SimpulRakyat.co.id, Makassar – Momentum Halalbihalal Wija to Luwu (WTL) yang digelar Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan tahun ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi.

Forum tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi untuk memperkuat arah perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan zikir akbar dalam rangka peringatan Hari Perjuangan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 itu berlangsung di Gedung Graha Pena, Makassar, dengan mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Memperkuat Spirit Perjuangan Provinsi Luwu Raya”.

Sekitar 500 peserta dari berbagai elemen hadir, mulai dari unsur pemerintah, anggota legislatif, kepala daerah, akademisi, tokoh adat, hingga organisasi kemasyarakatan, pemuda, dan mahasiswa.

Ketua panitia, Ahmad Huzaen, mengatakan tingginya partisipasi mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Luwu Raya.

“Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan ikatan emosional masyarakat Luwu Raya masih sangat terjaga,” ujarnya.

Ketua BPW KKLR Sulsel, Hasbi Syamsu Ali, menegaskan kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk menyatukan kembali kekuatan yang selama ini tersebar.

Menurut dia, perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari tokoh masyarakat hingga kalangan akademisi dan pemerintah.

“Kita ingin merajut kembali energi yang terurai, memperkuat kebersamaan, dan membangun sinergi untuk tujuan besar bersama, yakni mempercepat terwujudnya Provinsi Luwu Raya,” kata Hasbi.

Ia juga mengapresiasi kontribusi diaspora Luwu Raya dalam mendukung kegiatan tersebut. Hasbi menyebut kegiatan halalbihalal kali ini sepenuhnya didanai melalui partisipasi masyarakat atau “curun-curun” Wija to Luwu.

“Untuk kegiatan ini, murni dari kontribusi WTL tanpa donasi perusahaan besar. Harapannya, ke depan perusahaan-perusahaan tersebut dapat memberi kontribusi lebih besar bagi perjuangan Provinsi Luwu Raya,” ujarnya.

Dukungan terhadap pembentukan Provinsi Luwu Raya juga disampaikan sejumlah kepala daerah dan tokoh masyarakat yang hadir. Mereka menilai aspirasi tersebut perlu diperjuangkan secara terukur dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Dalam kesempatan itu turut disosialisasikan program “Serbu Luwu Raya”, yakni kampanye donasi publik untuk mendukung pembiayaan perjuangan pembentukan provinsi baru tersebut.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penyerahan naskah akademik pembentukan Provinsi Luwu Raya yang disusun tim Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo kepada Ketua Badan Pekerja Pemekaran (BPP) DOB Provinsi Luwu Raya, Darwis Ismail.

Rektor Unanda, Anas Boceng, mengatakan dokumen setebal hampir 700 halaman itu merupakan hasil kajian komprehensif yang melibatkan sekitar 20 akademisi selama empat bulan.

Kajian tersebut mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari potensi sumber daya, landasan hukum, hingga peluang pembentukan provinsi melalui pendekatan kebijakan nasional.

“Dokumen ini membuka ruang alternatif, tidak hanya melalui pendekatan administratif konvensional, tetapi juga strategi nasional sesuai regulasi,” katanya.

Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi tematik bertajuk “Progres dan Tantangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya” yang dipandu Wakil Sekjen BPP KKLR, Udhi Syahruddin Hamun.

Sejumlah narasumber hadir, antara lain akademisi Universitas Hasanuddin, Hasrullah; Wakil Rektor IV Unanda sekaligus Koordinator Tim Penyusun Kajian Akademik Provinsi Luwu Raya, Abdul Rahman Nur; serta Ketua BPP DOB Luwu Raya, Darwis Ismail.

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya telah mengantongi sejumlah dukungan, termasuk rekomendasi dari pemerintah daerah dan DPRD di wilayah terkait.

Para pembicara sepakat, pembentukan provinsi baru bukan sekadar persoalan administratif, melainkan kebutuhan strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mempercepat kesejahteraan masyarakat.

Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari sektor kelautan, kehutanan, hingga energi, Luwu Raya dinilai memiliki kapasitas untuk berdiri sebagai provinsi mandiri.

Melalui momentum ini, KKLR Sulsel berharap konsolidasi yang terbangun dapat menjadi pijakan dalam mengakselerasi langkah strategis menuju pembentukan Provinsi Luwu Raya.