“Alhamdulillahilladzi anqadzahu min an-naar (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka)” (HR Bukhari, No 1356)
SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Sore hari di Madinah. Angin hangat menyapu pelataran Masjid Nabawi. Seorang anak lelaki duduk di kejauhan, memeluk lututnya.
Dia menunggu seseorang, sosok yang selama ini ia layani, bukan karena perintah, tetapi karena kasih yang sulit dijelaskan, Rasulullah Muhammad SAW.
Namanya Eliyas, anak dari seorang Yahudi Madinah. Usianya menjelang baligh. Dia biasa membersihkan halaman, membawa air, dan terkadang hanya duduk mendengarkan Rasulullah berbicara kepada para sahabatnya.
Dalam setiap pertemuan itu, yang ia rasakan bukan tekanan atau perintah, melainkan kasih sayang yang halus dan tulus.
Namun hari itu, Eliyas tidak datang. Dia terbaring lemah di rumahnya, demam menggigil, napasnya tersengal.
“Apakah… Rasul akan mencariku hari ini?” bisiknya kepada ayahnya, Simon, yang berdiri diam di sisi ranjang.
Pria itu tak menjawab. Simon adalah seorang Yahudi yang keras, penuh prasangka terhadap Islam. Tapi terhadap Eliyas, anak satu-satunya yang masih ia miliki – hatinya menyimpan kasih yang dalam, meski tak pernah diucapkan.
Tak lama berselang, terdengar ketukan lembut di pintu. Ketika dibuka, berdirilah sosok agung itu. Rasulullah SAW, ditemani sahabatnya, datang membesuk Eliyas.
“Aku mendengar anakmu sakit,” ucap Rasulullah lembut.
Simon sedikit terkejut, hingga akhirnya mempersilakan tamunya masuk. Rasulullah duduk di tepi ranjang Eliyas, menggenggam tangannya yang kecil dan pucat.
“Eliyas, apakah engkau ingin masuk Islam?” tanya dia dengan suara penuh kelembutan.
Anak itu terdiam. Ia menatap ayahnya – takut, ragu, dan berharap. Di balik tatapan itu, Rasulullah menangkap gejolak hati seorang anak yang ingin percaya, tapi tak ingin mengecewakan ayahnya.
Simon, yang biasanya dingin, membuka mulutnya perlahan.
“Taatilah Abu al-Qasim… (julukan Nabi Muhammad)”
Air mata Eliyas menetes. Bibirnya pelan-pelan mengucap kalimat itu:
“Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”
Ketika syahadat itu selesai meluncur dari lisannya, wajahnya seakan diterangi cahaya. Dia tersenyum, dan dadanya yang sesak seketika terasa lapang.
Rasulullah SAW pun berdiri, dan sebelum keluar dari rumah, beliau mengucap:
“Alhamdulillahilladzi anqadzahu min an-naar (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka).”
Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA dalam Shahih Bukhari (No 1356). Ia bukan sekadar kisah, melainkan potret akhlak Rasulullah SAW yang begitu luhur, penuh kasih sayang bahkan kepada anak dari kalangan Ahli Kitab.
Rasulullah tak pernah memaksa, namun kehadirannya adalah jawaban. Nabi Muhammad tak berkata banyak, tapi satu kunjungan sanggup menggugah hati yang gersang.
Dalam kehidupan modern saat ini, kisah Eliyas mengingatkan kita bahwa dakwah bukan hanya soal ucapan, melainkan tentang kehadiran, perhatian, dan ketulusan.
Barangkali hari ini, di sekitar kita, ada “Eliyas-Eliyas” lain yang menunggu sentuhan kasih dan kepedulian.
Mungkin bukan dalam bentuk dakwah syariat, tapi lewat pelukan, kunjungan, atau doa. Karena kadang, hidayah turun melalui kasih, bukan debat.
Catatan Redaksi:
Hadits yang menjadi dasar kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari, Bab “Menjenguk Orang Musyrik”, dari Anas bin Malik RA.
Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya menjenguk non-Muslim selama tidak ada tipu muslihat, dan menjadi bentuk nyata kasih sayang Islam kepada semua manusia.


Tinggalkan Balasan