SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Di tengah teriknya pasar Madinah, seorang pengemis buta duduk bersila dengan penuh dendam di sudut keramaian.
Setiap orang yang lewat tak luput dari teriakannya, “Jangan dekati Muhammad! Dia pembohong, dia tukang sihir, dia akan mencelakakan kalian!”
Namun, tanpa ia sadari, langkah ringan seorang pria yang dia benci justru mendekatinya setiap pagi.
Rasulullah SAW, yang ia hina tanpa henti, membawa makanan untuknya dengan penuh kasih. Tidak ada sepatah kata terucap, hanya tangan yang lembut menyuapi makanan ke mulut pengemis itu.
Rasulullah bahkan menghaluskan makanan tersebut agar lebih mudah dicerna, sebuah tindakan yang menyimpan kasih tanpa batas.
Hari-hari itu terus berulang hingga Rasulullah wafat. Ketika Abu Bakar RA mencoba melanjutkan kebiasaan itu, pengemis tersebut merasakan perbedaan.
“Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku!” serunya.
Setelah mengetahui bahwa pria mulia itu telah wafat, air matanya jatuh. “Selama ini aku mencelanya, tapi ia membalas dengan kasih sayang.”
Di sudut pasar itu, pengemis buta itu bersyahadat, hatinya luluh oleh teladan Rasulullah yang tak pernah membalas kebencian dengan dendam.
Ludah yang Berbuah Kasih
Di sisi lain kota, ada seorang wanita tua yang dengan sengaja meludahi Rasulullah setiap kali beliau melewati rumahnya.
“Cuh, cuh, cuh,” suara ludah itu menjadi pemandangan sehari-hari bagi Rasulullah.
Namun, Nabi Muhammad SAW hanya tersenyum, berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hingga suatu hari, tidak ada lagi ludah yang menyambut langkah Rasulullah. Rumah wanita tua itu tampak sepi.
Rasulullah bertanya kepada seorang tetangga, “Di mana pemilik rumah ini yang biasa meludahiku?”
Jawabannya membuat Rasulullah tergerak, “Dia sedang sakit.”
Nabi Muhammad datang menjenguknya. Wanita itu terkejut melihat orang yang selama ini ia hina hadir di sisinya, tanpa membawa kemarahan.
“Kenapa engkau menjengukku, wahai Muhammad?” tanyanya.
Rasulullah menjawab lembut, “Aku yakin engkau meludahiku karena belum mengenal kebenaran. Jika engkau tahu, kau tak akan melakukannya.”
Air mata wanita itu pecah. “Betapa mulianya akhlakmu. Mulai hari ini, aku bersaksi untuk mengikuti agamamu,” ucapnya sambil mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Dua kisah ini adalah sepotong kecil dari samudra kesabaran Rasulullah SAW. Di tengah hinaan dan kebencian, Rasulullah memilih kasih sayang sebagai jawabannya.
Bukti bahwa hati manusia, sekeras apa pun, dapat luluh di hadapan kelembutan yang tulus. Nabi Muhammad tak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang sejati.
Di dunia yang penuh konflik ini, akhlak Rasulullah menjadi pelajaran yang tak lekang oleh waktu, balaslah kebencian dengan cinta, dan lihatlah bagaimana keajaiban bekerja. Wallahu a’lam bishawab.


Tinggalkan Balasan