tetapi risikonya terlalu besar. Mari jadikan doa dan ketulusan sebagai kekuatan utama dalam hidup kita. Sebab, hanya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Wallahu a’lam bishawab.


Tinggalkan Balasan