SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Di tepian Sungai Jihon yang mengalir di utara Iran, berdiri sebuah kota kuno bernama Tirmidz.
Kota ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga melahirkan salah satu ulama besar yang namanya harum di dunia Islam, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin Adh Dhahak As Sulami, yang lebih akrab dikenal sebagai Imam At Tirmidzi.
Imam At Tirmidzi lahir pada tahun 209 H (824 M) di Tirmidz, dan sejak kecil telah menunjukkan bakat luar biasa dalam ilmu agama.
Ia menghafal Al-Qur’an dan hadits, serta menjadi murid dari para ulama terkemuka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud.
Kecintaannya terhadap ilmu membuatnya dikenal sebagai ulama hadits yang tak tertandingi, ahli dalam mengenali kelemahan perawi, sekaligus faqih dengan pandangan fiqih yang luas dan mendalam.
Namun, di balik kemuliaan dan keilmuan yang dimilikinya, Imam At Tirmidzi menyimpan kisah haru yang menggetarkan hati.
Pada masa senjanya, ia sering menangis hingga kehilangan penglihatannya. Ketika ditanya alasan tangisannya, beliau dengan penuh kerendahan hati menjawab, “Saya takut ketika diwafatkan oleh Allah, bekal saya belum cukup untuk pulang.”
Kisah ini mencerminkan ketakwaan yang luar biasa. Meski telah menorehkan kontribusi besar dalam ilmu agama, Imam At Tirmidzi merasa bahwa apa yang dilakukannya belumlah sebanding dengan kebesaran Allah dan kebutuhan akhiratnya. Karena itulah, beliau dikenang dengan gelar “Al-Dharir”, yang berarti “yang kehilangan penglihatan.”
Imam At Tirmidzi tidak hanya terkenal karena tangisannya yang penuh rasa takut kepada Allah. Ia juga meninggalkan warisan keilmuan yang luar biasa. Karya-karyanya, seperti Kitab Al-Jami’ (lebih dikenal sebagai Sunan At-Tirmidzi), Kitab Al-‘Ilal, Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama’il An-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asma’ wal-Kuna, menjadi referensi utama dalam studi hadits dan fiqih hingga hari ini.
Imam At Tirmidzi wafat di kampung halamannya, Tirmidz, pada malam Senin, 13 Rajab 279 H (8 Oktober 892 M), dalam usia 70 tahun. Warisannya, baik berupa karya maupun teladan hidup, terus menginspirasi umat Islam di seluruh dunia.
Melalui kisah hidupnya, Imam At Tirmidzi mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati, takut kepada Allah, dan terus berusaha memperbaiki diri, betapapun besar pencapaian kita di dunia.
Jadi, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan pulang nanti?


Tinggalkan Balasan