SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Pagi di Makkah biasanya dimulai dengan suara yang sama. Unta-unta yang bergerak dari kandang. Pedagang yang membuka karung rempah. Langkah kaki orang-orang yang bergegas menuju pasar.
Hari itu seharusnya sama saja. Namun di rumah Khadijah binti Khuwailid, pagi terasa sedikit berbeda. Sejak subuh, Khadijah sudah mengganti pakaiannya tiga kali.
Ia berdiri di depan cermin perunggu, memperhatikan lipatan pakaiannya dengan teliti. Tidak ada yang salah sebenarnya. Semuanya sudah rapi sejak pertama kali dikenakan. Tetapi entah mengapa, ia merasa belum cukup tepat.
“Coba rapikan lagi rambutku,” katanya kepada pelayannya.
Maisarah menurut tanpa banyak bertanya. Tangannya cekatan menyisir rambut majikannya, lalu merapikan kembali ujung kerudungnya.
Tak lama kemudian Khadijah berjalan ke ruang tamu. Ia memperhatikan bantal-bantal duduk yang tersusun di atas permadani. Tangannya merapikan satu di antaranya. Padahal bantal itu sudah rapi.
Ia kemudian berhenti di dekat wadah gaharu yang terbakar pelan di sudut ruangan. Aromanya lembut, hangat, memenuhi udara.
“Apa aromanya terlalu kuat?” tanya Khadijah tiba-tiba.
Maisarah menggeleng.
“Tidak, Sayyidah. Justru sangat lembut.”
Maisarah sebenarnya sedikit heran. Selama bertahun-tahun ia melayani Khadijah, hampir tidak pernah melihat majikannya bersikap seperti ini. Biasanya Khadijah tenang.
Perempuan itu mampu menghadapi puluhan pedagang yang berdebat keras soal harga tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Ia mengatur kafilah dagang yang melintasi gurun luas dengan keputusan yang cepat dan pasti.
Orang-orang Quraisy bahkan menyebutnya Sayyidah Quraisy, perempuan terhormat di antara mereka.
Namun pagi ini ia terlihat… gelisah. Padahal yang akan datang hanya seorang pemuda. Seorang pemuda yang bahkan belum pernah memimpin kafilah dagang sebesar miliknya.
Khadijah kembali duduk di atas permadani. Ia menarik napas panjang. Ini hanya pertemuan biasa, katanya pada dirinya sendiri.
Ia hanya ingin bertemu pemuda yang reputasinya sedang banyak dibicarakan orang-orang Makkah. Seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Al-Amin (dapat dipercaya).
Tetapi entah mengapa, ada sesuatu dalam hatinya yang terasa berbeda pagi itu. Seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Matahari mulai naik. Cahaya lembut masuk melalui jendela kayu yang diukir halus, membentuk garis-garis tipis di udara.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki di halaman. Langkah yang tenang. Tidak tergesa-gesa. Namun juga tidak ragu.
Maisarah menoleh ke arah pintu. Khadijah ikut mengangkat wajahnya. Pintu terbuka perlahan. Dan sesaat kemudian seorang pemuda berdiri di ambangnya. Muhammad bin Abdullah.
Cahaya matahari pagi datang dari belakang tubuhnya, membuat sosoknya terlihat seolah dikelilingi cahaya lembut. Ia melangkah masuk dengan sopan.
“Assalamu’alaikum,” suaranya tenang. Suara yang tidak keras, tetapi terasa hangat di telinga.
Khadijah mengangkat wajahnya.
“Wa’alaikumussalam.”
Namun ia menyadari suaranya sendiri terdengar lebih pelan dari biasanya. Untuk beberapa detik, Khadijah hanya memandang pemuda itu.
Selama ini ia sering mendengar orang-orang membicarakan Muhammad. Tentang kejujurannya. Tentang bagaimana orang-orang mempercayakan barang dagangan mereka kepadanya.
Tetapi melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda. Posturnya tegap. Bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi seimbang dan kuat. Kulitnya cerah dengan rona kemerahan yang sehat. Wajahnya bersih, memantulkan cahaya pagi dengan lembut. Rambutnya hitam, sedikit bergelombang, jatuh rapi hingga mendekati telinganya.
