SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Tsabit bin Ibrahim (dalam beberapa riwayat dikaitkan dengan kisah keluarga Imam Abu Hanifah) adalah seorang pemuda yang dikenal karena kejujuran dan ketakwaannya.

Setiap tindakannya selalu dilandasi rasa takut kepada Allah, dan ia senantiasa berusaha menjaga kehalalan dalam setiap aspek kehidupannya.

Suatu hari, dalam sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, rasa haus dan lapar mendera Tsabit. Ia berjalan menyusuri tepi sungai, berharap menemukan sesuatu untuk dimakan atau diminum.

Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah apel yang mengapung terbawa arus. Rasa lapar dan haus yang tak tertahankan membuatnya mengambil apel itu dan menggigitnya. Namun, baru satu gigitan, hatinya terusik.

“Apel ini bukan milikku,” bisiknya kepada dirinya sendiri.

Hatinya bergetar. Ia sadar bahwa memakan sesuatu tanpa izin pemiliknya adalah sebuah dosa. Tak ingin keberkahan hidupnya ternoda,

Tsabit memutuskan untuk mencari pemilik apel itu agar dapat meminta maaf dan memperoleh rida darinya.

Ia menyusuri aliran sungai hingga akhirnya tiba di sebuah kebun apel yang luas. Di sana, Tsabit melihat seorang lelaki tua sedang merawat pohon-pohon apel yang rimbun. Dengan penuh penyesalan, ia mendekati lelaki tersebut.

“Wahai Pak Tua, aku memakan sebuah apel yang hanyut di sungai. Apel itu mungkin berasal dari kebunmu. Aku datang untuk meminta maaf dan ingin menebusnya. Berapa yang harus kubayar agar kau rida?” tanya Tsabit dengan suara penuh harap.

Lelaki tua itu tersenyum bijak mendengar pengakuan Tsabit.

“Kau tidak perlu membayar dengan uang,” jawabnya tenang.

“Namun, jika kau benar-benar ingin aku rida, kau harus bekerja di kebunku selama tiga tahun tanpa upah,” tambah lelaki tua itu.

Tsabit tertegun. Tiga tahun adalah waktu yang lama, namun rasa takut kepada Allah lebih besar daripada segalanya. Setelah merenung sejenak, ia menyanggupi syarat itu.

Selama tiga tahun, Tsabit bekerja di kebun dengan sepenuh hati. Ia merawat pohon-pohon, memanen buah-buahan, dan menjaga kebun dengan ketulusan yang luar biasa.

Waktu berlalu dengan penuh pengabdian, dan akhirnya tiga tahun itu pun usai. Tsabit kembali menemui pemilik kebun untuk memastikan bahwa ia telah mendapatkan rida darinya.

“Pak Tua, aku telah bekerja selama tiga tahun seperti yang kau minta. Apakah kini kau rida atas gigitan apel itu?” tanya Tsabit.

Namun, jawaban lelaki tua itu membuatnya terkejut.

“Belum. Aku akan rida jika kau memenuhi satu syarat lagi, yaitu kau harus menikahi putriku,” kata lelaki tua itu.

Tsabit terdiam. Menikah adalah tanggung jawab besar, dan ia tidak pernah membayangkan syarat seperti ini.

Namun, lelaki tua itu melanjutkan dengan tenang, “Ketahuilah, putriku buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Jika kau setuju, pernikahan dapat segera dilangsungkan.”

Berat rasanya menerima syarat tersebut, tetapi rasa takut Tsabit kepada Allah lebih besar dari segala keraguan. Dengan hati yang penuh keikhlasan, ia berkata, “Jika ini yang harus kulakukan untuk mendapatkan rida Allah, aku terima.”

Pernikahan pun dilangsungkan dalam kesederhanaan. Setelah akad nikah, Tsabit dipersilakan menemui istrinya di kamar. Dengan hati berdebar, ia memasuki kamar pengantin.

Tsabit memberi salam, dan betapa terkejutnya ia ketika mendengar jawaban salam yang lembut dan penuh sopan santun dari dalam kamar.

Di hadapannya berdiri seorang wanita muda yang cantik dan anggun. Bingung, Tsabit segera menemui mertuanya.

“Ayahanda, siapa wanita ini? Bukankah istriku buta, tuli, bisu, dan lumpuh?” tanyanya dengan penuh keheranan.

Lelaki tua itu kembali tersenyum bijak.

“Benar, putriku buta karena tidak pernah melihat hal yang dilarang Allah. Ia tuli karena tidak pernah mendengar sesuatu yang tidak pantas. Ia bisu karena tidak pernah berbicara sia-sia. Dan ia lumpuh karena tidak pernah melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat,” terang lelaki itu yang kini menjadi mertuanya.

Tsabit tertegun. Air mata haru membasahi pipinya. Ia hanya mampu berucap, “Subhanallah.”

Pernikahan itu dipenuhi berkah dan kebahagiaan. Dari pasangan ini, lahir seorang ulama besar yang kelak dikenal sebagai Imam Abu Hanifah, salah satu pilar penting dalam sejarah Islam.

Kisah Tsabit bin Ibrahim menjadi teladan abadi tentang kejujuran, ketakwaan, dan pengorbanan demi mendapatkan rida Allah. Wallahu a’lam bishawab.