SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Rasa cinta merupakan anugerah dari Allah SWT kepada umat-Nya, tetapi bagaimana jika cinta itu ditujukan kepada istri orang lain?

Dalam pandangan Islam, mencintai istri orang lain dianggap sebagai perbuatan yang melanggar hukum syariat dan bahkan dikategorikan sebagai dosa besar.

Buya Yahya, dalam sebuah ceramah di kanal YouTube Al-Bahjah TV, menjelaskan bahwa mencintai istri orang adalah kesalahan besar yang mengharuskan pelakunya untuk bertaubat.

“Mencintai istri orang lain bukanlah sekadar salah, tetapi merupakan dosa yang berpotensi merusak rumah tangga orang lain,” ungkap Buya Yahya.

Perbuatan ini dalam Islam dikenal sebagai takhbib, yaitu usaha untuk merusak hubungan seorang wanita terhadap suaminya.

Dalam Kitab Al-Kabair, Imam Ad-Dzahabi menyebutkan bahwa takhbib adalah upaya mengganggu keharmonisan rumah tangga seorang wanita, dan mayoritas ulama menganggapnya sebagai dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW menegaskan, “Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahkan menyebutkan bahwa Rasulullah melaknat pelaku takhbib dan berlepas diri dari mereka.

Mengutip buku “Kekasihku”: Kesan Pesan Cinta untuk Sang Kekasih karya Muhammad Abdul Wasik, mencintai istri orang lain bukan hanya sekadar kekaguman, melainkan perbuatan zalim yang bertujuan untuk mengganggu rumah tangga secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Para ulama mengingatkan bahwa seorang Muslim yang pernah atau sedang mencintai istri orang lain dianjurkan untuk segera bertaubat dan menjauh dari perbuatan takhbib.

Selain itu, ia dianjurkan untuk berdoa dalam setiap shalatnya agar Allah SWT melindungi dirinya dari godaan dan menghilangkan perasaan tersebut.

“Seorang Muslim harus menguatkan keharmonisan rumah tangganya dan mempertebal cinta kepada istrinya untuk menghindarkan diri dari perceraian, yang dilarang Allah SWT,” ujar Buya Yahya.

Cinta sejati, dalam Islam, adalah cinta yang tidak didasari pada kepentingan pribadi semata, tetapi bertumpu pada nilai-nilai syariat.

Dengan menciptakan rumah tangga yang harmonis, umat Muslim dapat terlindung dari godaan yang merusak keluarga. Wallahu a‘lam