SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Di balik kediktatoran Raja Ramses II atau Firaun, yang dikenal sebagai penguasa dunia yang kejam, ada sosok luar biasa yang tidak gentar menghadapi kekuasaan tiran, yaitu Asiyah binti Muzahim.

Asiyah adalah istri Firaun, dia ini dikenal sebagai wanita yang teguh dalam iman kepada Allah meskipun harus menjalani kehidupan bersama suami yang menganggap dirinya sebagai tuhan.

Kisah Asiyah dimulai dengan penolakan terhadap lamaran Firaun.

Namun, terdesak oleh keadaan di mana orang tuanya disandera dan disiksa oleh Firaun, Asiyah akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Di tengah ketakutan rakyat Mesir, Asiyah tidak pernah mengakui Firaun sebagai Tuhan. Keimanannya pada Allah tidak goyah, meskipun hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kemewahan dan kedzaliman.

Puncak keteguhan Asiyah terlihat saat dia menemukan bayi Musa yang dihanyutkan di Sungai Nil.

Firaun yang merasa terancam oleh ramalan bahwa seorang bayi laki-laki akan menghancurkan kekuasaannya, memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki.

Namun, Asiyah, dengan penuh kasih, memaksa Firaun untuk mengadopsi Musa sebagai anak mereka. Keputusan ini, tanpa disadari, menjadi titik balik dalam perjalanan keimanannya.

Saat Musa dewasa dan menerima wahyu sebagai nabi, Asiyah mengikuti agama yang dibawa oleh putra angkatnya tersebut, beriman kepada Allah dengan sepenuh hati.

Firaun yang marah besar memberikan dua pilihan kepadanya, yakni tetap memeluk agama lama dan hidup nyaman bersamanya, atau tetap berpegang pada iman baru dan menderita siksaan berat.

Asiyah memilih untuk beriman kepada Allah dan menolak menyembah Firaun sebagai tuhan.

Kemarahan Firaun membawanya pada tindakan kejam, berupa mengikat Asiyah di bawah terik matahari dan menyiksanya dengan cambuk.

Namun, keteguhan hati Asiyah tetap tak tergoyahkan. Meski tubuhnya penuh luka dan ia dihujani batu besar oleh algojonya, Asiyah tetap sabar dan berserah diri kepada Allah.

Dalam doa terakhirnya yang termaktub dalam Surat At-Tahrim ayat 11, Asiyah memohon kepada Allah untuk membangunkan rumah di sisi-Nya di Firdaus dan selamatkan dia dari perbuatan Firaun.

“Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Surat At-Tahrim ayat 11)

Ketika Asiyah menghembuskan nafas terakhirnya, tubuhnya sudah tak merasakan sakit lagi. Ia meninggal dalam keadaan mulia, tetap teguh dalam keimanannya hingga akhir hidupnya.

Rasulullah SAW, dalam hadisnya, menyebut Asiyah sebagai salah satu wanita penghuni surga yang paling utama, bersama Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Maryam binti Imran.

Asiyah adalah simbol dari keberanian, keteguhan iman, dan pengorbanan dalam menghadapi tirani demi Allah.

Kisah hidup Asiyah mengajarkan kita bahwa keimanan yang kuat tidak akan pernah terpengaruh oleh tekanan dunia, dan keteguhan hati dalam mempertahankan kebenaran akan selalu mendapat tempat mulia di sisi Allah. Wallahu a’lam bishawab.