SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Tradisi mentraktir atau berbagi makanan adalah bagian dari budaya yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan suku Bugis dan Makassar.

Momen penuh keakraban ini menjadi cara untuk mempererat hubungan antarindividu, ketika seseorang mengundang teman untuk makan atau mentraktir.

Namun, di balik kebiasaan ini, terdapat pelajaran yang lebih dalam yang diajarkan oleh Islam, khususnya mengenai sikap kita dalam meminta atau mengharapkan traktiran dari orang lain.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu bersikap qana’ah (merasa cukup dengan apa yang dimiliki) dan tawakal (bersandar hanya kepada Allah). Meminta-minta tanpa kebutuhan mendesak adalah sesuatu yang dilarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Seseorang yang terus-menerus meminta-minta kepada manusia hingga pada hari kiamat nanti ia datang dengan wajah tanpa daging sedikit pun” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meskipun meminta traktiran tampak sepele, tindakan ini merupakan bentuk meminta sesuatu tanpa alasan yang mendesak.

Hal ini tidak hanya soal uang atau makanan, tetapi juga tentang menjaga martabat kita di hadapan Allah dan sesama. Islam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan diri.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang menjaga dirinya dari meminta-minta, Allah akan mencukupkannya. Dan barang siapa yang merasa puas, Allah akan memberinya kecukupan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagai penerima, kita diajarkan untuk bersikap qana’ah, merasa cukup dengan rezeki yang ada, dan tidak meminta-minta kecuali dalam keadaan yang benar-benar mendesak.

Jika seseorang dalam kesulitan ekonomi atau darurat, meminta dapat dibenarkan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, Islam mengajarkan untuk berusaha mandiri dan mensyukuri apa yang ada, sebagaiman sabda Nabi Muhammad SAW:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa memberi adalah tindakan yang lebih mulia daripada meminta, meskipun dalam hal kecil seperti traktiran.

Di sisi lain, kita juga perlu ingat bahwa orang yang mentraktir kita juga memiliki tanggung jawab dan keterbatasan.

Sering kali, dalam momen berbagi, kita lupa bahwa orang yang mentraktir kita mungkin sedang dalam kondisi keuangan yang tidak stabil.

Kita harus ingat bahwa tindakan meminta traktiran hanya untuk memanfaatkan kebaikan hati orang lain dapat merusak hubungan dan membuat pihak yang mentraktir merasa tidak nyaman.

Islam mengajarkan untuk menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan tidak membuat orang lain merasa terbebani. Rasulullah mengingatkan kita untuk tidak saling memanfaatkan keadaan orang lain untuk kepentingan pribadi.

Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya bekerja keras dan menjaga kehormatan diri. Rasulullah bersabda:

“Sungguh, seseorang di antara kalian yang mengambil tali kemudian mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa lebih baik bekerja keras, meskipun dengan pekerjaan yang sederhana, daripada terus-menerus bergantung pada orang lain. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga martabat diri tetapi juga mendapatkan berkah dari Allah.

Meminta traktiran juga bisa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain. Sebagai penerima, kita harus menjaga adab dan menghargai orang yang memberi.

Dalam Islam, menjaga ukhuwah sangat penting. Jika kita terlalu sering meminta, termasuk meminta traktiran, ini bisa menimbulkan ketidaksukaan atau bahkan merusak hubungan baik.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS An-Nisa: 29).

Meminta sesuatu yang bukan hak kita, termasuk traktiran, tanpa alasan yang sahih dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak adil.

Nah, traktiran mungkin tampak sebagai hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sesungguhnya ini mengandung pelajaran besar tentang kehormatan, rasa syukur, dan kemandirian.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk mengutamakan memberi daripada meminta, serta menjaga hubungan baik tanpa membebani orang lain. Wallahu a’lam bishawab.