Namun yang paling membuat Khadijah memperhatikannya adalah matanya. Hitam. Dalam. Tatapannya teduh, seolah membawa ketenangan yang sulit dijelaskan. Tatapan seseorang yang jujur. Dan entah mengapa, Khadijah merasa tidak melihat sedikit pun kepura-puraan di sana.
Angin pagi masuk melalui pintu yang terbuka. Bersamaan dengan itu, Khadijah merasakan aroma lembut yang terbawa bersama langkah pemuda itu. Bukan wangi minyak wangi yang tajam seperti yang biasa dipakai para bangsawan. Aromanya lebih sederhana. Aroma seseorang yang menjaga dirinya dengan baik.
Muhammad kemudian melangkah sedikit lebih dekat, tetapi tetap menjaga jarak yang sopan. Dan yang membuat Khadijah terdiam adalah satu hal kecil yang mungkin tidak disadari orang lain.
Pemuda itu tidak menatapnya berlama-lama. Tatapannya tetap terjaga. Penuh hormat. Seolah ia menjaga batas yang tidak terlihat.
Khadijah tiba-tiba merasa dadanya berdebar sedikit lebih cepat. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Banyak lelaki datang melamarnya. Bangsawan, pedagang kaya, bahkan Kepala-kepala suku. Namun tidak satu pun dari mereka membuat hatinya terusik.
Tetapi pemuda ini… baru saja melangkah masuk ke rumahnya. Dan entah mengapa, hatinya terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang perlahan bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang tenang namun dalam.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun di ruangan itu, sebuah kisah besar baru saja dimulai. Kisah yang kelak tidak hanya mengubah hidup Khadijah. Tetapi juga mengubah sejarah dunia.
Hari keberangkatan kafilah itu akhirnya tiba.
Pagi masih sangat muda ketika unta-unta mulai disiapkan. Karung-karung kulit berisi barang dagangan diikat rapi di punggung mereka. Para pekerja bergerak cepat, sementara para pedagang memeriksa daftar barang yang akan dibawa.
Khadijah berdiri di halaman rumahnya. Ia memperhatikan semua itu dengan tenang, seperti biasanya. Namun matanya beberapa kali berhenti pada satu sosok. Muhammad bin Abdullah.
Pemuda itu memeriksa tali pelana seekor unta, memastikan semuanya terikat kuat. Gerakannya tenang, tidak tergesa. Ia berbicara kepada para pekerja dengan suara lembut, tetapi setiap kata yang diucapkannya langsung dipatuhi.
Tidak ada nada perintah yang keras. Tetapi semua orang mendengarkannya. Khadijah memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu bekerja yang membuatnya tenang. Bukan sekadar ketelitian. Melainkan kejujuran yang tampak tanpa perlu dijelaskan.
Sebelum kafilah berangkat, Muhammad mendekat dan mengucapkan salam dengan hormat.
“Doakan perjalanan kami.”
Khadijah mengangguk pelan.
“Semoga Allah menjaga kalian sepanjang jalan.”
Itu saja.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kata-kata yang berlebihan. Namun setelah kafilah itu bergerak meninggalkan Makkah, Khadijah tetap berdiri di halaman rumahnya lebih lama dari yang ia sadari.
Ia memperhatikan debu gurun yang perlahan menghilang di kejauhan. Seolah ada sesuatu yang ikut pergi bersama rombongan itu. Perjalanan ke Syam bukan perjalanan singkat. Minggu demi minggu berlalu.
Di Makkah, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Para pedagang datang dan pergi. Urusan dagang terus menuntut perhatian Khadijah.
Tetapi di sela kesibukan itu, pikirannya kadang teringat pada satu pertanyaan kecil. Bagaimana perjalanan mereka?
Ia tidak pernah menanyakan hal seperti itu sebelumnya kepada kafilah-kafilah yang ia kirim. Namun kali ini berbeda. Ia hanya tidak ingin mengakuinya.
Beberapa minggu kemudian, kabar itu datang. Kafilah dari Syam telah kembali. Seorang pelayan berlari ke dalam rumah untuk menyampaikan berita itu.
