SimpulRakyat.co.id, Khazanah — Marah adalah sifat alami manusia, namun mengendalikan amarah adalah tanda kebijaksanaan. Ketika seseorang dikuasai amarah, ruang berpikirnya menjadi sempit dan kebenaran sulit diterima. Tak jarang, amarah membawa keputusan gegabah yang hanya menyisakan penyesalan.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat sederhana namun penuh makna tentang pentingnya menahan amarah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, memintanya memberikan nasihat.

Rasulullah menjawab, “La taghdab (jangan marah).” (HR Bukhari).

Jawaban ini diulang hingga tiga kali, menegaskan bahwa menahan amarah adalah salah satu kunci kebijaksanaan bagi seorang Muslim.

Menahan amarah bukan hanya tanda kedewasaan, tapi juga memiliki keutamaan besar dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki” (HR Abu Daud, Tirmizi, dihasankan oleh Al-Albani).

Balasan Allah ini bukan hanya sekadar penghargaan, tetapi juga bentuk kemuliaan di hadapan seluruh makhluk. Bayangkan, pada hari kiamat, semua orang menyaksikan seorang hamba dipanggil Allah untuk menerima ganjaran yang besar hanya karena ia menahan amarah.

Lebih mulia lagi, jika seseorang tidak hanya menahan marah tetapi juga memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, ulama besar Mulla Ali al-Qari menjelaskan bahwa pujian Rasulullah SAW dalam hadis ini adalah bentuk penghargaan bagi yang mampu menahan emosi. Dan jika diiringi dengan sikap memaafkan, tentu pahalanya berlipat ganda.

Di dunia yang semakin penuh dengan tekanan dan tantangan, nasihat Rasulullah SAW ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk tidak mudah terbawa emosi.

Memang, mengendalikan amarah bukanlah hal yang mudah, namun balasannya sungguh besar di sisi Allah SWT. Mari ingat nasihat Rasulullah ini setiap kali amarah datang, dan jadikan keutamaan menahan amarah sebagai jalan menuju kemuliaan di akhirat. Wallahu a’lam bishawab