SimpulRakyat.co.id, Jakarta – Di sebuah sudut diskusi yang hangat, sebuah keputusan mengejutkan dari Pengurus Pusat Muhammadiyah menjadi topik yang mengguncang dunia keagamaan dan politik tanah air.
Pasalnya, Muhammadiyah, salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, memutuskan untuk menerima tawaran konsesi izin usaha pertambangan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amien Rais, menyuarakan ketidaksetujuan terhadap keputusan tersebut.
Pada video yang diunggah di kanal YouTube Amien Rais Official dengan judul “Muhammadiyah, Beristighfarlah,” Amien Rais menyatakan ketidak setujuan tersebut.
“Menerima tawaran Presiden Joko Widodo yang tiga bulan lagi sudah akan lengser, (sama saja menerima) tawaran penuh racun dan bisa,” ujarnya dengan nada tegas.
Amien Rais, yang sebelumnya merasa bangga dengan sikap Muhammadiyah yang menolak tawaran pengelolaan tambang batu bara tersebut, kini merasa kecewa.
“Tawaran pengelolaan tambang batu bara itu ibarat kail berbisa beracun. Itu dijauhi Muhammadiyah, karena sangat sensitif,” ujarnya.
Namun, dalam pandangannya, keputusan untuk menerima tawaran tersebut adalah langkah mundur, dengan mengibaratkan situasi ini sebagai penyerahan kepada sesuatu yang berbahaya.
Lebih lanjut, Amien Rais menegaskan bahwa meskipun Muhammadiyah sudah mengambil keputusan yang bisa merusak, ada harapan untuk membatalkannya.
“Kalau Muhammadiyah mau, kail beracun yang pasti akan merusak Muhammadiyah itu masih bisa dimuntahkan kembali,” katanya dengan nada penuh harapan agar Muhammadiyah bisa menarik kembali keputusan tersebut.
Dengan langkah ini, Muhammadiyah menjadi organisasi kemasyarakatan kedua setelah Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menerima izin tambang.
Langkah ini menandai titik kritis di mana keseimbangan antara kepentingan spiritual dan duniawi menjadi sorotan utama, menambah babak baru dalam dinamika antara organisasi keagamaan dan pemerintah.


Tinggalkan Balasan