Khadijah yang sedang memeriksa catatan dagangnya berhenti menulis.
“Sudah kembali?” tanyanya singkat.
“Ya, Sayyidah. Mereka sudah hampir sampai ke Makkah.”
Khadijah menutup lembar catatannya.
“Panggil Maisarah setelah mereka tiba.”
Ia berusaha terdengar biasa saja. Tetapi di dalam hatinya, sesuatu bergerak pelan.
Sore itu, Maisarah berdiri di hadapan Khadijah. Perjalanan jauh masih terlihat dari wajahnya. Kulitnya sedikit lebih gelap oleh matahari gurun. Debu perjalanan masih menempel di ujung pakaiannya. Namun matanya bersinar.
“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Khadijah.
Maisarah tersenyum.
“Lebih baik dari yang pernah saya lihat sebelumnya.”
Khadijah menunggu.
Maisarah melanjutkan.
“Barang dagangan kita habis terjual dengan harga yang sangat baik. Bahkan lebih tinggi dari biasanya.”
Itu kabar baik. Sangat baik. Tetapi Khadijah tidak segera menjawab. Ia merasa ada sesuatu yang masih ingin disampaikan Maisarah. Dan benar saja. Maisarah menunduk sedikit, lalu berkata pelan,
“Ya Sayyidah… selama perjalanan itu, saya melihat banyak hal tentang Muhammad bin Abdullah.”
Khadijah tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.
“Saya belum pernah melihat seseorang seperti dia,” lanjut Maisarah.
“Dia jujur dalam setiap transaksi. Bahkan ketika pembeli tidak menyadari harga barang yang sebenarnya lebih tinggi, dia tetap mengatakan yang sebenarnya.”
Maisarah berhenti sejenak, seolah mengingat sesuatu.
“Dan setiap kali kami berhenti untuk beristirahat, dia selalu membantu para pekerja lebih dulu sebelum memikirkan dirinya sendiri.”
Khadijah masih diam. Maisarah kemudian menambahkan sesuatu yang membuat ruangan itu terasa lebih sunyi.
“Di tengah perjalanan, kami bertemu seorang pendeta di sebuah tempat peristirahatan. Pendeta itu memandang Muhammad lama sekali.”
Khadijah mengangkat sedikit alisnya.
“Apa yang dia katakan?”
Maisarah menarik napas.
“Dia berkata bahwa tidak ada seorang pun yang pernah beristirahat di bawah pohon itu… kecuali seorang nabi.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat tenang. Khadijah tidak langsung berbicara. Ia hanya memandang lantai permadani di hadapannya. Pikirannya dipenuhi oleh potongan-potongan cerita yang baru saja ia dengar tentang kejujuran, kebaikan, hingga sikap yang lembut kepada semua orang.
Khadijah perlahan menyadari satu hal yang selama ini ia coba abaikan. Perasaannya kepada pemuda itu tidak lagi sekadar kekaguman. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang tumbuh tanpa ia rencanakan.
Ia, Khadijah binti Khuwailid, perempuan yang selalu berhati-hati dalam setiap keputusan hidupnya, saat itu akhirnya mengakui sesuatu dalam hatinya. Ia memikirkan Muhammad. Lebih sering dari yang seharusnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Khadijah merasa ingin melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Bukan menerima lamaran, tetapi mengirimkan lamaran.
Pada suatu malam, di rumahnya yang luas dan tenang, Khadijah binti Khuwailid duduk sendirian.
Lampu minyak menyala pelan di sudut ruangan. Cahaya kecilnya membuat bayangan lembut bergerak di dinding batu.
Biasanya malam adalah waktu yang ia gunakan untuk menutup hari dengan tenang, memeriksa catatan dagang, merencanakan perjalanan kafilah berikutnya, atau sekadar membaca laporan para pekerjanya.
Namun malam itu, catatan-catatan itu tergeletak tanpa disentuh. Pikirannya berada di tempat lain. Pada seorang pemuda bernama Muhammad bin Abdullah.
Sudah beberapa hari sejak kafilah itu kembali dari Syam. Laporan perjalanan telah selesai ia dengarkan. Keuntungan dagang bahkan lebih besar dari yang ia perkirakan.
