SimpulRakyat.co.id, Sleman – Sebanyak 12 Forum Mitra TJSL desa dan kelurahan di wilayah lingkar PT Semen Tonasa mengikuti studi tiru pengelolaan pertanian, peternakan, dan perikanan terintegrasi di Rejo Farm Integrated Farming, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (10/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengurus Forum Mitra TJSL sekaligus memberikan referensi pengembangan usaha produktif berbasis potensi lahan di desa dan kelurahan sekitar PT Semen Tonasa.
Dalam kegiatan itu, peserta mempelajari berbagai praktik yang diterapkan Rejo Farm, mulai dari pembuatan pupuk organik dan pakan ternak, pertanian organik, peternakan ayam dan pengelolaan telur, hingga budidaya ikan air tawar menggunakan sistem bioflok.
Peserta juga melihat secara langsung proses pengelolaan pertanian dan peternakan sebelum mengikuti pemaparan materi dan sesi tanya jawab mengenai pengembangan usaha pertanian, peternakan, dan perikanan secara terintegrasi.

Senior Manager (SM) of TJSL PT Semen Tonasa Abbas mengatakan, studi tiru tersebut diharapkan membuka peluang penerapan model pertanian terintegrasi di sejumlah wilayah yang memiliki lahan potensial.
Menurut Abbas, terdapat sejumlah forum desa dan kelurahan yang memiliki lahan yang dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian, peternakan, maupun budidaya ikan.
“Ada beberapa forum desa dan kelurahan dengan lahan yang ada di wilayahnya itu sangat-sangat berpotensi untuk diimplementasikan model peternakan, pertanian dan budidaya ikan Rejo Farm,” kata Abbas saat memberikan sambutan.
Abbas juga mengapresiasi manajemen Rejo Farm yang telah menerima rombongan dan berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan usaha pertanian secara terintegrasi.
“Terima kasih banyak atas kesediaan dari manajemen PT Rejo Farm untuk menerima kami sharing ilmu, mudah-mudahan ke depannya bisa ditindaklanjuti dengan kerja sama (pelatihan),” ujarnya.
Sementara itu, pendiri sekaligus Direktur PT Rejo Farm Dimas Christy Kusuma Putra mengatakan, pengembangan Rejo Farm diawali dengan riset yang dilakukan sejak 2012. Rejo Farm kemudian resmi dibuka pada 2024.
“History-nya kita itu riset mulai dari tahun 2012, kemudian di 2024 kita buka Rejo Farm secara resmi,” kata Dimas saat memberikan materi kepada peserta.
Menurut Dimas, salah satu tantangan sektor pertanian adalah meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke bidang tersebut.
Dia menilai, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pertanian secara terintegrasi sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih baik.
“Kenapa di bisnis pertanian itu petaninya enggak maju-maju, terus kita berharap anak-anak muda mau bertani, lho kok petaninya aja masih miskin, pasti mereka enggak mau, kecuali kalau model pertaniannya terintegrasi,” ujar Dimas.
Ia menambahkan, pengelolaan pertanian secara profesional membutuhkan konsistensi, terutama dalam menjaga kuantitas dan kualitas hasil produksi.
“Kunci kesuksesan dalam pertanian profesional hanya ada dua, yaitu konsisten dari segi kuantitas dan kualitas,” katanya.

Setelah kunjungan dan pemaparan di Rejo Farm, rangkaian studi tiru dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi penerapan Lubang Resapan Biopori (LRB) di RW 05 Kampung Mangkuyudan.
Di lokasi tersebut, peserta mempelajari pemanfaatan sisa sampah dapur sebagai bahan pupuk kompos alami untuk mengaktifkan mikroorganisme dan biota tanah, sehingga dapat membantu menjaga kesehatan struktur tanah.

Selanjutnya, peserta mengunjungi bengkel Global Motor Center (GMC) Serangan, binaan Shell Advance, di Jalan KH Ahmad Dahlan.
Di lokasi tersebut, peserta mempelajari pengelolaan usaha bengkel dan berdiskusi dengan pemilik Bengkel GMC Serangan, Anton.
Melalui studi tiru ini, Forum Mitra TJSL diharapkan dapat mengadopsi berbagai praktik yang dipelajari dan menyesuaikannya dengan potensi serta kebutuhan masing-masing desa dan kelurahan di wilayah lingkar PT Semen Tonasa.


Tinggalkan Balasan