SimpulRakyat.co.id, Khazanah – Di sebuah negeri jauh, hiduplah seorang ahli ibadah bernama Juraij. Ia menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian, mendekatkan diri kepada Allah SWT di tempat ibadah yang ia bangun sendiri.
Ketenangan, keheningan, dan pengabdiannya yang luar biasa membuatnya dijuluki sebagai orang yang sangat saleh.
Suatu hari, ketika Juraij tengah khusyuk dalam salat, ia mendengar suara panggilan yang sangat dikenalnya—ibunya memanggil namanya dari luar tempat ibadah.
Namun, Juraij berada di tengah ibadah yang khusyuk, dan dalam hatinya ia bertanya, “Ya Rabbi, ibuku atau salatku?” Dengan berat hati, Juraij memutuskan untuk tetap melanjutkan salatnya.
Ibunda Juraij pulang dengan hati terluka karena anak yang ia panggil tak kunjung menanggapi. Keesokan harinya, sang ibu kembali mendatangi tempat ibadahnya dan memanggilnya lagi.
Namun, hal yang sama terjadi. Juraij tetap meneruskan salatnya tanpa menghentikan ibadahnya.
Pada kali ketiga ketika ibunya datang tanpa disambut, hatinya semakin kecewa, dan dalam keputusasaan, ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau ambil nyawanya hingga ia melihat wajah perempuan-perempuan pelacur.”
Tak lama setelah kejadian itu, muncul seorang wanita yang merasa iri pada kesalehan Juraij dan ingin menjatuhkannya.
Dengan tipu daya, ia berpura-pura jatuh hati pada Juraij dan menggoda agar Juraij tergoda olehnya. Namun, Juraij menolak godaannya dan terus melanjutkan hidupnya dalam ibadah yang murni.
Namun, perempuan ini tidak menyerah. Ia menyusun rencana lain dan mendekati seorang penggembala. Dari hubungan tersebut, ia akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak.
Setelah bayinya lahir, ia menuduh bahwa anak itu adalah anak Juraij, dan cerita ini menyebar cepat di antara penduduk.
Kehebohan pun terjadi, masyarakat merasa terkhianati oleh Juraij yang selama ini mereka anggap sebagai orang suci.
Murka dan marah, penduduk mendatangi tempat ibadah Juraij, menyeretnya keluar, dan membakar tempat ibadahnya hingga rata dengan tanah.
Kebingungan, Juraij bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian tuduhkan kepadaku?” Mereka menjawab, “Engkau telah melakukan zina dengan wanita ini dan memiliki anak darinya.” Juraij lalu meminta untuk melihat anak tersebut.
Demi membuktikan kebenaran, Juraij berwudu, melakukan salat, dan berdoa kepada Allah untuk menunjukkan yang sebenarnya.
Usai berdoa, ia mendekati bayi itu, lalu memukul perutnya sedikit seraya bertanya, “Siapakah ayahmu, wahai anak kecil?”
Secara ajaib, bayi itu menjawab, “Ayahku adalah si Fulan, seorang penggembala.”
Pengakuan bayi itu mengejutkan semua orang yang menyaksikan. Masyarakat terdiam, wajah mereka berubah dari marah menjadi malu dan menyesal.
Mereka segera memohon maaf kepada Juraij dan menawarkan untuk membangun tempat ibadah yang lebih megah dari emas sebagai permintaan maaf.
Namun, Juraij menolaknya dengan lembut, “Tidak, bangunlah tempat ibadah itu dari tanah seperti semula.”
Kisah Juraij ini menjadi pelajaran mendalam tentang bakti kepada orang tua. Imam Nawawi menjelaskan bahwa dalam kisah ini, Juraij mengalami akibat dari ketidakhadirannya terhadap panggilan ibunya, karena sesungguhnya menjawab panggilan orang tua adalah kewajiban, sementara melanjutkan salat sunnah bukanlah kewajiban.
Kisah Juraij mengajarkan bahwa sebesar apa pun ketekunan dan kesalehan, bakti pada orang tua tetaplah mutlak, karena ridha Allah ada pada ridha orang tua.
Dalam kesalahpahaman, fitnah, dan ujian yang ia alami, Juraij menerima dan menghadapinya dengan keteguhan, namun tetap tak melupakan pentingnya berbakti kepada ibu yang telah membesarkannya.
Sumber: Buku “Kisah Orang-orang Sabar” karya Nasiruddin.


Tinggalkan Balasan