Tetapi yang terus teringat olehnya bukan angka-angka itu. Melainkan cerita Maisarah. Tentang kejujuran pemuda itu ketika berdagang. Tentang bagaimana ia memperlakukan pekerja-pekerja kafilah dengan lembut.
Tentang seorang pendeta yang menatapnya lama, lalu mengatakan kalimat yang masih terngiang di telinga Khadijah.
“Tidak ada yang pernah beristirahat di bawah pohon itu kecuali seorang nabi.”
Khadijah menarik napas perlahan. Ia menutup matanya sejenak. Hatinya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Banyak lelaki datang melamarnya selama ini. Semua memiliki kedudukan dan harta.
Merki begitu, tidak satu pun membuat hatinya bergerak. Ia selalu menolak dengan tenang. Bukan karena mereka tidak pantas. Tetapi karena hatinya tidak pernah benar-benar tergerak. Namun kali ini berbeda.
Ia bahkan belum menerima lamaran. Namun nama Muhammad sudah sering hadir dalam pikirannya. Pemuda itu tidak pernah mencoba menarik perhatian. Tidak pernah berbicara berlebihan. Namun justru karena itulah, ia terasa begitu berbeda.
Khadijah membuka matanya kembali. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas. Perasaan ini tidak boleh dibiarkan terus menggantung. Jika ia ingin mengetahui jawabannya, ia harus melakukan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Khadijah merasa ragu. Bukan ragu pada orang lain. Tetapi ragu pada keberaniannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, ia memanggil seorang sahabat yang sangat ia percayai. Nafisah binti Munyah.
Perempuan itu datang tidak lama kemudian. Ia sudah lama mengenal Khadijah, cukup lama untuk mengetahui ketika sahabatnya sedang memikirkan sesuatu yang serius.
Mereka duduk berhadapan di atas permadani. Lampu minyak di antara mereka memancarkan cahaya hangat.
Nafisah memperhatikan wajah Khadijah dengan penuh perhatian.
“Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan,” katanya pelan.
Khadijah tersenyum tipis.
“Apakah aku terlihat seperti itu?”
Nafisah ikut tersenyum.
“Kita sudah saling mengenal terlalu lama.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Khadijah memandang cahaya kecil lampu minyak itu. Lalu akhirnya ia berkata dengan suara yang sangat lembut.
“Apa pendapatmu tentang Muhammad bin Abdullah?”
Nafisah tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu sederhana. Namun cara Khadijah mengucapkannya membuatnya terasa berbeda.
“Dia dikenal sebagai orang yang sangat jujur,” jawab Nafisah akhirnya.
“Orang-orang memanggilnya Al-Amin.”
Khadijah mengangguk pelan.
“Itu juga yang aku dengar.”
Ia terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang lebih pelan lagi, ia berkata, “Aku… memikirkan kemungkinan untuk menikah dengannya.”
Nafisah menatapnya beberapa detik. Bukan karena terkejut. Melainkan karena ia memahami betapa besar kalimat itu bagi seorang perempuan seperti Khadijah.
Perempuan yang selama ini selalu berada pada posisi dipilih. Bukan memilih. Dan malam itu, Khadijah baru saja melakukan sesuatu yang sangat berani. Ia jujur pada hatinya. Nafisah tersenyum lembut.
“Jika itu yang ada di hatimu, maka izinkan aku membantu,” katanya.
Khadijah menatap sahabatnya, kali ini hatinya terasa lebih ringan. Nafisah kemudian berkata, “Biarkan aku berbicara dengannya.”
Dan tanpa mereka sadari, percakapan sederhana di malam sunyi itu akan menjadi awal dari salah satu pernikahan paling agung dalam sejarah manusia.
Pernikahan antara seorang perempuan mulia. Dan seorang lelaki yang kelak akan membawa cahaya bagi seluruh dunia.
Catatan Penulis:
Kisah ini dirujuk dari berbagai kitab sirah klasik, di antaranya Sirah Rasulullah, Sirah Nabawiyah, Ar-Rahiq Al-Makhtum, serta Al-Bidayah wa An-Nihayah.


Tinggalkan Balasan