SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Pernahkah kita merenungkan bahwa amal yang kita anggap sebagai jaminan surga justru bisa menjadi penghalang rahmat-Nya? Ataukah kita lupa bahwa rahmat Allah SWT melampaui segala perhitungan manusia?
Kisah berikut ini, tentang seorang pendosa yang masuk surga dan seorang ahli ibadah yang berakhir di neraka, berasal dari kalangan Bani Israil. Kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW ini terdapat dalam buku 40 Ucapan Terlarang karya Abdillah F Hasan. Sebuah kisah yang menggetarkan hati dan menyentuh inti kemanusiaan.
Nabi Muhammad SAW mengisahkan dua saudara dari Bani Israil tersebut. Keduanya berbeda bak langit dan bumi. Sang pendosa hidup dalam kemaksiatan tanpa henti, sementara saudaranya adalah seorang ahli ibadah yang taat, rajin, dan tekun menjalankan perintah Allah.
Namun, hubungan mereka penuh ketegangan. Sang ahli ibadah merasa berkewajiban untuk menegur saudaranya.
“Berhentilah dari dosa-dosamu!” katanya setiap kali melihat kemaksiatan di depan matanya.
Tetapi teguran itu bagai angin lalu. Sang pendosa terus larut dalam perbuatannya, dan sang ahli ibadah semakin frustrasi.
Suatu hari, ketika teguran itu kembali dilontarkan, sang pendosa menjawab dengan nada putus asa.
“Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?” ketusnya.
Jawaban ketus itu membuat kesabaran sang ahli ibadah pupus, hingga dengan nada kasar, dia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”
Pernyataan ini seolah-olah menempatkan dirinya sebagai hakim atas rahmat Allah, sesuatu yang hanya menjadi hak-Nya semata.
Saat ajal menjemput keduanya, mereka dihadapkan kepada Allah SWT. Yang terjadi justru sebaliknya dari ucapan sang ahli ibadah.
Kepada sang pendosa, Allah berfirman, “Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”
Sementara itu, kepada sang ahli ibadah, Allah bertanya, “Apakah kamu mampu menghalangi hamba-Ku dari rahmat-Ku?”
Sang ahli ibadah hanya bisa menjawab dengan penuh rasa malu, “Tidak, wahai Tuhanku.”
Allah pun memerintahkan para malaikat untuk membawanya ke neraka. Sebuah keputusan yang mengejutkan, namun penuh pelajaran bagi umat manusia.
Kisah ini memberikan pelajaran mendalam. Manusia, sehebat apa pun amalnya, tak berhak menghakimi nasib orang lain di hadapan Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ujub atau rasa bangga yang berlebihan terhadap amal adalah penyakit hati yang berbahaya.
Pasalnya, penyakit hati tersebut dapat menjerumuskan seseorang dalam keangkuhan, bahkan menggiringnya melangkahi hak prerogatif Allah SWT.
“Dosa yang membuatmu menyesal lebih baik daripada ibadah yang disertai rasa bangga,” demikian pesan orang bijak.
Tentu, pesan itu mengingatkan kita untuk selalu rendah hati, menjaga niat, dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Wallahu a’lam bishawab.


Tinggalkan Balasan